Lili Herawati

Belum menuliskan informasi profilenya.

Selengkapnya
Navigasi Web

Tergoda ( T-416)

#tantangangurusiana

Aku menatap perempuan yang dibawa Mas Seno pulang. Perempuan yang kata Mas Seno selalu minta dihalalkan. Perempuan yang bersedia menjadi adik maduku. Geram aku melihat suamiku, berani-beraninya dia membawa perempuan itu ke rumahku.

Perempuan yang sudah aku selidiki semua kehidupannya ini memang tidak tahu malu. Namanya Naira. Seorang janda dengan satu anak yang masih balita. Jebolan fakultas ekonomi di sebuah universitas ternama.

Pernah menikah dengan seorang pria kaya beristri. Diceraikan oleh suaminya karena desakan istri pertama sang suami. Tinggal dengan kedua orang tuanya. Khabarnya mamanya dulu juga seperti dia. Menikah dengan suami orang. Buah tidak jauh jatuh dari pohonya. Kayaknya ungkapan ini tepat untuk Naira.

Perempuan ini sudah dua kali mengirimiku pesan whatsapp. Pesan yang memohon agar aku bersedia menjadi kakak madunya. Pesan yang selalu aku abaikan. Pesan yang membuat darahku mendidih dan jantingku berdetak tidak normal.

Nyalinya luar biasa. Dia sanggup datang ke rumahku. Aku melihat dia dari ujung jari kaki sampai ke kepala. Cantik ? Menurutku tidak. Wajahnya biasa-biasa saja. Kepandaiannya berdandan membuat dia nampak menarik. Aku manatapnya tajam, dia membalas tatapanku tanpa rasa bersalah.

“Kenapa kamu tertarik sama suamiku? Kamu tahu kan Mas Seno sudah beristri.” Aku berkata tanpa basa-basi.

Dia tersenyum padaku. Aku tak suka melihat senyumnya. Aku melihat dia wanita yang sangat licik. Tapi aku tidak takut. Jangan bermain-main denganku, Naira. Aku membatin.

“Maaf Mbak. Bukan saya saja yang tertarik dengan suami Mbak, Suami Mbak juga suka kepada saya. Cuma masalahnya suami Mbak tidak mau menikahi saya kalau Mbak tidak mengizinkan. Saya mohon berilah izin Mas Seno menikah dengan saya, Mbak.” Gadis itu berkata tanpa rasa ragu.

“Kamu mencintainya, Mas?” Aku menatap laki-laki disampingku.

Mas Seno hanya diam. Aku tahu arti diamnya. Aku menyadari posisi suamiku. Suamiku orangnya tidak tegaan kepada orang lain. Mungkin kebaikan suamiku disalah artikan oleh perempuan yang berbaju kurang bahan ini.

“Betul kamu berniat menikahinya, Mas?” Aku bertanya pada suamiku.

“Kalau kamu mengizinkan, Mas akan menikahinya. Mas berjanji akan berlaku adil pada kalian.” Laki-laki yang sudah memberiku 3 orang anak ini berkata pelan.

Oh My God ? Pelet apa yang diberikannya kepada suamiku? Sehingga suamiku nampak seperti kerbau yang dicucuk hidung.

“Kalau aku tidak mengizinkan bagaimana, Mas ?” Aku berkata sambil menatap tajam suamiku.

Mas Seno diam. Ada keraguan di matanya. Aku tahu suamiku mencintaiku dan anak-anak kami. Dia seperti ini mungkin karena perempuan ini yang mempengaruhi dan menghasutnya.

“Kamu nggak boleh egois dong, Mbak. Agama kita kan membolehkan laki-laki beristri lebih dari satu.” Perempuan yang membuatku muak itu ikut nimbrung.

“Diam, aku tidak sedang bicara denganmu.” Ucapan ketusku membuat perempuan itu terdiam.

“Aku menghargai, Mbak. Makanya aku datang ke sini baik-baik kepada, Mbak. Memohon agar Mbak rela berbagi suami denganku.”

Ya Tuhan.... Betul-betul perempuan tidak tahu diri. Rasanya aku mau meremas mulutnya. Tapi aku tidak mau melakukan itu. Hanya akan mengotori tanganku.

“Aku akan berikan jawaban. Tapi tidak sekarang. Besok aku tunggu kamu datang lagi ke sini. Aku akan menelponmu” Aku menjawab pelan.

Naira berdiri tegak dari tempat duduknya. Kakinya yang putih dan indah nampak jelas. Rok mini yang dipakainya membuat dia nampak sangat seksi. Wajar suamiku tergoda imannya melihat perempuan ini.

“Aku pamit, Mbak. Izin atau tidak dari mbak, aku akan tetap menikah dengan suami Mbak.” Perempuan itu berkata dengan percaya dirinya. Dengan gaya yang angkuh dia melangkah meninggalkan ruang tamu diikuti oleh suamiku.

*****

Malam itu aku dan Mas Seno hanya diam. Kami tidak saling bicara. Aku tidak menyangka laki-laki ini mau menduakanku.

Pahit getir kehidupan kami lalui berdua. Apakah kehadiranku selama ini tidak membuat dia bahagia? Kenapa dia masih mau memiliki istri lagi? Mas Seno Nampak gelisah sekali malam itu. Tapi sedikitpun dia tidak ada membahas rencana ingin menikahi Naira.

Kami berbaring dalam diam. Aku menoleh ke samping setelah beberapa saat. Aku melihat laki-laki itu sudah terlelap. Wajahnya Nampak sangat tenang. Rasanya aku tak yakin kalau menikahi Naira itu keluar dari hatinya. Aku berpikir, jangan-jangan Naira sengaja memelet atau menguna-gunai suamiku. Aku cepat beristigfar.

Tiba-tiba aku teringat sesuatu. Aku berdiri dari tempat tidur. Pelan aku membuka lemari dan mengambil sesuatu. Sebuah kertas tergulung aku keluarkan dari sana. Aku membaca kertas tersebut. Sebentuk senyum tersungging di wajahku. Aku menuju taman yang terletak di belakang rumah.

Aku menelpon seseorang. Seorang sahabat yang dulu pernah sekelas denganku waktu SMA. Lama aku menelponnya. Hatiku terasa sangat lega. Aku yakin rencanaku akan berhasil.

****

Pagi itu aku mengetik pesan buat Naira dan Mas Seno. Pesan yang meminta mereka hadir siang ini di sebuah cafe yang tak jauh dari rumahku. Tak lupa aku mengatakan bahwa hal ini berhubungan dengan rencana Naira mau menikah dengan Mas Seno.

Balasan hampir bersamaan aku terima dari kedua orang itu. Naira dan Mas Seno menyanggupi untuk datang. Naira mengucapkan terima kasih kepadaku, tak lupa dia menulis di pesannya kalau aku calon kakak madu yang baik baginya. Aku muak membaca tulisannya. Siapa yang mau punya adik madu sepertimu, batinku kesa.

Setelah menjemput semua anak-anak dari sekolah aku menitipkan mereka di tempat mama. Aku segera menuju kafe tempat kami bertemu. Aku melihat Naira sudah datang duluan. Senyumnya nampak sangat cerah. Wanita naif itu mungkin beranggapan kalau aku membri izin ke Mas Seno untuk menikahinya.

Mas Seno menyusul tidak lama kemudian. Kami duduk bertiga. Kafe siang itu nampak sedikit sepi. Aku sengaja memilih jam segini karena biasanya tamu kafe ramai menjelang sore.

“Kenapa Mbak menyuruh kami ke sini ?” Naira nampak bertanya tak sabar.

“Sabar Naira, ada seorang lagi yang sedang kita tunggu.” Aku menjawab pertanyaan Naira cuek.

Seorang wanita melangkan ke tempat kami. Wanita yang nampak cantik dengan stelan blazer kerjanya. Dia tersenyum ke arahku dan Mas Seno. Mas Seno nampak kaget melihat tamu yang baru datang. Dia Kayla. Mas Seno mengetahui kalau aku dan Kayla adalah sahabat baik.

Kayla tersenyum kepada kami. Dia menyalami Mas Seno dan Naira. Kayla dulu kuliah di fakultas hukum. Setamat kuliah Kayla bergabung di kantor pengacara papanya. Setelah papanya meninggal Kayla mengambil alih kantor itu. Kayla pengacara yang cukup disegani.

“Mas aku sengaja mengundangmu, Naira dan Kayla ke sini sehubungan dengan keinginanmu mau memperistri Naira.” Aku berhenti berbicara. Aku merasa ada yang sesak di dadaku. Naira nampak tersenyum.

[Kamu harus kuat Andria. Kamu harus kuat] Batinku.

“Tapi sebelumnya aku mengingatkan kamu tentang perjanjian kita.” Aku mengeluarkan selembar fotokopi kertas dari dalam tasku.

“Ini adalah perjanjian yang kita buat setelah aku melahirkan Setyo anak pertama kita. Dua belas tahun yang lalu. Aku rasa kamu tidak lupa isinya. Karena kamu yang buat surat ini. Surat yag asli ada pada Kayla.” Aku berkata sambil menyerahkan fotocopi surat itu pada Mas Seno.

Laki-laki itu nampak terdiam . Dia menerima surat itu dari tanganku dan membacanya. Wajahnya nampak pucat setelah menerima surat itu. Surat yang dulu dibuatnya dan mungkin sudah dilupakannya.

“Di dalam surat itu jelas tertulis kalau diantara kita ada yang menikah lagi atau meminta cerai duluan, maka seluruh harta baik bergerak atau tak bergerak harus di pindah namakan ke anak-anak. Dan hak asuh anak-anak tidak boleh jatuh ke yang berbuat.” Aku berhenti bicara sesaat.

“Kamu masih ingat, Mas?” Aku bertanya sambil menatap Mas Seno.

Laki-lakiku diam. Aku melihat gusar di matanya. Aku tersenyum dalam hati melihat kelakuannya. Surat perjanjina pasca aku melahirkan anak pertama sengaja dibuat Mas Seno karena masih banyak laki-laki yang menaruh harap kepadaku. Mas Seno takut aku meninggalkanya.

Aku, Andria. Mahasiswa berprestasi, cantik dan pintar. Orang tuaku adalah orang terpandang. Banyak teman-teman laki-laki di kampus yang mengharapkan cintaku. Aku labuhkan hati pada Suseno, mahasiswa ekonomi yang sangat sederhana. Aku menerima cintanya karena aku melihat ada ketulusan di matanya.

“Ya... Kamu benar, Andria. Aku masih ingat.” Laki-laki itu menjawab pelan.

“Kalau begitu, kamu silahkan tanda tangani pengalihan seluruh aset kita kepada anak-anak. Aku mengizinkan kamu menikah dengan perempuan matre ini. ” Aku berkata sambil menyodorkan semua berkas yang sudah dipersiapkan Kayla kepada Mas Seno.

Aku menyerahlan pulpen kepada laki-laki itu. Dengan tangan gemetar Mas Seno menerima pena dari tanganku. Laki-laki itu meletakkan surat peralihan semua asset yang sudah dipersiapkan Kayla di meja. Tanganya mulai membubuhkan tanda tangan di kertas. Belum selesai Mas Seni membubuhkan tandatangan gerakannya terhenti sewaktu Naira menarik tangannya.

“Tunggu Mas. Kalau semua dialihkan ke anak-anakmu, terus yang tinggal di kamu apa, Mas?” Naira menatap Mas Seno. Ada binari kecemasan dan ketidakrelaan dimatanya.

“Kita bisa mulai dari awal Naira.” Mas Seno berkata pelan.

“Tidak bisa begitu dong, Mas. Aku tidak mau memulai dari awal. Aku tidak mau hidup susah.” Perempuan itu berucap cepat.

“Naira.... Kamu harus tahu bahwa Mas Seno bisa seperti sekarang, karena aku yang ikut berjuang bersamanya. Kalau kamu memang mencintai Mas Seno silahkan berjuang dari awal denganya seperti aku dulu.” Aku berkata dengan suara yang tegas.

“Tapi tidak adil Mas Seno tidak mendapatkan sedikitpun.” Perempuan itu kembali protes.

“Kamu tidak berhak protes. Ini adalah perjanjian antara aku dan suamiku. Kamu tidak berhak ikut campur.” Aku berkata sinis kepada Naira.

“Naira, Mas minta maaf. Andria benar. Mas harus mematuhi perjanjian yang sudah Mas buat.” Mas Seno berusaha memberi pengertian pada Naira.

Naira tercenung. Kalau semua aset diberikan kepada anak Mas Seno, bagaimana kehidupan aku nantinya ? Perempuan itu nampak resah. Aku tahu perempuan itu mengejar Mas Seno karena laki-laki itu sangat mapam. Naira berharap Mas seno dapat membahagiakan dia, anaknya dan dua orang tuanya dengan harta laki-laki itu.Naira merasa salah sudah mengejar laki-laki itu.

“Mas, aku mohon maaf. Aku tidak sanggup memulai dari awal semuanya denganmu. Aku tidak mau kamu nikahi. Kembalilah ke istri dan anakmu.” Naira berkata pelan.

"Aku mundur, Mas. Aku mengundurkan diri jadi istrimu." Lanjut perempuan itu.

“Kamu mencintai suamiku apa harta kami, Naira ?” Aku menatap perempuan muda itu tajam.

“Aku mencintai suamimu. Tapi aku juga mencintai hartanya. Cinta saja tak cukup untuk berumah tangga. Harta juga diperlukan. Dan aku memilih harta yang utama. Aku tidak jadi menikah dengan suamimu.”

Mas Seno nampak terkejut. Dia tak menyangka kalau Naira berubah pikiran setelah tahu semua aset akan diserahkannya kepada anak dari istri pertama. Andria benar, Naira tidak cocok untuknya. Dia adalah perempuan yang sangat meterialistis.

“Aku pergi, Mas. Lupakan semua yang sudah aku perbuat untukmu.” Naira berkata sambil pergi meninggalkan tempat itu.

Suasana sepi setelah Naira pergi. Mas Seno memandangku dan Kayla.

“Maafkan aku, Andria. Kamu benar Naira hanya mencintai hartaku.” Laki-laki itu manatapku menyesal.

Aku tersenyum. Dari awal aku tahu, suamiku terjebak oleh sikapnya yang terlalu baik kepada semua orang. Aku berjanji untuk lebih mendampinginya. Aku juga menyalahkan diriku. Mas Seno sering mengajakku ke kantor. Bisnis yang kami bangun bersama sedang berkembang pesat. Aku dulu sering menemani beliau menemani rekan bisnis kami. Posisiku sebagai sekretaris pribadinya punya andil untuk membersarkan perusahaan ini.

Kehadiran anak ketiga kami membuatku menarik diri dari perusahaan. Aku menjadi ibu rumah tangga seutuhnya. Naira menggantikan posisiku sebagai sekretaris. Aku tidak menyangka Naira yang dulunya aku pilih untuk menggantikan posisiku dari sekian pelamar yang datang, ternyata juga ingin mengambil posisiku jadi istri Mas Seno.

Nampaknya aku harus kembali ke posisiku. Aku harus menjaga suamiku. Aku harus pandai memposisikan diri sebaik mungkin. Dan aku yakin aku bisa.

“Kamu mau memaafkan Mas, Andria ?” Laki-laki itu kembali menatapku. Ada harap dan cemas di matanya.

“Ya Mas. Aku memaafkanmu. Dan mulai besok aku akan kembali jadi sekretarismu.” Jawabku pasti.

Laki-laki itu menatapku dengan mata berbinar. Aku tahu beliau sangat senang aku kembali mendampinginya. Karena memang dari dulu itu yang diharapkannya. Mas Seno sering membujukku agar aku aktif lagi di perusahaan.

Aku maafkan kekhilafannya. Karena aku tahu tidak ada manusia yang sempurna. Suamiku tipe laki-laki yang tidak tegaan. Paling susah menolak permintaan seseorang. Aku harus ada untuknya. Aku berharap mampu merubah sikapnya secara perlahan-lahan, walau itu mungkin susah.

TAMAT

DUMAI / 26 MEI 2021

DISCLAIMER
Konten pada website ini merupakan konten yang di tulis oleh user. Tanggung jawab isi adalah sepenuhnya oleh user/penulis. Pihak pengelola web tidak memiliki tanggung jawab apapun atas hal hal yang dapat ditimbulkan dari penerbitan artikel di website ini, namun setiap orang bisa mengirimkan surat aduan yang akan ditindak lanjuti oleh pengelola sebaik mungkin. Pengelola website berhak untuk membatalkan penayangan artikel, penghapusan artikel hingga penonaktifan akun penulis bila terdapat konten yang tidak seharusnya ditayangkan di web ini.

Laporkan Penyalahgunaan
search

New Post