Lili Herawati

Belum menuliskan informasi profilenya.

Selengkapnya
Navigasi Web

Jodoh Pilihan Paman (Part 1)

#tagursiana H-3

.

Tidak pernah terbayang olehku akan tinggal di negeri ini. Negeri dengan adat istiadat yang masih kuat. Negari asal kedua orang tuaku. Tinggal di daerah ini bagi sebagian orang mungkin menyenangkan. Alamnya yang indah dan kulinernya yang pas di lidah mempunyai daya tarik tersendiri.

Tetapi semua itu tidak berlaku bagiku. Aku tidak suka tinggal di daerah ini. Kalau dulu aku diajak pulang kampung oleh mama dan papa, biasanya tiga hari aku sudah merengek minta balik ke Jakarta. Bagiku tidak ada kota yang senyaman Jakarta. Semua serba ada di sana. Lingkungan dan pergaulannya sudah menyatu dalam diriku.

Keadaan yang memaksa kami balik ke kampung ini. Kematian papa akibat penyakit yang di deritanya membuat kami kehilangan segala-galanya. Semua terjual untuk menyembuhkan papa. Kehidupan yang tidak menentu di Jakarta membuat mama dijemput oleh saudara-saudaranya untuk kembali ke kampung halaman.

Aku berusaha menolak keras, tetapi mama dan saudara-saudaranya memaksa aku untuk ikut. Aku terpaksa mengikuti ajakan mereka karena aku memang tidak mempunyai uang dan pekerjaan untuk bertahan di Jakarta. Mencari kerja yang layak di Jakarta dengan hanya mengandalkan ijazah SMA tidaklah gampang.

Keluarga mama memang sangat baik dan kompak. Mereka patungan menyiapkan tempat tinggal untuk kami dan usaha untuk mamaku. Sebuah kedai harian mereka siapkan untuk dikelola mamaku.

Keluarga papa juga sangat perhatian, beras untuk makan kami sehari-hari selalu mereka kirim ke rumah. Kami tidak pernah kekurangan makanan. Penduduk sekitar juga baik kepada kami. Status anak yatim yang kami sandang mungkin jadi penyebabnya.

Suara getar di gawaiku menghentikan lamuananku. Benda pipih yang selalu menemani hari-hariku itu segera ku usap perlahan. Sebuah pesan dari nomor yang tidak dikenal terbaca di sana.

[Zalwa, apa khabar ?] tulis pesan tersebut.

[Aku, Rion] lanjut pesan tersebut.

Aku kaget melihat pengirimnya. Rion.

Bukankah Rion di penjara ? Kenapa dia bisa menghubungiku ? Apakah dia sudah bebas ? berbagai tanya berkecamuk dipikiranku.

Rion adalah pemuda yang dekat denganku. Pemuda yang pernah mengajarkan aku arti cinta. Aku mencintainya meskipun mama dan papa menentang hubungan kami..

Rion mendekam di penjara karena kesalahan yang dilakukannya. Rion dipenjara karena terlibat pencurian dengan teman-temannya. Tapi aku yakin, Rion tidak bersalah. Rion hanya kebetulan berada di TKP waktu penangkapan. Rasa setia kawan membuat Rion ikut dihukum Bersama teman-temannya. Aku percaya penjelasan Rion.

[Aku rindu padamu] sebuah pesan menyusul sebelum aku sempat membalasnya.

[Kamu kenapa tidak pernah melihatku di penjara ? ] lanjutnya lagi.

Bergetar tanganku mengetik balasannya. Ada yang menyesak di dadaku. Rasa kangen dan rindu yang luar biasa. Rion adalah laki-laki pertama yang mendekatiku. Laki-laki yang mengajariku arti cinta. Terlalu banyak kenangan di antara kami.

[Aku sekarang di Padang, Rion. Di kampung mamaku. Sejak papa meninggal kehidupan kami jadi susah. Jadi mama di jemput oleh saudaranya] aku membalas chatnya.

[Aku sudah bebas dari penjara, tadi aku ke rumahmu. Tapi rumahmu sudah ditempati orang lain]tulis Rion.

[Zalwa kembalilah ke Jakarta. Aku akan menikahimu. Kita akan hidup bersama seperti impian kita] lanjut Rion disertai emotion hati.

Rion mau menikahiku ? Hatiku melompat saking senangnya. Dari dulu aku selalu meminta dia agar menikahiku.

Tapi Rion selalu menolak. Rion beralasan dia belum punya pekerjaan tetap. Sekarang dia mau menikahiku ? Aku sangat senang. Bukankah dengan demikian aku ada alasan untuk Kembali ke Jakarta ?

Bergegas aku menjumpai mama. Mama nampak sangat sibuk menyiapkan sayuran buat jualan lontong besok pagi. Di samping berjualan harian di warung kami juga menjual sarapan pagi. Masakan mama sangat enak. Lontong sayur jualannya selalu cepat habus.

“Ma… Zalwa mau bicara.” Aku bicara dengan suara pelan ke mama.

Mama menatapku. Isyarat matanya menyuruhku untuk duduk di kursi yang ada di depannya.

Aku menatap mama dengan sendu. Mama yang dulu hidup senang dan dimanja oleh papa sekarang harus bekerja keras menghidupi kami. Beruntung mama memiliki keluarga yang perhatian sehingga beban mama jadi terbantu.

Sekedar untuk makan dan biaya sehari-hari kami sudah tidak kesulitan lagi, bahkan berlebih. Mama punya rencana untuk menguliahkanku. Makanya mama selalu berusaha untuk mencari tambahan uang. Aku sudah berusaha menolak keinginan mama. Aku ingin membantu mama mencari uang. Tapi mama keukeh ingin menguliahkanku. Mama ingin aku sarjana seperti sepupu-sepupuku.

“Ma, aku boleh Kembali ke Jakarta ?” Aku bertannya dengan hati-hati.

“Apa ? Kembali ke Jakarta ? Kamu akan tinggal dengan siapa di sana, Nak ?” Mama menatapku heran. “Bagaimana kamu bisa hidup di sana ?” Lanjut mama.

“Rion akan menikahiku, Ma.” Aku menjawab tanpa berani memandang wajah mama.

Jawabanku membuat mama kaget. Pisau yang digunakannya memotong sayuran terlepas dari tangannya. Matanya menatapku nanar. Aku melihat kilat kemarahan di matanya. Nyaliku jadi ciut.

bersambung

DISCLAIMER
Konten pada website ini merupakan konten yang di tulis oleh user. Tanggung jawab isi adalah sepenuhnya oleh user/penulis. Pihak pengelola web tidak memiliki tanggung jawab apapun atas hal hal yang dapat ditimbulkan dari penerbitan artikel di website ini, namun setiap orang bisa mengirimkan surat aduan yang akan ditindak lanjuti oleh pengelola sebaik mungkin. Pengelola website berhak untuk membatalkan penayangan artikel, penghapusan artikel hingga penonaktifan akun penulis bila terdapat konten yang tidak seharusnya ditayangkan di web ini.

Laporkan Penyalahgunaan
search

New Post