Roti Buat Abang (T-362)
#tantangangurusiana'
.
Sebungkus roti isi keju yang terletak di meja belajar putra tertuaku membuatku jadi heran. Siapa yang meletakkan kue ini di meja belajar Nizam ? Nizam adalah putra tertuaku. Hari ini sudah dua puluh hari dia tidak bersama kami. Pilihan sekolahnya di SMAN Plus Riau membuat dia harus tinggal di asrama.
Sebenarnya tidak ada paksaan bagi siswa untuk tinggal di asrama. Jujur aku lebih senang dia mengikuti pembelajaran secara daring. Tapi keinginannya yang kuat minta izin masuk asrama membuatku tidak ingin mengecewakannya.
Hari-hari pertama dia masuk asrama sungguh hari terberat bagiku. Aku selalu kepikiran dirinya. Apalagi kebijakan sekolah yang tidak membolehkan siswa membawa alat komunikasi membuat aku tidak bisa menghubunginya.
Bersyukur pembimbing asrama yang kebetulan orang Dumai juga membuatku bisa tahu aktivitas Nizam di sana. Mendengar dia sehat-sehat dan senang di sana membuatku lega.
Tapi hati ini tetap rindu. Sering aku masuk ke kamarnya dan duudk di meja belajarnya. Menatap figura yang berisi fotonya di meja belajar.
Seperti siang ini aku kembali memasuki kamarnya dan dududk di meja belajarnya. Cuma hari ini ada yang beda. Ada sebungkus kue di meja belajarnya. Kue isi keju adalah kesukaan Nizam.
Tanpa aku sadari tanganku membuka bungkus kue dan tak lama kue itu berpindah ke perutku. Enak. Aku berlalu dari kamar setelah kue berpindah ke perutku.
*****
“Mama, kue yang di meja belajar Abang Nizam, mana ?” putri kecilku bertanya sore itu.
Aku yang sedang menyapu rumah mengehentikan aktivitasku. Aku teringat kue yang tadi siang aku makan.
“Maaf Nak, kuenya mama makan.” Aku menatap putriku dengan rasa bersalah.
“Tapi itu ka kue buat Abang Nizam, Ratu sengaja minta belikan ke papa. Itu untuk Abang Nizam, Mama.” Jawab Ratu polos.
“Tapi Abang Nizamnya kan tidak di rumah. Abangkan di asrama.” Aku menjawab sambil mengusap kepalanya.
Tiba-tiba putriku menangis. Dia memelukku erat.
“Ratu kangen sama Abang, Mama. Abang kapan pulangnya ?” Dia bertanya di sela isak tangisnya.
Aku terdiam. Aku tidak menyangka selama ini kalau ternyata putri kecilku juga memendam rasa yang sama sepertiku. Rindu kepada abangnya.
Selama ini aku melihat dia selalu ceria. Ternyata anak-anak punya cara tersendiri untuk mewujudkan rasa rindu buat saudaranya.
Aku merasa salut orang tua yang ikhlas melepas anak ke asrama atau pesantren. Tidak mudah menghilangkan rasa rindu kepada anak. Perlu keihklasan dan
Konten pada website ini merupakan konten yang di tulis oleh user. Tanggung jawab isi adalah sepenuhnya oleh user/penulis. Pihak pengelola web tidak memiliki tanggung jawab apapun atas hal hal yang dapat ditimbulkan dari penerbitan artikel di website ini, namun setiap orang bisa mengirimkan surat aduan yang akan ditindak lanjuti oleh pengelola sebaik mungkin. Pengelola website berhak untuk membatalkan penayangan artikel, penghapusan artikel hingga penonaktifan akun penulis bila terdapat konten yang tidak seharusnya ditayangkan di web ini.
Laporkan Penyalahgunaan