Lili Herawati

Belum menuliskan informasi profilenya.

Selengkapnya
Navigasi Web

Jodoh Pilhan Paman (Part 6 ) H-9

#tagursiana

.

Pertanyaan Mak Anjang membuat wajah Rion jadi merah padam. Nampak dia menahan marah. Walaupun dia jago berkelahi aku yakin dia tidak akan berani melawan ketiga laki-laki yang sedang menanyai dia.

“Saya yakin saya akan bisa membahagikan Zalwa, Paman.” Rion menjawab mantap.

“Dengan apa kamu akan membahagiakan kemenakan saya ?” Mak Anjang menatap tajam.

“Paman tidak boleh berkata begitu. Tuhan pasti sudah punya rencana untuk hambanya.” Rion menjawab cepat.

“Tahu apa kamu tentang Tuhan, Anak Muda ? Salat saja kamu tidak pernah. Perilaku kamu saja masih jauh dari sempurna.” Jawab Mak Anjang.

“Kenapa Paman berkata begitu ? Darimana Paman tahu perilaku saya ? Berjumpa saja kita baru sekarang.” Suara Rion terdengar agak tinggi.

“Kamu jangan lupa Rion. Walaupun kami di sini, tidak susah bagi kami untuk menyelidiki perilaku kamu. Banyak yang bisa kami mintai tolong untuk mengabarkan bagaimana sepak terjang kamu di sana.” Mak Adang menjawab pelan.

“Bagaimana bisa kamu bisa tinggal serumah dengan seorang perempuan yang bukan muhrimu ? Apakah itu boleh dikatakan perilaku yang baik ?” Lanjut Mak Adang.

“Saya memang tinggal serumah dengan perempuan. Tapi saya tidak melakukan yang terlarang dengan dia. Saya hanya bekerja padanya.” Rion membela diri.

“Rion, saya punya seorang informan di sana yang mengawasimu. Video kelakuanmu dengan perempuan itu selalu dikirim ke saya. Apa saya perlu memperlihatkan video itu kepadamu ?” Mak Uncu yang dari tadi diam bersuara.

“Jujur saya salut dengan keberanianmu datang ke sini. Menjumpai kemanakan saya, mengajaknya ke Jakarta. Tapi kamu jangan lupa Anak Muda, negeri ini negeri beradat. Zalwa banyak punya keluarga di sini. Jangan bertindak sesuka hatimu.” Sambung Mak Uncu.

Rion terdiam, dia nampak sedikit gugup. Dia menunduk kepala menghilangkan kegugupannya. Nampak dia tak berani menatap tiga orang laki-laki di depannya. Rion pasti tidak membayangkan akan berada pada situasi seperti ini. Pemuda itu pasti membayangkan pertemuannya dengan Zalwa akan lancar-lancar saja.

Netranya menatap kepada Zalwa. Zalwa menghindari tatapan Rion. Rion berharap Zalwa akan membelanya. Tapi Zalwa hanya diam.

“Sebaiknya kamu kembali ke Jakarta, Rion. Lupakan Zalwa. Biarkan dia tenang di sini.” Mama berkata pelan. “Bukankah Zalwa sudah memutuskamu ?” lanjut mama.

“Tapi saya mencintai Zalwa, Tante. Bolehkan saya berbicara berdua saja dengan Zalwa ?” Harap Rion.

“Kalau kau mau bicara dengan kemenakan kami bicara saja di sini. Kami tidak mengizinkan Zalwa berduan dengan laki-laki yang bukan muhrimnya.” Suara Mak Adang terdengar tegas.

“Zalwa aku mau mendengar langsung dari mulutmu. Apakah kau masih mencintaiku, Wa ? Maukah kau ikut denganku ke Jakarta, Wa ?” Bujuk Rion.

“Tidak Rion. Setelah aku tahu hubunganmu dengan Tante Sisil, aku membencimu.” Zalwa menjawab cepat.

“Jangan bohong Zalwa. Aku tahu bagaimana kamu mencintaiku. Kamu harus jujur Wa. Kamu harus yakin kita pasti akan Bahagia. Aku hanya bekerja sama Tante Sisil, itu semua untuk masa depan kita. Ikutlah denganku Zalwa.” Rion membujuk Zalwa

“Tidak Rion, tempatku di sini. Di dekat mama, adik-adikku dan keluarga besarku. Kamu kembalilah ke Jakarta.” Zalwa menjawab tegas.

“Aku rasa tidak ada lagi yang mau dibicarakan Anak Muda. Silahkan tinggalkan kampung ini. Mumpung masih siang kamu masih bisa ke bandara berangkat dengan penerbangan sore.” Mak Uncu mengusir Rion dengan halus.

Rion tegak. Dia menyalami ketiga laki-laki yang tadi sudah menanyainya. Aku salut melihat sikap Rion. Sebenarnya masih ada sebagian rasa yang tertinggal untuknya. Bagaimanapun Rion pernah dekat denganku. Banyak kenangan manis antara kami berdua. Tapi rasa itu harus aku hilangkan. Aku teringat nasehat-nasehat dari Uni Laila. Rion menatapku lama. Lama sekali.

“Aku pamit Zalwa. Semoga kamu baik-baik saja.” Ucapnya terbata.

Aku terdiam, cairan bening menggenang di sudut mataku. Tidak boleh ada yang tahu kalau aku menangis. Aku tidak boleh mengeluarkan air mata untuk Rion, batinku. Rion tidak pantas untuk ditangisi. Setelah berpamitan dengan Mama, Rion berlalu dari rumahku. Mak Uncu mengantar dia keluar rumah.

Semenjak kedatangan Rion ke kampungku tidak pernah laki-laki itu menghubungiku lagi. Khabar terakhir aku dapat dari Rosa, Rion sudah menikah resmi dengan Tante Sisil. Foto pernikahan mereka dikirim Rosa ke gawaiku. Semoga kamu bahagia, Rion, batinku.

*****

“Bagaiaman Zalwa, kamu mau dikenalkan dengan pemuda yang diceritakan, Mak Adang ?” Mama bertanya padaku sore itu.

Aku terdiam. Tiga hari yang lalu Mak Adang berbicara denganku kalau dia akan menjodohkan aku dengan putra kenalannnya. Dulunya Mak Adang ingin menjodohkan untuk Uni Laila. Perjodohan tidak jadi karena Uni Laila menerima calon dari keluarga amaknya.

Samsudin, aku teringat nama yang disebutkan Mak Adang. Entah mengapa mendengar namanya saja aku tidak semangat.

Belum lagi Umurnya sangat jauh di atasku. Apakah harus menikah dengan orang tua ?

Tapi Mak Adang sangat membanggakan dia. Cerita-cerita baik mengenai dia mengalir dari lisan Mak Adang. Menurut Mak Adang, Samsu begitu mamak memangilnya adalah laki-laki yang bertanggung jawab. Dia seorang guru pada sebuah SD di kampung sebelah.

Di usianya yang sudah lewat tiga puluh tahun dia belum menikah, semata-mata karena dia menunggu dua adik perempuanya selesai kuliah. Karena dia yang membiayai kuliah adik-adiknya.

Pengetahuan agamanya juga bagus. Mak Adang berharap aku bisa dibimbingnya untuk mempelajari agama. Banyak orang tua yang ingin menjadikan dia sebagai menantu, tapi selalu ditolaknya. Waktu Mak Adang yang bertanya, tiada penolakan yang keluar dari mulutnya.

Tuhan, bagaimana ini ? Aku memang ingin menikah, tapi apakah aku harus menikah dengan orang yang lima belas tahun lebih tua dariku ? Hatiku sungguh galau. Bukan seperti itu kriteria laki-laki yang aku inginkan.

bersambung

DISCLAIMER
Konten pada website ini merupakan konten yang di tulis oleh user. Tanggung jawab isi adalah sepenuhnya oleh user/penulis. Pihak pengelola web tidak memiliki tanggung jawab apapun atas hal hal yang dapat ditimbulkan dari penerbitan artikel di website ini, namun setiap orang bisa mengirimkan surat aduan yang akan ditindak lanjuti oleh pengelola sebaik mungkin. Pengelola website berhak untuk membatalkan penayangan artikel, penghapusan artikel hingga penonaktifan akun penulis bila terdapat konten yang tidak seharusnya ditayangkan di web ini.

Laporkan Penyalahgunaan
search

New Post