Lili Herawati

Belum menuliskan informasi profilenya.

Selengkapnya
Navigasi Web

Mantan Tetangga (T-419) Part 2

#tantangangurusiana

.

Ketukan pintu kamar memaksaku untuk tegak, padahal aku baru saja merebahkan raga di tempat tidur. Aktivitas di sekolah hari ini cukup melelahkan. Tugas tambahanku sebagai kepala pustaka membuatku harus kerja ekstra, apalagi setelah selesai ujian smester seperti saat ini banyak anak-anak yang mengembalikan buku ke perpustakaan.

“Ibu, ada tamu.” Bi Sari melapor sewaktu aku membuka pintu.

“Siapa, Bik ?”

“Anak muda yang semalam, Bu. Tapi Saya tidak berani mempersilahkan masuk.” Wanita itu menjawab.

Gegas aku menuju ke ruang tamu. Raffi datang dengan seorang perempuan yang Nampak lebih muda dariku. Aku rasanya mengenal perempuan yang di bawa anak muda itu.

“Tante, ini mamaku.” Dia memperkanalkan mamanya kepadaku.

“Apa khabar, Kak ? Saya Widya, Kak. Kakak masih ingat saya.” Perempuan yang diperkenalkan Raffi sebagai mamanya mengulurkan tangan padaku.

“Kakak tidak ingat saya lagi? . Saya dulu tinggal di rumah petak sebelah. Dulu kakak pernah memberi saya sepedanya anak-anak.” Dia kembali mengulang perkenalannya.k

Memoriku berkelana pada kejadian dua puluh tahun silam. Aku pernah memberikan sepedanya anak lelakiku pada perempuan ini. Dia bermaksud mau membelinya. Tapi oleh almarhum suamiku tidak boleh dijual. Tapi kalau diberikan percuma beliau mengizinkan. Aku memberikan sepeda itu kepada Widya. Aku menolak uang yang dia sodorkan.

“Ya ampun Widya, kamu rupanya dek.” Aku memeluk perempuan itu.

Diantara para pengontrak di rumah petak itu aku paling dekat denganya. Dia punya dua orang anak laki-laki. Kedua anaknya sering bermain di rumahku. Sehingga Widya pun kadang-kadang sering ke rumah. Dia sering menjemput anaknya ke rumah, kalau tidak dijemput kedua anak laki-laki itu sangat betah bermain dengan anak bungsuku, Rania.

“Kamu nampak lebih cantik sekarang.” Widya tertawa mendengar pujianku.

“Tambah tua yang pastinya , Kak.” Jawabnya cepat.

Aku mempersilahkan kedua orang itu masuk. Bi Sari meletakan minuman untuk mereka.

Kami bercerita mengenang masa lalu sewaktu Widyamasih menjadi tetanggaku. Kami tertswa ketika ada cerita-cerita lucu.

“Kak, mohon maaf sebelumnya. Kami ada maksud mau datang ke sini.” Widya tiba-tiba berbicara serius. Aku melihat ada kegugupan di matannya.

“Aku harap kakak tidak marah kepada kami setelah itu. Jangan marahi kami karena kami lancing.” Dia berkata pelan.

“Ada apa Widya ?” aku jadi penasaran.

Bersambung

DISCLAIMER
Konten pada website ini merupakan konten yang di tulis oleh user. Tanggung jawab isi adalah sepenuhnya oleh user/penulis. Pihak pengelola web tidak memiliki tanggung jawab apapun atas hal hal yang dapat ditimbulkan dari penerbitan artikel di website ini, namun setiap orang bisa mengirimkan surat aduan yang akan ditindak lanjuti oleh pengelola sebaik mungkin. Pengelola website berhak untuk membatalkan penayangan artikel, penghapusan artikel hingga penonaktifan akun penulis bila terdapat konten yang tidak seharusnya ditayangkan di web ini.

Laporkan Penyalahgunaan
search

New Post