Rania (Part 2 ) tamat
#tantangangurusiana
T-380
Pagi ini aku kembali mengunjungi komplek tersebut. Aku mencari tempat yang bisa mendapatkan informasi mengenai rumah yang dikunjungi suamiku. Pandanganku tertuju ke rumah yang berada di sebelah rumah tersebut.
Rumah yang menyediakan jasa loundry tersebut berada pas di samping rumah yang akan aku selidiki. Seorang perempuan dengan tubuh yang subur mendatangiku. Aku berpura-pura mau menjadi pelanggan loundynya.
Perempuan itu cukup ramah. Dari dia aku mendapatkan informasi kalau yang menempati rumah di sebelah adalah seorang ibu dengan anak gadisnya. Anak perempuan ibu tersebut bekerja di sebuah kafe. Namanya Tasya.
Dari perempuan itu juga aku mengetahui kalau Tasya baru menikah dengan seorang bos yang sangat kaya. Mereka tidak tinggal di situ. Nama komplek tempat tinggal Tasya yang disebutkan ibu tersebut membuatku geram, sebuah komplek perumahan elit. Bahkan si Ibu memberiku alamat rumah Tasya karena dia pernah diundang ke sana waktu menaiki rumah baru mereka.
Aku berusaha menahan emosi mendengar cerita ibu tersebut. Sesampai di mobil air mataku tidak terbendung lagi. Semuanya tumpah menganak sungai. Hatiku sakit sekali. Aku tidak menyangka kepercayaan yang aku berikan kepada suamiku dikhianatinya. Aku harus mencari bukti sebelum menanyakan ke Mas Danu kelakuannya.
****
Malam ini Mas Danu kembali tidak pulang. Telepon yang aku terima sore tadi menyebutkan kalau dia mau keluar kota. Tapi hatiku berkata lain. Aku tidak sabar menunggu pagi. Sebuah rencana terlintas di kepalaku.
Aku sangat mengenal komplek perumahan yang ditempati Mas Danu dengan istri mudanya. Beberapa orang sahabatku tinggal di sana. Aku sering keluar masuk komplek tersebut.
Mobilku terpakir manis di garasi Anindya. Anindya dan suaminya sudah menunggu kehadiranku. Pelukan dari Anindya membuatku menangis. Anindya tahu bagaimana aku dan suamiku berjuang dari awal sehingga kami bisa sukses sampai sekarang.
“Ayok Rania kami akan mengantarmu ke rumah Tasya.” Anindya membimbing tanganku.
Dengan menggunakan mobil Anindya kami menuju ke rumah Mas Danu. Rumah Mas Danu terletak di blok yang paling kiri. Mobil berhenti di sebuah rumah yang sangat megah. Aku menelan ludah. Rumah ini jauh lebih besar dan lebih megah dari rumahku. Keterlaluan Mas Danu.
Satpan rumah sempat menghalangi kamu untuk jumpa majikannya. Untunglah Anindya kenal dengan satpam tersebut. Anindya mengatakan kalau dia sahabat nyonya rumah. Satpam membukakan gerbang untuk kami. Seorang ART menyambut kedatangan kami. Kami dipersilahkan masuk ke ruangan tamu. Jantungku berdetak lebih cepat, sedih kesal dan beraneka macam rasa berkecamuk di dadaku.
“Anda mau mencari saya ?” Suara merdu seorang perempuan muncul dari arah belakang kami. Aku dan Anindya menoleh. Seorang perempuan muda dengan wajah yang sangat cantik menatap heran kepada kami.
Tiada cela di wajahnya. Kulitnya putih. Hidungnya mancung dengan bibir yang sangat menawan. Pantas suamiku meninggalkanku, karena dari segi fisik perempuan ini sangat jauh di atasku.
Belum sempat kami menjawab terdengar suara laki-laki. Suara yang sangat aku kenal, suara suamiku.
“Siapa yang datang, Sayang ?” Suara laki-laki itu terhenti sewaktu bertemu pandang denganku. Wajahnya nampak sangat gugup.
“Rania... Kamu kenapa bisa ada di sini ?” Dia bertanya dengan suara tergagap.
“Tega kamu, Mas. Tega kamu mengkhianatiku. Aku tunggu kamu di kantor sekarang.” Aku tarik tangan Anindya meninggalkan rumah itu.
Walaupun hatiku sangat sakit aku tidak bisa mengeluarkan kata-kata makian buat suamiku dan istri mudanya. Karena aku tidak terbiasa memaki atau mengumpat.
*****
Dengan diantar Anidya aku langsung ke kantor suamiku. Di perjalanan aku sempat menelpon pengacara keluarga kami. Beruntung walaupun aku tidak bekerja di kantor tetapi aku masih sering ke kantor. Karena untuk hal-hal tertentu Mas Danu sering meminta pendapatku.
Aku langsung menuju ruang direktur utama. Pengacaraku sudah menunggu di sana. Beberapa surat yang aku minta sudah disiapkan olehnya.
Mas Danu datang ke kantor. Tasya ikut bersamanya. Beberap karyawan nampak memandang sinis kepada Tasya. Ternyata pernikahan Mas Danu sudah tercium oleh beberapa karyawan, tapi mereka belum bearani bercerita kepadaku.
Aku berusaha setenang mungkin. Melihat aku duduk dikursi direktur utama, Mas Danu duduk di kursi tamu yang terletak di depanku.
Aku mengambil salinan sebuah surat di depanku dan memberikannya kepada Mas Danu.
“Kamu masih ingat isi surat ini, Mas? Surat yang kamu buat sendiri, idenya dari kamu.” Aku berdiri dan memberikan surat itu kepadanya.
Mas Danu menerima surat itu. Wajahnya nampak sangat pucat.
“Sekarang kamu tinggal tanda tangani semua berkas peralihan aset atas nama anak-anak. Dan mulai hari ini aku yang menggantikan posisimu. Rumah yang kamu tempati dengan istrimu juga belum lunas. Segera kosongkan.” Aku berkata dengan suara datar.
“Ada apa ini ? Ada apa ini, Mas?” Tasya bertanya heran.
Aku menatap perempuan itu. Aku tidak meyangka wajah cantik yang dimilikinya hanya digunakan untuk menyakiti perempuan lain.
“Kamu.... Apa kamu tidak mengetahui kalau suami kamu sudah punya istri dan anak. Kenapa kau merebut suami orang ?” Aku berjata tajam.
“Aku tidak merebut suami, Mbak. Dia yang datang padaku.” Jawabnya membela diri.
“Aku mencintai suami, Mbak. Aku tahu dia sudah beristri. Aku rela kok dijadikan isri kedua.” Dia berkata tanpa rasa bersalah.
“Ayo Mas tanda tangani surat itu.” Aku berkata tajam.
“Apa tidak ada jalan lain, Rania? “ Mas Danu menatapku penuh harap.
“Ada ... Kalau kau menalak perempuan itu sekarang, aku bisa berubah pikiran. Silahkan kau pilih, aku dan anak-anakmu atau perempuan itu ?” Aku berkata pelan sambil menunjuk Tasya.
Tasya memegang erat tangan Mas Danu.
“Aku tidak mau ditalak, Mas. Aku mencintaimu.” Tasya merengek ke Mas Danu.
Mas Danu diam. Dia nampak berpikir keras. Aku sudah bisa membaca pikirannya, aku yakin dia pasti akan memilih Tasya.
“Maafkan aku, Rania. Aku memilih Tasya.” Laki-laki itu berkata pelan seperti dugaanku. Mas Danu mengambil surat yang sudah disiapkan Mas Burhan, pengacaraku dengan tangan mengigil dia menandatangani beberapa berkas yang disediakan pengacara.
Peralihan semua aset atas nama anak-anak kami berjalan lancar. Semua sekarang milikku dan anak-anak.
“Kamu kan tahu Mas, Aku tidak suka dikhianti dan diduakan. Kamu tunggu aku dipengadilan. Sekarang kamu dan istrimu keluar dari kantorku.” Aku berkata tegas.
“Kenapa kamu mengambil semuanya dari Mas Danu?” Perempuan cantik itu tiba-tiba protes kepadaku.
“Aku dan Mas Danu punya perjanjian di atas kertas. Siapa diantara kami berkhianat maka dia harus merelakan seluruh kekeyaan kami buat putra-putri kami. Karena Mas Danu telah mengkhianatiku maka seluruh aset yang ada termasuk rumah yang kamu tempati jadi miliku.” Aku menjawab tajam.
“Tapi ini kan perusahaan Mas Danu.” Tasya protes.
“Perusahaan ini aku dan Mas Danu yang kelola dari nol. Kamu hanya menikmati kesuksesan Mas Danu. Sekarang kalau kau mencintainya silahkan kau juga berjuang dari awal dengannya. Seperti dulu aku mendampinginya.” Aku berkata tajam.
“Aku rasa tidak ada lagi yang dibicarakan. Silahkan tinggalkan tempat ini. Kita jumpa di pengadilan.” Aku berkata cuek.
“Mas, kamu harus perjuangkan perusahaanmu, Mas. Aku tidak mau hidup miskin.” Rengekan suara Tasya terdengar.
Hatiku sakit melihat Mas Danu membujuk Tasya. Selama menikah dengannya aku tidak pernah diperlakukan seperti itu. Laki-laki itu lebih memilih menandatangani seluruh peralihan aset daripada
“Tasya kita bisa mulai dari awal. Aku yakin kita bisa berhasil.” Suara Mas Danu terdengar membujuk.
Tasya nampak sangat kesal. “Pokoknya aku tidak mau hidup susah.” Tasya menjerit.
“Kau tidak akan hidup susah, Tasya.” Mas Danu kembali membujuk. Aku jijik melihat Mas Danu yang bucin terhadap istrinya. Aku akan lihat apa kau bisa membangun usaha tanpaku.
“Aku akan buktikan kepadamu Rania. Aku dan Mas Danu akan bangun perusahaan yang lebih besar dari ini. Terima kasih kamu sudah menjadikan aku satu-satunya istri Mas Danu. Aku tidak sabar menunggu surat cerai kalian.” Perempuan itu memegang erat tangan Mas Danu.
Mas Danu bergandengan tangan dengn istrnya keluar dari ruanganku. Dia menatapku lama sebelum meninggalkan ruangan itu. Tasya tersenyum mengejek kepadaku. Senyum kemenangan kalau Mas Danu lebih memilih dirinya daripada aku.
Aku memandangi kepergian calon mantan suamiku dengan istri barunya. Tak ada rasa lagi di hati ini untuknya. Hilang tanpa jejak. Pengkhianatannya mengikis rasa cinta di hatiku.
tamat
Konten pada website ini merupakan konten yang di tulis oleh user. Tanggung jawab isi adalah sepenuhnya oleh user/penulis. Pihak pengelola web tidak memiliki tanggung jawab apapun atas hal hal yang dapat ditimbulkan dari penerbitan artikel di website ini, namun setiap orang bisa mengirimkan surat aduan yang akan ditindak lanjuti oleh pengelola sebaik mungkin. Pengelola website berhak untuk membatalkan penayangan artikel, penghapusan artikel hingga penonaktifan akun penulis bila terdapat konten yang tidak seharusnya ditayangkan di web ini.
Laporkan Penyalahgunaan