Lili Herawati

Belum menuliskan informasi profilenya.

Selengkapnya
Navigasi Web

Jodoh Pilihan Paman (Part 2)

#tantangangurusiana H-4

.

Aku tahu mama dan mendiang papa tidak pernah setuju hubunganku dengan Rion. Rion tinggal satu kompleks denganku. Dia dan kawan-kawanya terkenal karena kelakuan mereka yang sering menganggu ketentraman penduduk sekitar.

Pemuda yang drop out dari sebuah universitas swasta itu berasal dari keluarga yang brokem. Mama dan papa nya sudah bercerai. Rion tambah susah diatur setelah papanya menikah lagi dengan Wanita yang hamper sebaya dengannya.

Pada awalnya kami hanya berteman. Rion yang sering curhat kepadaku membuat aku jadi simpati padanya. Rasa simpati yang akhirnya melahirkan cinta. Cinta yang terang-terangan ditentang oleh mama dan papa, sehingga kami menjalin hubungan secara sembunyi-sembunyi.

“Mama tidak salah dengar, Wa ? Kamu mau menikah dengan Rion ? Bukankah Rion dipenjara?” Mama menatapku tidak percaya.

“Rion sudah keluar, Ma. Barusan tadi dia menghubungiku.” Aku menjawab cepat.

“Zalwa, kamu sadar nggak, sih ? Rion itu pengangguran, kamu mau dikasi makan apa nanti?” Lanjut mama dengan intonasi suara yang sudah mulai meninggi.

“Rion bisa kerja, Ma.” Aku masih berusaha meyakinkan mama.

“Sadar Zalwa. Kamu tahukan tidak mudah mencari pekerjaan, apalagi Rion baru keluar dari penjara.” Mama menatap tajam kepadaku. “Bagaimana kalian bisa hidup nantinya ?”

Aku mengalihkan wajah dari tatapan mama. Aku tahu sifat mama menjawab, akan menambah naik emosinya. Aku memilih diam. Tapi aku berjanji akan tetap meyakinkan mamaku. Bahwa aku tidak salah memilih Rion jadi calon menantunya. Aku yakin itu.

*****

Sejak peristiwa malam itu, mama terlihat agak mengacuhkanku. Aku tahu mama kecewa, karena aku tahu mama sangat ingin aku kuliah. Tapi aku malah mengutarakan keinginan untuk menikah. Dengan Rion lagi.

Tapi mau diapakan. Jujur aku tidak tertarik untuk kuliah. Berkutat dengan buku-buku membuat kepalaku pusing. Menamatkan SMA saja aku rasanya sudah bersyukur. Satu tahun tidak naik kelas waktu di SMA, apa mama tidak tahu kalau otakku tidak mampu mencerna pelajaran-pelajaran sekolah yang membuatku stress.

Lebih baik uangnya digunakan untuk menyekolahkan Fauzan dan Fahri, dua adik kembarku. Fauzan dan Fahri anak yang pintar. Senyum cerah selalu nampak di wajah mendiang papa sewaktu melihar nilai raport mereka. Beda denganku, nasehat panjang lebar dari beliau pasti akan terdengar setelah papa melihat angka-angka yang tertera di raportku.

****

Suara orang yang berbicara dengan suara agak keras membangunkan aku dari tidur siang. Aku menajamkan telinga mencoba untuk menguping pembicaraan mereka. dari suaranya aku tahu kalau itu adalah Mak Uniang. Mak Uniang adalah adik mamaku yang nomor dua. Mamak adalah sebutan buat saudara laki-laki dari perempuan di daerah mamaku. Tetapi aku dari dulu terbiasa memanggilnya paman.

“Kalau Zalwa tak mau kuliah, janganlah Uni paksa.”

“Tapi uni mau dia seperti anak-anakmu, semuanya kuliah. Kalau dia kuliah kan dia bisa cari kerja yang lebih baik. Tidak seperti uni.” Aku mendengar mama menyahut.

“Tapi, Ni. Nanti dia tidak sungguh-sungguh yang ada mengahabiskan uang saja. Lebih baik uni tabung uangnya buat adik-adiknya.” Mak Uniang menjawab .

“Tapi uni khawatir, karena dia semalam minta balik ke Jakarta. Karena ada laki-laki yang mau menikahinya.”

“Berarti Zalwa memang kepingin menikah, Uni. Biarkan saja. Apa Uni mengenal laki-laki yang mau menikahinya.”

“Itulah yang buat uni khawatir. Pemuda itu tidak jelas kehidupannya.” Ibu menjawab. Cerita mengenai Rion mengalir dari mulut mama.

Tidak ada cerita yang positif mengenai Rion aku dengar dari mulut mama. Sebegitu jelekkah Rion di mata mama ? Atau apa rasa cinta yang aku miliki sudah menjadikan aku bucin pada dia ?

“Nanti biar saya akan bicara dengan Zalwa, Uni.” Mak Uniang berkata sebelum pamit pada mama.

*****

Panggilan telpon dari Rosa siang itu menghentikan aktivitasku yang sedang membantu mama membungkus gula untuk dijual. Alhamdulillah, warung kami selalu ramai. Gula yang dibeli mama dalam karung kami bungkus sendiri. Kata mama untungnya lebih besar daripada membeli yang sudah dibungkus oleh kedai grosiran.

Rosa adalah temanku. Dari kecil kami sudah bersahabat. Rumah kami berdekatan. TK sampai SMA aku selalu satu sekolah denganya. Tapi karena aku pernah tinggal kelas Rosa duluan tamat SMA dariku. Dia bekerja di sebuah kafe. Sebelum mama mengajakku pindah ke Padang, sebenarnya Rosa sudah mau membantuku untuk memasukan aku bekerja di kafe yang sama.

“Ada apa, Ros ?” Aku menjawab panggilan telpon Rosa dengan suara pelan.

“Kayaknya kamu harus berpikir menerima ajakan Rion untuk menikah, Wa.”

“Kenapa Ros ? Ada apa dengan Rion ?” Aku bertanya penasaran.

“Aku kirim ya vidonya ke kamu. Nanti aku akan cari bukti yang lain. Udah ya akum aku kerja lagi, takut kena tegur bos.” Rosa menjawab cepat.

Penasaran aku menunggu video yang dikirim Rosa. Perasaanku tidak enak. Cepat aku mendownload video yang dikirim Rosa. Tuhan, apa aku tidak salah lihat ?

.

bersambung

DISCLAIMER
Konten pada website ini merupakan konten yang di tulis oleh user. Tanggung jawab isi adalah sepenuhnya oleh user/penulis. Pihak pengelola web tidak memiliki tanggung jawab apapun atas hal hal yang dapat ditimbulkan dari penerbitan artikel di website ini, namun setiap orang bisa mengirimkan surat aduan yang akan ditindak lanjuti oleh pengelola sebaik mungkin. Pengelola website berhak untuk membatalkan penayangan artikel, penghapusan artikel hingga penonaktifan akun penulis bila terdapat konten yang tidak seharusnya ditayangkan di web ini.

Laporkan Penyalahgunaan
search

New Post