Semua Kita Bersaudara (T-363)
#tantanagngurusiana
Semua mata siswa kelas VII.B memandang Ibu Dewi tidak berkedip. Ibu wali kelas yang sangat tegas dan berwibawa itu memberi arahan kepada anak didiknya sehubungan dengan akan diadakannya lomba kebersihan kelas. Lomba ini diadakan dalam rangka meyambut hari ulang tahun sekolah. Ibu Dewi membagi tugas setiap anak yang ada di kelas. Beliau membagi semua siswa di kelas menjadi empat kelompok. Tiap kelompok beranggotakan tujuh atau delapan anak. Tugas untuk setiap kelompok tidak sama. Salah satu murid nya yang bernama Cut tampak tidak senang karena dia satu kelompok dengan Ayu.
“Ibu Dewi, saya tidak mau sekelompok dengan Ayu.” Suara Cut terdengar tiba-tiba.
“Kenapa, Cut ?” Ibu Dewi bertanya heran.
Cut diam tak bersuara. Dia tak berani menatap wajah Ibu Dewi. Semua anak di kelas itu diam. Yah... mereka memang tidak menyukai Ayu, mereka semua menjauhi Ayu karena perbedaannya dengan murid yang lain. Ayu berbeda dengan anak yang lain, kulitnya hitam dan rambutnya keriting. Wajahnya sangat kontras dengan siswa perempuan lainnya. Mata Ibu Dewi menatap tajam anak asuhannya. Semua menundukan kepala, mereka takut akan dimarahi oleh Ibu Dewi.
“Cut, kamu tidak boleh seperti itu. Ayu itu sama seperti kita semua. Apa yang salah dengan penampilan nya? Ayu merupakan anak yang baik. Dia tidak pernah mengejek mu bukan? Bagaimana kalau kamu di posisi Ayu?” Ibu Dewi bertanya kepada Cut. Cut tak menjawab, dia hanya menundukan kepala.
“Tidak boleh ada yang bertukar kelompok !” Ibu Dewi berkata tegas.
“Sekarang silahkan setiap kelompok mulai bekerja sesuai dengan tugasnya masing-masing.” Lanjut Ibu Dewi memberi perintah.
Tanpa dikomondo untuk yang kedua kalinya anak-anak mulai bekerja. Waktu terus berjalan dengan cepat, matahari pun makin bersinar dengan terang. Anak-anak sudah berkeringat dan kepanasan, tetapi mereka semua masih bekerja dengan semangat. Mereka bergotong royong membersihkan kelas dan mendekorasi kelas agar kelas mereka bisa memenangkan lomba sebagai kelas terbersih dan terindah.
Kelompok Cut mendapatkan tugas membersihkan lantai teras dan mendekor bagian luar kelas. Ayu nampak menyapu dan setelah selesai dia meletakkan sapu yang ia pegang tadi ke dinding kelas, ia berniat untuk beristirahat sebentar. Anak itu duduk di kursi dan memperhatikan teman-temanya yang masih membersihkan kelas.
“Yu, bantuin kita buang sampah dong. Jangan duduk saja. ” ujar Lia saat melihat Ayu sedang duduk memperhatikan teman-temanya bekerja.
“Dasar Si Hitam dari Papua, manja, pemalas. Menyapu sedikit aja sudah capek.” Cut mengomeli Ayu.
“Tapi saya capek Cut. Saya tadi sudah menyapu.” Jawab Ayu pelan.
“Ayu Si Hitam dari Papua yang pemalas.” Kembali Cut mengomel.
“Jangan panggil saya Si Hitam dari Papua dong, Cut. Nama saya kan Ayu.” Ayu nampak tersinggung.
“Yah, tapi kamu kan dari Papua, kulitmu hitam.” Cut berkata sambil mengejek.
Lia yang tegak disamping Cut tertawa. Anak itu menatap Ayu dan berkata, “Cuma menyapu dan mengepel saja capek, anak-anak lain lebih capek tapi tidak ada yang mengeluh. Dasar kamu memang Si Hitam dari Papua.”
Ayu menatap Lia dan Cut dengan tatapan sedih. Dia tidak menyangka kedua temannya itu sangat tidak suka kepadanya. Ayah Ayu memang berasal dari Papua Barat dan ibunya dari Jawa Timur. Tapi Ayu lebih mirip dengan ayahnya. Banyak yang tidak suka padanya, Ayu merasa sangat sedih.
Tiba-tiba Ayu menangis. Suara tangisannya yang keras membuat Ibu Dewi mendekati mereka.
“Kalian ngapain sih ribut-ribut? Ayu kenapa menangis ?" Ibu Dewi bertanya kepada Ayu.
Dodi yang mengetahui peristiwa itu menceritakan seluruh kejadiannya kepada Ibu Dewi. Ibu Dewi manggut-manggut mendengarnya. Ibu Dewi menasehati Cut dan Lia.
"Cut, apa kamu tidak ingat apa yang Ibu ucapkan? Kita semua itu sama, tidak boleh membeda-bedakan satu sama lain." Ibu ayu kembali menasehati. Beliau menyuruh Cut dan Lia minta maaf.
Sewaktu anak-anak istirahat di kelas Ibu Dewi menasehati anak-anak. Walaupun Ayu berasal dari Papua, tidak boleh diejek. Papua adalah bagian dari NKRI. Kita harus bersatu, tidak boleh saling ejek.
Anak-anak nampak terdiam. Mereka nampak menyesal. Mereka sudah berjanji kepada Ibu Dewi untuk tidak mengejek dan mengasingkan Ayu lagi. Teman sekelas adalah saudara kita, kita harus saling menyayangi, nasehat Ibu Dewi.
Setelah cukup beristirahat mereka melanjutkan pekerjaan masing-masing. Anak-anak bekerja dengan semangat. Lia dan Cut sudah nampak berteman dengan Ayu. Ibu Dewi tersenyum melihat anak-anak didiknya, ia senang anak-anak didiknya menjadi akur. Ia berharap itu akan bertahan seterusnya dan muridnya tidak memilih teman hanya dari penampilan nya.
Setelah hampir empat jam mereka bekerja sama, kelas nampak bersih dan rapi. Ibu Dewi bangga kepada anak-anaknya yang sudah bekerja sama. Setelah membersih kan keles Lia dan cut pun pergi kekantin dan mengajak ayu bersama.Setelah Lia,cut,dan Ayu selesai dari kantin mereka pun pergi ke kelas untuk mempersiapkan diri untuk lomba ulang tahun sekolah. Mereka semua diizinkan untuk pulang.
Keesokannya harinya mereka semua tampak sudah berada di kelas. Mereka melihat-lihat lagi jika ada yang salah atau tampak tidak bersih di kelas nya sebelum mendapat giliran untuk dinilai. Setelah semua tampak sudah bagus dan bersih, kelas itu menunggu giliran mereka.
Setelah beberapa saat akhirnya kelas mereka mendapat giliran untuk dinilai. Mereka semua tampak gugup, terutama Cut, Ayu, dan Lia. Mereka sangat berharap akan memenangkan lomba itu.
" Aku sangat gugup, aku sangat ingin kelas ini menang. Ibu Dewi pasti akan bangga." Ucap Cut.
" Benar, aku pun merasakan yang sama. Kita berdo'a saja yang terbaik." Lia setuju dengan Cut.
" Tetapi bagaimana pun aku akan menerima hasilnya walau bukan kelas kita pemenangnya. Masih ada kesempatan untuk tahun depan bukan?" Cut kembali berucap pada temannya.
" Kalian jangan khawatir, kita pasti akan menang. Aku sangat yakin, aku merasa kelas kita lah yang sangat semangat dan bagus dalam merias dan membersihkan kelas." Ayu meyakinkan temannya.
Penilaian kelas mereka pun telah selesai, meninggalkan Ayu, Lia, Cut dan murid lainnya yang sedang gugup juga. Tetapi mereka harus menunggu sampai minggu depan untuk mengetahui hasil pengumuman pemenangnya. Setiap harinya anak-anak Ibu Dewi terus berdo'a agar kelas mereka menjadi pemenang. Tak terkecuali Ibu Dewi pula, ia ingin melihat anak muridnya senang dengan kerja keras mereka.
Dan tibalah hari yang ditunggu-tunggu oleh satu sekolah. Hari itu merupakan hari pengumuman pemenang lomba antar kelas. Ibu Dewi yang saat itu sedang melaksanakan pembelajaran bersama anak-anak didiknya mendengar pengumuman agar semua murid berkumpul dilapangan. Pemenang akan diumumkan. Sebelum keluar, Ibu Dewi berkata pada muridnya.
"Apapun hasilnya kalian harus terima itu, kalian sudah bekerja keras. Meski kelas kita tidak menjadi pemenang, Ibu bangga pada kalian semua. Kalian ber sama-sama untuk membuat kelas ini menjadi bersih dan bagus. Pasti kalian juga akan nyaman belajar nya. " Ibu Dewi berkata sambil tersenyum pada anak-anak didiknya. Setelah itu mereka semua pergi menuju lapangan.
"Baik anak-anak, jika semua sudah ada disini, Ibu akan mengumumkan kelas yang memenangkan perlombaan antar kelas ini. Kalian jangan khawatir, karena untuk pemenang nya setiap tingkat kelas ada. Pertama-tama ibu akan mengumumkan untuk yang kelas 7." Kepala sekolah memberi penjelasan dan bersiap untuk mengumumkan.
"Untuk kelas 7, yang memenangkan perlombaan ini adalah kelas VII. B ! Selamat ya, kelas kalian benar-benar bagus dan rapi, Ibu senang melihat nya." Kepala sekolah mengumumkan juara lombanya.
Seluruh murid kelas itu terkejut dan merasa sangat senang. Mereka memenangkan perlombaan itu karena kerja keras mereka. Mereka amat sangat senang, tentunya juga Cut, Lia, dan Ayu. Akhirnya do'a mereka semua dikabulkan. Persatuan bisa menghasilkan kekompakan dan berbuah kepada kemenangan
Konten pada website ini merupakan konten yang di tulis oleh user. Tanggung jawab isi adalah sepenuhnya oleh user/penulis. Pihak pengelola web tidak memiliki tanggung jawab apapun atas hal hal yang dapat ditimbulkan dari penerbitan artikel di website ini, namun setiap orang bisa mengirimkan surat aduan yang akan ditindak lanjuti oleh pengelola sebaik mungkin. Pengelola website berhak untuk membatalkan penayangan artikel, penghapusan artikel hingga penonaktifan akun penulis bila terdapat konten yang tidak seharusnya ditayangkan di web ini.
Laporkan Penyalahgunaan