Lili Herawati

Belum menuliskan informasi profilenya.

Selengkapnya
Navigasi Web

Mulai Dari Nol (T-376) part 4 tamat

#tantangangurusiana

Setelah menjemput semua anak-anak dari sekolah aku menitipkan mereka di tempat mama. Aku segera menuju kafe tempat kami bertemu. Aku melihat Naira sudah datang duluan. Senyumnya nampak sangat cerah. Wanita naif itu mungkin beranggapan kalau aku membri izin ke Mas Seno untuk menikahinya.

Mas Seno menyusul tidak lama kemudian. Kami duudk bertiga. Kafe siang itu nampak sedikit sepi. Aku sengaja memilih jam segini karena biasanya tamu kafe ramai menjelang sore.

“Kenapa Mbak menyuruh kami ke sini ?” Naira nampak bertanya tak sabar.

“Sabar Naira, ada seorang lagi yang sedang kita tunggu.” Aku menjawab pertanyaan Naira cuek.

Seorang wanita melangkan ke tempat kami. Wanita yang nampak cantik dengan stelan blazer kerjanya. Dia tersenyum ke arahu dan Mas Seno. Mas Seno nampak kaget melihat tamu yang bari datang. Dia Kayla. Kayla ada temanku dan Mas Seno semasa di kampus dulu.

Kayla kuliah di fakultas hukum. Setamat kuliah Kayla bergabung di kantor pengacara papanya. Setelah papanya meninggal Kayla mengambil alih kantor itu. Kayla pengacara yang cukup disegani.

“Mas aku sengaja mengundangmu, Naira dan Kayla ke sini sehubungan dengan keinginanmu mau memperistri Naira.” Aku berhenti berbicara. Aku merasa ada yang sesak di dadaku.

“ Kamu harus kuat Andria. Kamu harus kuat.” Batinku.

“Tapi sebelumnya aku mengingatkan kamu tentang perjanjian kita.” Aku mengeluarkan selembar fotokopi kertas dari dalam tasku.

“Ini adalah perjanjian yang kita buat setelah aku melahirkan Setyo anak pertama kita. Aku rasa kamu tidak lupa isinya. Karena kamu yang buat surat ini. Surat yag asli ada pada Kayla.” Aku berkata sambil menyerahkan fotocopi surat itu pada Mas Seno.

Laki-laki itu nampak terdiam . Wajahnya nampak pucat setelah menerima surat itu.

“Di dalam surat itu jelas tertulis kalau diantara kita ada menikah lagi atau meminta cerai duluan, maka seluruh harta baik bergerak atau tak bergerak harus di pindah namakan ke anak-anak.” Aku berhenti bicara sesaat.

“Kamu masih ingat, Mas?” Aku bertanya sambil menatap Mas Seno.

“Ya... Kamu benar, Andria. Aku masih ingat.” Laki-laki itu menjawab pelan.

“Kalau begitu, kamu silahkan tanda tangani pengalihan seluruh aset kita kepada anak-anak.” Aku menyodorkan semua berkas yang diberikan Kayla kepadaku ke Mas Seno.

“Tunggu Mas. Kalau semua dialihkan ke anak-anakmu, terus yang tinggal di kamu apa, Mas?” Naira mencegah Mas seno yang mau menanda tangani pemindahan nama semua aset kami.

“Kita bisa mulai dari awal Naira.” Mas Seno berkata pelan.

“Tidak bisa begitu dong, Mas. Aku tidak mau memulai dari awal. Aku tidak mau hidup susah.” Perempuan itu berucap cepat.

“Naira.... Kamu harus tahu bahwa Mas Seno bisa seperti sekarang, karena aku yang ikut berjuang bersamanya. Kalau kamu memang mencintai Mas Seno silahkan berjuang dari awal denganya seperti aku dulu.” Aku berkata dengan suara yang tegas.

“Tapi tidak adil Mas Seno tidak mendapatkan sedikitpun.” Perempuan itu kembali protes.

“Kamu tidak berhak protes. Ini adalah perjanjian antara aku dan suamiku. Kamu tidak berhak ikut campur.” Aku berkata sinis kepada Naira.

“Naira, Mas minta maaf. Andria benar. Mas harus mematuhi perjanjian yang sudah Mas buat.” Mas Seno berusaha memberi pengertian pada Naira.

Naira tercenung. Kalau semua aset diberikan kepada anak Mas Seno, bagaimana kehidupan aku nantinya ? Perempuan itu tercenung. Dia selama ini selalu mengejar Mas Seno karena laki-laki itu sangat mapam. Naira berharap Mas seno dapat membahagiakan dia, anaknya dan dua orang uanya dengan harta laki-laki itu.Naira merasa salah sudah mengejar laki-laki itu.

“Mas, aku mohon maaf. Aku tidak sanggup memulai dari awal semuanya denganmu. Aku tidak mau kamu nikahi. Kembalilah ke istri dan anakmu.” Naira berkata pelan.

Mas Seno nampak terkejut. Dia tak menyangka kalau Naira berubah pikiran setelah tahu semua aset akan diserahkannya kepada anak dari istri pertama.

Andria benar, Naira tidak cocok untuknya. Dia adalah perempuan yang sangat meterilistis.

“Aku pergi, Mas. Lupakan semua yang sudah aku perbuat untukmu.” Naira berkata sambil pergi meninggalkan tempat itu.

Suasana sepi setelah Naira pergi. Mas Seno memandangku dan Kayla.

“Maafkan aku, Andria. Kamu benar Naira hanya mencintai haraku.” Laki-laki itu mantaku menyesal.

Aku tersenyum. Dari awal aku tahu, suamiku terjebak oleh sikapnya yang terlalu baik kepada semua orang. Aku bejanji untuk lebih mendampinginya. Aku maafkan kekhilafannya. Kaena aku tahu tidak ada manusia yang sempurna.

tamat

DISCLAIMER
Konten pada website ini merupakan konten yang di tulis oleh user. Tanggung jawab isi adalah sepenuhnya oleh user/penulis. Pihak pengelola web tidak memiliki tanggung jawab apapun atas hal hal yang dapat ditimbulkan dari penerbitan artikel di website ini, namun setiap orang bisa mengirimkan surat aduan yang akan ditindak lanjuti oleh pengelola sebaik mungkin. Pengelola website berhak untuk membatalkan penayangan artikel, penghapusan artikel hingga penonaktifan akun penulis bila terdapat konten yang tidak seharusnya ditayangkan di web ini.

Laporkan Penyalahgunaan
search

New Post