Lili Herawati

Belum menuliskan informasi profilenya.

Selengkapnya
Navigasi Web

Jodoh Pilihan Paman (Part 4) H-6

#tantangangurusiana

.

Aku mengikuti langkah Uni Laila memasuki rumah Mak Adang. Sudah hampir lima bulan berada di kampung baru kali ini aku berkunjung ke rumah mamakku. Netraku bergerilya memperhatikan isi rumah. Tidak banyak perabotan yang aku lihat terdapat di rumah ini.

Di ruang tamu hanya terletak satu set sofa berwarna merah bata. Sebuah kaligrafi yang cukup besar berwarna kuning keemasan menghias dinding ruang tamu.

Kami melangkah ke ruang tengah yang merupakan ruang keluarga. Ruang ini terlihat kosong hanya ada sebuah televisi layar datar yang tidak terlalu besar di bofet. Di depan nya terhampar sebuah permadani. Satu buah lemari buku berisi buku-buku agama tertata dengan rapi di dinding sebelah kanan.

“Heran ya Wa, lihat rumah Uni macam surau, tak ada perabotannya.” Uni Laila berkata sambil tertawa melihat keheranan di mataku kenapa rumah sebesar ini nyaris kosong.

Aku tersipu malu. Uni Laila nampaknya pandai membaca pikiran, batinku.

“Abak tidak mau banyak perabotan di rumah, Wa. Kata Abak, kalau harta kita banyak, nanti kalau meninggal hisabnya juga lama. Abak tidak ingin lama mengantri untuk masuk ke Sorga karena harus menjawab pertanyaan terlebih dahulu.” Uni Laila berkata sambil tersenyum.

“Kamu tahu Abdul Rahman bin Auf RA, Awa ?” Uni Laila bertanya kepadaku. Aku menggeleng. Jujur aku miskin pengetahuan agama. Jangankan tahu sahabat Rasul, keluarga Rasul saja aku sudah banyak lupa. Salat wajib pun masih banyak bolong-bolongnya.

“Beliau adalah Sahabat Rasulullah SAW yg paling kaya, Zalwa. Konon dikatakan dia adalah sahabat yang paling terakhir masuk surga karena lamanya masa yang digunakan untuk menghisab beliau.” Jelas Uni Laila. “Makanya Abak tidak mau banyak memiliki barang di rumah ini.” Lanjut Uni Laila.

Aku mendengar penjelasan Uni Laila walau pikiranku belum dapat mencerna sepenuhnya maksud perkataanya.

Uni Laila membawa aku ke ruangan belakang, ruangan yang berfungsi sebagai dapur dan ruang makan. Ruangan ini nampak bersih dan tertata rapi. Uni Laila membuatkan teh untukku.

“Ayok Wa, kita duduk di ruang tengah saja.” Ajak Uni Laila sambil membawa nampan berisi gelas .

“Biar Awa yang bawa, Ni.”

“Tak apa, Awa. Kamu tamu, Uni. Biar Uni yang bawa.” Tolaknya halus.

Uni Laila melangkah ke ruang tengah. Aku mengikut dia dari belakang.

Kami duduk sambil bercerita. Aku suka bercerita dengan Uni Laila. Sudah lama aku merindukan punya seorang kakak. Ternyata sangat menyenangkan punya kakak perempuan, batinku. Terlahir sebagai anak paling tua membuatku tidak punya teman cerita.

Jarak usiaku dengan si kembar cukup jauh. Fahri dan Fauzan juga tidak terlalu akrab denganku. Dua anak kembar itu tingkahnya selalu buatku kesal, alhasil aku sering memarahinya. Fahri dan Fauzan jadi menjaga jarak denganku.

“Gimana Awa ? Jadi kamu kuliah ? Mandeh cerita ke uni kalau mau menguliahkanmu.” Uni Laila tiba-tiba bertanya mengenai kuliah padaku.

Mandeh adalah panggilan dari anak kepada saudara perempuan ayahnya.

“Awa tidak minat kuliah, Uni. Semua pelajaran membuat kepala Awa pusing. Awa mau bekerja saja.” Aku menjawab cepat.

“Cari kerja sekarang susah, Wa. Apalagi hanya mengandalkan ijazah SMA.” Uni Laila berkata pelan. “Yang sarjana saja banyak yang menganggur, Wa. Contohnya, Uni.”

Uni Laila cerita kalau dia tamatan Akademi Perawat. Setelah wisuda dia sempat bekerja di sebuah rumah sakit swasta di kota. Tapi karena Mak Adang sering sakit dan tidak ada yang menjaga, Uni Laila memutuskan pulang kampung.

Jodoh mempertemukannya dengan Uda Yusril, suaminya. Uda Yusri masih keluarga jauh dari mendiang ibu Uni Laila. Uda Yusril jarang di rumah. Uda Yusril sopir bus lintas provinsi.

“Kami dijodohkan, Awa. Uni tidak pernah pacaran, karena agama kita tidak memperbolehkannya. Tidak perlu cinta untuk menikah, Awa. Tapi bangunlah rumah tangga dengan cinta.” Uni Laila menjawab waktu aku bertanya bagaimana dulu dia bisa menerima suaminya meski belum ada rasa cinta di hatinya.

Banyak pembelajaran aku dapat dari anak mamakku. Dari Uni Laila aku belajar bagaimana sikap perempuan yang baik. Aku senang cara dia menasehatiku. Lemah lembut dan tidak terkesan menggurui,

Uni Laila juga banyak bertanya tentang kehidupan pribadiku. Aku menceritakan tentang Rion kepadanya. Aku merasa punya tempat untuk bercerita. Dia manggut-manggut mendengar ceritaku. Beberapa masukan diberikan kepadaku setelah aku selesai bercerita.

Tangisan bayi Uni Laila menghentikan obrolan kami. Uni Laila menemui bayinya yang di kamar dan membawanya ke ruangan tengah. Bayi yang belum genap satu bulan itu nampak sangat lucu dan menggemaskan. Rasanya aku betah berlama-lama di sini bermain dengan bayinya Uni Laila. Tiba-tiba aku jadi kepingin punya bayi seperti Uni Laila.

*****

Kedatangan semua saudara laki-laki ibu di rumah sore itu membuatku sedikit heran. Rasa ingin tahuku membuatku ingin menguping pembicaraan mereka. Tapi mama menyuruhku untuk menggantikan beliau menunggu warung. Aku sedikit kecewa, mau membantah aku segan dengan mamak-mamakku.

“Wah… Zalwa pakai kerudung kini yo. Kamu rancak bana pakai kerudung tu. Mirip mamamu waktu muda.” Etek Lis menegurku waktu belanja di warung sore tu.

“Makasi Etek.” Jawabku pendek.

“Mana mamamu ?“ Perempuan yang sebaya mama itu kembali bertanya.

“Ada di dalam, Etek. Kebetulan mamak-mamak pada datang semua.” Jawabku.

“Ada rundiang penting agaknyo, Wa. Mungkin mencarikan jodoh untuk kamu.” Etek Lis berkata sambil tertawa.

Aku hanya diam, tidak menanggapi perkataan teman sepermainan mama waktu kecil dulu. Aku mengambilkan belanja Etek Lis dan menyerahkan kepada beliau.

“Makasi, Wa. Alangkah cantiknya Zalwa nanti kalau jadi anak daro.” Etek Lis menggodaku sambil tertawa dan berlalu dari warung. Aku hanya tersenyum menanggapi gurauannya.

Sebenarnya aku sangat ingin tahu maksud kedatangan saudara laki-laki mamaku. Tapi warung yang terpisah dari rumah membua percakapan mama dan mamak-mamakku tidak terdengar.

*****

“Ada yang ingin mama bicarakan denganmu, Wa.” Malam itu mama masuk ke kamarku. Perempuan yang nampak sedikit kurusan sejak kepergian papa itu duduk di hadapanku.

“Awa, mungkin kamu heran tadi kenapa semua mamak-mamakmu datang ke sini. Kami membicarakan tentangmu, Awa.” Mama berkata lembut.

“Mama sudah membicarakan keinginanmu untuk kembali ke Jakarta pada mamak-mamakmu. Mereka semua keberatan. Apalagi setelah mendengar kamu kembali ke sana karena mau menikah dengan Rion. Mama sudah menceritakan Rion ke mamakmu. “ Lanjut mama.

“Zalwa, diam-diam tanpa sepengetahuanmu mama mencari informasi mengenai Rion dari Tante Sri. Teman mama. Kamu tahu, Rion tinggal serumah dengan Tante Sisil. Ada yang bilang dia sudah menikahi Tante Sisil. Apa kamu masih mengharapkan laki-laki itu ?” Mama menatapku tajam.

Aku terdiam. Tante Sri adalah tetangga kami waktu di Jakarta. Dia dan mama sangat akrab. kami sudah menganggap Tante Sri dan keluarga seperti keluarga sendiri.

Aku tidak tahu ternyata mama mencari informasi mengenai Rion. Informasi mama sama seperti yang aku dapatkan dari Rosa. Rosa mengirim chat di WA mengatakan kalau Rion di usir orang tuanya dan sekarang tinggal di rumah Tante Sisil. Aku hanya menundukkan kepala. Tidak tahu mesti berkata apa.

“Kalau kamu tidak mau kuliah, mama tidak akan memaksa lagi. Kamu benar. Kuliah tidak bisa dipaksakan. Karena yang akan menjalaninya kamu, Nak.” Mama berkata setelah kami lama terdiam.

“Tadi mamakmu menyuruh mama bertanya kepadamu, kalau memang kamu mau menikah, mereka akan mencarikan jodoh untukmu. Semua terserah padamu.” Mama tersenyum menatapku. “Mama juga kepingin menantu Wa. Biar ada yang menjagamu.” Lanjutnya. Ucapan mama membuatku tersipu. Aku tidak berani menatap mata mamaku.

*****

[Apa khabar, Sayang] Chat dari Rion masuk Kembali ke gawaiku.

[Jangan menghubungi aku lagi] Aku menjawab ketus.

Rion langsung menelponku setelah chat yang aku kirim dibacanya. Dengan malas aku menjawab telponnya. Aku menanyakan perihal Tante Sisil pada laki-laki itu. Rion menyangkal kalau dia punya hubungan dengan Tante Sisil. Dia mengatakan kalau dia hanya bekerja pada Tante Sisil. Hubungannya dengan Tante Sisil hanya sebatas bos dan bawahan.

Aku tidak terima sangkalan Rion. Semua foto dan video yang dikirim Rosa aku kirim balik ke Rion. Aku meminta dia jangan menghubungiku lagi. Tak lupa aku blokir nomor kontaknya di handphoneku.

Aku memutuskan tidak akan mengenal Rion lagi. Rion bukan laki-laki yang baik. Tidak pantas seorang laki-laki tinggal serumah dengan wanita yang bukan muhrimnya.

****

Kedatangan seorang pemuda pagi itu di depan warung membuatku dan mama yang sedang merapikan warung kaget luar biasa. Bagaimana dia bisa sampai ke sini ?

bersambung

DISCLAIMER
Konten pada website ini merupakan konten yang di tulis oleh user. Tanggung jawab isi adalah sepenuhnya oleh user/penulis. Pihak pengelola web tidak memiliki tanggung jawab apapun atas hal hal yang dapat ditimbulkan dari penerbitan artikel di website ini, namun setiap orang bisa mengirimkan surat aduan yang akan ditindak lanjuti oleh pengelola sebaik mungkin. Pengelola website berhak untuk membatalkan penayangan artikel, penghapusan artikel hingga penonaktifan akun penulis bila terdapat konten yang tidak seharusnya ditayangkan di web ini.

Laporkan Penyalahgunaan
search

New Post