Lili Herawati

Belum menuliskan informasi profilenya.

Selengkapnya
Navigasi Web

Mertuaku (T-415)

#tantangangurusiana

.

“Ibu, mana cincin yang pernah kami belikan untuk ibu?” Dengan sangat hati-hati aku bertanya kepada perempuan sepuh yang berada di depanku. Dia ibu mertuaku. Usianya yang sudah mendekati sembilan puluh tahun tidak membuat beliau pikun.

Ibu mertuaku sangat sehat. Beliau tidak pernah mengeluh sakit. Telinga, mata dan organ tubuh yang lain berfungsi dengan baik.

Aku sangat menyayangi beliau. Karena beliau adalah perempuan kedua yang paling sering mengurusku selain ibu kandung.

Tiga orang buah hati yang lahir di tengah kami, ketiga-tiganya ibu mertua yang paling banyak mengurus.

Keadanku ibu kandungku yang waktu itu masih PNS aktif dan berada di provinsi yang berbeda membuat beliau tidak bisa lama-lama mendampingiku.

Cara ibu mertua memperlakukan aku persis seperti beliau memperlakukan anak perempuanya sendiri. Beliau menegurku kalau aku salah. Menasehatiku kalah aku khilaf. Memarahiku kalua aku lalai menjaga kesehatanku pasca melahirkan. Ya Allah… aku sangat bahagia dan terharu atas kebaikan beliau.

Setelah masa nifas aku habis baru beliau balik ke daerahnya. Ibu mertua juga tinggal di provinsi yang berbeda.

Sebentuk cincin yang agak besar dan berat kami belikan untuk beliau waktu kelahiran anak ketiga. Aku ikhlas karena beliau merawatku dengan sungguh-sungguh. Racikan jamu dan makanan pilihan karena aku habis melahirkan diolah dengan tangan beliau sendiri.

“Ibu, cicncinya mana ?” Kembali aku bertanya. Ibu mertuaku diam. Suara tangisan putriku yang masih berusia lima bulan membuatku tidak menunggu jawaban dari ibu mertua. Aku gegas ke kamar menyusul bayi kami.

****

“Segan mamak, waktu istrinya Hagil menanyakan cincin yang dia belikan untuk mamak.” Aku mendengar suara mamak bercakap setengah berbisik dengan kakak ipar paling tua. Langkahku terhenti. Aku mengurungkan niat untuk mengambil minum ke dapar. Karena mereka berdua bercakap di dekat meja dapur.

Kakak ipar paling tua sudah tidak memiliki suami. Karena suami beliau, anak ibu mertua yang paling tua sudah meninggal. Kakak ipar inilah yang mengurus ibu mertua tiap hari.

“Cincinnya kemana, Mak ?” Aku mendengar kakak ipar menyahut.

“Cincinnya mamak kasih ke Ridwan. Kasihan. Dia perlu uang untuk uang masuk kuliah anaknya.” Ibu mertua menjawab sambal berbisik.

“Tapi mamak nggak boleh seperti itu. Jelas Rania bertanya. Kan dia yang belikan cincin itu untuk mamak. Biarkan saja adik-adik itu bertanggung jawab untuk keluarganya.” Kakak iparku menjawab pelan.

“Mamak tidak tega.” Mamak mertua berkata dengan suara bergetar. "Kasihan Ridwan." Lanjutnya

Diam-diam aku meninggalkan dapur. Aku tercenung. Aku menyesal menanyakan cincin itu kepada ibu mertua. Ternyata ibu mertua menggunakan pemberian kami untuk membantu ankanya yang lain. Bang Ridwan adalah abang iparku yang tengah. kondisi ekonomi mereka jauh di bawah kami. kami sering mencoba membantu beliau, tapi beliau selalu menolak. Mungkin dia malu meneriima pemberian kami.

Ternyata Bang Ridwan menerima bantuan kami tapi melalui tangan ibu mertuaku. Aku jadi terharu. Ibu mertuaku perempuan yang sangat baik. Sehat selalu ya bu. Aku janji akan memberikan ganti cincin yang sudah ibu berikan kepada Bang Ridwan.

DISCLAIMER
Konten pada website ini merupakan konten yang di tulis oleh user. Tanggung jawab isi adalah sepenuhnya oleh user/penulis. Pihak pengelola web tidak memiliki tanggung jawab apapun atas hal hal yang dapat ditimbulkan dari penerbitan artikel di website ini, namun setiap orang bisa mengirimkan surat aduan yang akan ditindak lanjuti oleh pengelola sebaik mungkin. Pengelola website berhak untuk membatalkan penayangan artikel, penghapusan artikel hingga penonaktifan akun penulis bila terdapat konten yang tidak seharusnya ditayangkan di web ini.

Laporkan Penyalahgunaan
search

New Post