Lili Herawati

Belum menuliskan informasi profilenya.

Selengkapnya
Navigasi Web

Dendam (T- 406) Part 1

#tantangangurusiana

.

Kembali ke kampung ini membuatku  merasa sangat sedih. Betapa tidak masih terbayang kejadian dua puluh tahun yang lalu, bagaimana kejamnya penduduk kampung ini mengusirku dan bunda. Bundaku dituduh berzina dengan salah seorang anak pejabat kampung ini. Perbuatan yang tidak pernah dilakukan bundaku.

Ketegaran bunda tidak mau dijadikan istri simpanan membuat laki-laki tersebut tega memfitnah bunda. Aku dan bunda terlunta-lunta di kota besar. Beruntung bunda dapat majikan yang sangat baik. Kami berdua di tampung di  rumahnya. Bunda bekerja sebagai ART di sana.

Kebaikan dan kesholehan bunda membuat salah seorang keluarga majikan  bunda menjadikan bunda sebagai istri beliau. Semenjak itulah kehidupan kami jadi membaik dan terhormat. Papa Wandi, suami bunda sangat menyayangiku. Beliau mengingatkan aku dengan sosok ayah sudah meninggal.

Kehadiran adik-adikku dari rahim bunda tidak membuat Papa Wandi berubah padaku, beliau tetap mencintaiku seperti mencintai ketiga anaknya yang lahir dari Rahim bunda.

Kedatanganku ke kota ini, hanya sekedar mau menziarahi makan almarhum ayah. Dua puluh tahun aku tidak penah berziarah ke sini. Pernikahanku yang akan dilaksanakan bulan depan menggerakkan hatiku untuk ke sini. Aku ingin memohon doa restu kepada ayahku.

Tidak banyak yang berubah dengan kampung ini.  Kampung ini masih seperti waktu aku tinggalkan.  Bangunan baru tidak banyak yang bertambah.  Aku mengarahkan mobil yang aku kendarai ke sebuah bangunan rumah. Rumah yang  Nampak tidak sangat terurus. Pohon di depan rumah sudah sangat tinggi. Semak-semak menutupi rumah dari depan. Rumah tersebut nampak angker sekali.

“Ini rumah siapa, Mas ?” Perempuan cantik di sampingku bertanya padaku.

“ini rumahku. Di sinilah dulu aku dan bunda tinggal, sampai kejadian itu terjadi. Aku dan Bunda diusir  atas perbuatan yang tidak pernah dilakukan bundaku.” Aku menjawab pelan.

“Tapi rumahnya menyeramkan, Mas.” Putri adikku yang duduk di kursi belakang menimpali.

Kami bertia datang ke kampung ini. Aira adalah sahabat  Putri, adikku. Sebenarnya bunda tidak mengizinkan aku kembali ke kampung ini.  Bunda beralasan kalau aku mau mendoakan alamrhum ayahku tidak harus berkunjung ke makamnya. Tapi aku bersikeras mau pergi. Aira juga ingin ikut. Tapi karena kami bukan muhrim bunda mencemaskan aku. Akhirnya Putri diminta menemani kami.

Perlu enam jam perjalanan dari kota untuk sampai ke kampong ini. Jalannan yang sedikit rusak mebuat kami agak lama di jalan. Beruntung seblum berangkat bunda sudah membekali kami dengan makanan sehingga kami tidak kelaparan, sebab jarang sekali dijumpai warung makanan di sepanjang jalan yang kami tempuh.

 

bersambung

 

DISCLAIMER
Konten pada website ini merupakan konten yang di tulis oleh user. Tanggung jawab isi adalah sepenuhnya oleh user/penulis. Pihak pengelola web tidak memiliki tanggung jawab apapun atas hal hal yang dapat ditimbulkan dari penerbitan artikel di website ini, namun setiap orang bisa mengirimkan surat aduan yang akan ditindak lanjuti oleh pengelola sebaik mungkin. Pengelola website berhak untuk membatalkan penayangan artikel, penghapusan artikel hingga penonaktifan akun penulis bila terdapat konten yang tidak seharusnya ditayangkan di web ini.

Laporkan Penyalahgunaan
search

New Post