Aku Berhak Bahagia (Part 2-Tamat) T-395
#tantangangurusiana
Sepulang bekerja belum tentu aku bisa beristirahat. Pekerjaan rumah sudah menunggu. Mas Randi tidak pernah punya inisiatif membereskan rumah. Rumah selalu berantakan. Karena Mas Randi sering membawa teman-temannya nongkrong di rumah kalau aku lagi bekerja.
“Melda...,” suara teriakan mengagetkan aku dari lamunan.
Laki-laki yang barusan ada di pikiranku berteriak dengan suara keras. Kebiasaan yang tidak pernah hilang dari Mas Randi. Aku sering malu dengan tetangga karena kelakuannya.
“Melda kamu dengar nggak aku panggi ?” Laki-laki itu sudah nongol di depanku.
“Mas bisa nggak sich jangan berteriak-teriak. Seperti di hutan saja” Protesku.
“Kamu mau mengatur-ngatur aku?. Jangan mentang-mentang kamu sudah kerja kamu berbuat seenaknya.” Seperti yang sudah aku bayangkan kata-kata itu meluncur dari mulutnya.
“Kamu mau jadi istri durhaka ? Berani sekarang ya kami melawan suami !” lanjutnya.
Kalimat itu selalu keluar dari mulutnya setiap aku protes akan sikapnya. Aku terdiam. Aku sadar sorga istri terletak pada suaminya. Tapi apakah suami seperti Mas Randi bisa menjanjikan sorga untukku ?
Aku hanya diam. Masalah pasti akan berlarut kalau aku menjawab. Aku juga yang akan malu dengan tetangga samping kiri dan kanan kalau laki-laki di depanku ini mengeluarkan bahasa aslinya. Segala macam nama binatang akan keluar dari mulutnya.
“Aku besok perlu uang lima juta, Melda. Aku mau buat usaha sama temanku.” Mas Randi mengutarakan keinginanya.
“Aku berencana mau bertenak lele. Jadi kami patungan biayanya.” Dia berbicara dengan semangat.
Lima juta ? Aku kaget. Dari mana uang sebanyak itu aku dapatkan. Tabunganku sudah habis. Dua bulan yang lalu Mas Randi meminta uang dengan jumlah yang sama. Alasannya juga sama untuk usaha. Usaha yang tidak pernah tampak hasilnya.
Kalau aku bertanya bagaimana progress usahanya yang ada dia akan mengamuk dengan mengeluarkan kata-kata kotornya
Aku memilih diam. Kepalaku terasa berdenyut. Suamiku orang yang emosian kalau kenginannya ditolak. Tapi kalau aku iyakan, aku dapat uang darimana ?
“Aku tidak punya uang, Mas ?” Aku mejawab pelan
“Kamu kan bisa pinjam sama bosmu, Mbak Laras.” Dia menjawab cepat.
“Tapi pinjamanku dengan Mbak Laras masih banyak, Mas. Aku segan mau minjam lagi.” Aku berkata pelan. Aku berusaha merendahkan suaraku, karena aku paham laki-laki ini tak segan-segan melakukan kekerasan fisik kalau hatinya tersakiti.
“Aku tidak tahu menahu Meldafani, besok uangnya sudah ada. Kalau tidak kau boleh pergi dari rumahku. Aku akan menceraikan kamu.” Mas Randi berkata sambil menghembuskan nafasnya di wajahku. Kasar.
Laki-laki itu keluar rumah dengan pintu yang dihempaskan. Aku tergugu setelah Mas Randi pergi. Mas Randi sepertinya menganggap aku ini sapi perahannya bukan istrinya.
Begitu gampangnya dia mengucakan kata cerai. Dia juga akan mengusirku dari rumah ini. Rumah yang kami tempati memang warisan orang tua Mas Randi.
Orang tua perempuan Mas Randi meninggal dua tahun yang lalu. Dulu sewaktu ibu mertuaku masih hidup aku masih punya tempat untuk mengadu. Tapi sekarang semuanya aku telan sendiri.
“Kamu bodoh, Melda. Kamu dibutakan oleh cinta. Untuk apa kamu mencitai laki-laki seperti suamimu? Tingalkan dia.” Batinku berperang.
*****
“Perkawinanmu sudah tidak sehat, Melda.” Mbak Laras menasehatiku sewaktu aku curhat siang itu kepadanya.
Mbak Laras mengusulkan suatu ide kepadaku. Ide yang dari tadi aku pikir-pikir ada juga benarnya. Aku harus menjalani hidupku secara normal. Toh perlakuan Mas Randi selamat empat tahun ini sudah merubah rasa yang ada di hati ini untuknya
Dengan diantar Mbak Laras sore itu aku ke bandara, Aku akan meninggalkan kota ini. Tujuanku adalah sebuah kota di seberang pulau. Mbak Laras menempatkan aku di sebuah cabang butiknya yang berada di kota kelahirannya. Butik pertama yang dimilikinya sebelum dia pindah ke kota ini karena mengikuti suaminya.
Perempuan yang sudah seperti kakakku itu juga menyarankan agar aku tinggal dengan orang tuanya. Aku sangat senang.
Orang tua Mbak Laras dan adik perempuannya sudah beberapa kali berkunjung ke sini. Mereka orang-orang yang menyenangkan. Senang rasanya membayangkan akan punya keluarga. Dibesarkan di pantai asuhan membuat aku selalu mengimpikan kehidupan berkeluarga yang harmonis. Tapi sayang Mas Randi tidak bisa memwujudkan keinginanku.
Sebuah surat gugutan cerai juga sudah aku titipkan kepada Mbak Laras. Aku harus mulai menata hidupku. Aku tidak mau menghabiskan waktuku dengan laki-laki yang selalu menyakitiku.. Aku juga berhak bahagia.
tamat
Konten pada website ini merupakan konten yang di tulis oleh user. Tanggung jawab isi adalah sepenuhnya oleh user/penulis. Pihak pengelola web tidak memiliki tanggung jawab apapun atas hal hal yang dapat ditimbulkan dari penerbitan artikel di website ini, namun setiap orang bisa mengirimkan surat aduan yang akan ditindak lanjuti oleh pengelola sebaik mungkin. Pengelola website berhak untuk membatalkan penayangan artikel, penghapusan artikel hingga penonaktifan akun penulis bila terdapat konten yang tidak seharusnya ditayangkan di web ini.
Laporkan Penyalahgunaan