Rejeki Tidak Berpintu (Part 1) T-401
#tantangangurusiana
Aku termenung dalam hening. Malam yang semakin larut membuatku tidak dapat memejamkan mata. Betapa tidak? Lebaran tinggal menghitung hari. Tapi sampai saat ini belum ada nampak tanda-tanda Mas Jamal memberiku uang untuk persiapan lebaran.
Aku tidak mau menunutu kepada suamiku. Aku tahu beliau sangat kalut. Sejak perusahaan tempat dia bekerja bangkrut Mas Jamal di rumahkan. Mas Jamal sudah berusaha mencari pekerjaan lain untuk menghidupi kami, tapi usahanya belum menampkan hasil. Mas Jamal laki-laki yang bertanggung jawab. Aku tahu dia sangat tertekan dengan keadaan seperti ini.
Aku tidak mau menambah bebannya. Aku menerima saja berapa uang yang diberikan kepadaku. Aku harus memutar otak agar uang yang diberikannya cukup untuk biaya kami sehari-hari.
Netraku menatap dua buah buah hatiku. Aisyah putri tertua kami yang baru berumur tujuh tahun tadi siang sudah bertanya kapan aku mau buat kue lebaran ?
Tetangga di sekitar kami sudah mulai membuat kue, mungkin Aisyah heran mamanya kenapa belum buat kue juga.
“Ya Allah, mudahkan rejeki keluagarku.” Kembali aku melafazakan doa-doa. Aku yakin Allah kan mengijabah doa-doa hamba yang tiada lelah menengadahkan wajah dan meminta kepadaNya.
Aku beranjak ke kamar tidur kami. Mas Jamal nampak tertidur lelap. Mungkin dia kelelahan karena sehabis pulang tarawih tadi ada tetangga yang menggunakan jasa ojek beliau, karena disamping bekerja sebagai buruh bangunan, Mas Jamal juga menyambi sebagai tukang ojek.
Aku menatap wajah suamiku. Aku merasa kasihan melihat beliau. Kembali aku melafazkan doa buat beliau. Doa yang tak putus-putusnya agar Allah memudahkan rejeki buat kami sekeluarga.
*****
“Bunda, kita jadi buat kue kan?” Aisyah siang itu kembali bertanya kepadaku.
“Kita berdoa ya Ai, agar ayah nanti bawa uang pulang.” Aku menjawab sambil tersenym.
“Ayok, bunda kita berdoa bersama.” Anak itu bersemangat mengajakku berdoa.
Aisyah menarik tangan Rasyid adiknya yang lagi main mobil-mbilna. Bocah lima tahun itu heran melihat kakaknya. Tapi dia patuh mengikuti Aisya berdoa. Mareka berdua duduk dengan khusuk.
“Ayo Bunda, kita berdoa. Semoga ayah bawa pulang uang yang banyak.” Aisyah menarik tanganku.
Kami bertiga berdoa dengan khusuk. Aku menangis mendengar Aisyah putriku meminta kepada Allah.
Aku mengetuk pintu langai dengan doaku. Aku berharap Allah mengabulkan doa-doaku. Aku ingi putriku bahagia. Aku ingin dia merasa bangga dengan kami orang tuanya.
*****
Wajah Mas Jamal yang pulang dengan wajah yang cerah membuatku heran. Ada apa dengan suamiku ?
“Bunda, lihat ini. Ayah bawa apa pulang.” Laki-laki itumengeluarkan sesuatu dari jaketnya.
Mata membelalak melihat banyaknya uang yang ada di gengamaan suamiku. Uanga dari mana ?
“Itu uang dari mana, Mas ?” Aku bertanya heran.
“Coba bunda tebak, ayah dapat darimana ?” Mas Jamal menggodaku.
“Mas kalau uang itu dari ang tidak halal, aku tidak mau menerimanya ya.” Aku berkata ketus.
“Bunda, ayah tidak mau membawa yang tidak halal pulang ke rumah. Ini uang halal, Bunda. Uamgnya bisa bunda pakai untuk keprluan lebaran. Sisanya di simpan. Ayah rencana mau membuk loundry. Sekitar rumah kita ini kan belum ada loundry. Ayah rasa usaha loundry sangat menjajinjikan. Mas Jamal nampak bersemangat.
“Tapi ayah itu uang darimana ?” Rasa penasaranku belum dijawab oleh Mas Jamal.
“Bunda mau tahu juga ? Kasih tahu nggak ya.” Laki-laki itu menggodaku.
bersambung
Konten pada website ini merupakan konten yang di tulis oleh user. Tanggung jawab isi adalah sepenuhnya oleh user/penulis. Pihak pengelola web tidak memiliki tanggung jawab apapun atas hal hal yang dapat ditimbulkan dari penerbitan artikel di website ini, namun setiap orang bisa mengirimkan surat aduan yang akan ditindak lanjuti oleh pengelola sebaik mungkin. Pengelola website berhak untuk membatalkan penayangan artikel, penghapusan artikel hingga penonaktifan akun penulis bila terdapat konten yang tidak seharusnya ditayangkan di web ini.
Laporkan Penyalahgunaan