3 Model pembelajaran di Kurikulum Merdeka
Kurikulum merdeka saat ini membawa guru untuk kreatif dan inovatif dalam membimbing siswa di kelas.
Pembelajaran yang sederhana namun mengarahkan siswa kepada tujuan Pembelajaran akan lebih bermakna.
Kurikulum saat ini mengacu pada perkembangan dunia dan mengikuti perubahan yang terus terjadi. Kemampuan dalam informasi dan teknologi masih harus ditingkatkan lagi.
Kementrian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi (Kemendikbudristek) resmi meluncurkan “Kurikulum Merdeka” sebagai implementasi Pelaksanaan Kurikulum baru.
Di dalam kurikulum ini guru dapat memilih dan menentukan format, materi esensial, cara dan pengalaman yang ingin disampaikan kepada siswa. Guru diharapkan mampu menjadi penggerak yang mampu menggali dan memaksimalkan potensi siswanya. Karena setiap siswa memiliki potensi dan bakat yang berbeda-beda, tidak bisa disamakan.
Tiga model pembelajaran bisa dijadikan referensi dalam implementasi kurikulum merdeka.
1. Model Pembelajaran Project Based Learning
Model pembelajaran project based learning ini menjadi ciri khas dari Kurikulum Merdeka. Untuk mendukung pengembangan karakter sesuai dengan profil pelajar pancasila. Dalam kurikulum prototipe, sekolah diberikan keleluasaan dan kemerdekaan untuk memberikan proyek-proyek pembelajaran yang relevan dan dekat dengan lingkungan sekolah. Pembelajaran berbasis proyek dianggap penting untuk pengembangan karakter siswa karena memberikan kesempatan kepada siswa untuk belajar melalui pengalaman (experiential learning).
Project Based Learning juga dapat diartikan sebagai model pembelajaran yang berpusat pada siswa dan berangkat dari suatu latar belakang masalah untuk mengerjakan suatu project atau aktivitas nyata yang akan membuat siswa mengalami berbagai kendala kontekstual sehingga harus melakukan invertigasi dan pemecahan masalah untuk dapat menyelesaikan masalah sehingga dapat mencapai kompetensi sikap, pengetahuan, dan keterampilan.
Dengan model pembelajaran ini siswa dapat belajar dimanapun dan kapanpun, tidak terikat waktu dan tempat. Sehingga jika tujuan pembelajaran belum tercapai maka dapat dimaksimalkan dengan pembelajaran online. Model pembelajaran ini dapat menjadi alternaltif solusi untuk memaksimalkan potensi siswa sekaligus penerapan Kurikulum Merdeka.
2. Model Blended Learning
Model pembelajaran inovatif memanfaatkan Teknologi Informasi dan Komunikasi. Model Pembelajaran Blended Learning merupakan metode pembelajaran yang memadukan antara pembelajaran tradisional (face to face) dengan pembelajaran jarak jauh/online yang menggunakan berbagai media realitas virtual/maya. Jadi dalam prosesnya siswa belajar tatap muka sesuai jadwal yang sudah ditentukan ditambah dengan pembelajaran online di luar jam belajar. Pembelajaran online ini bisa dalam bentuk forum diskusi, pemberian tugas, maupun pengumpulan tugas. Ada empat konsep pembelajaran blended learning yang dikemukakan oleh Driscoll (2002):
Pembelajaran yang menggabungkan berbagai teknologi berbasis web untuk mencapai tujuan pendidikan
Menggunakan kombinasi berbagai pendekatan seperti pendekatan behavioristik, humanistik, dan konstruktivisme guna mencapai hasil pembelajaran yang optimal dan sesuai tujuan yang dirancang.
Pembelajaran yang mengkombinasikan ragam format teknologi pembelajaran seperti video tape, CD-ROM, webbased training, film dengan pembelajaran tatap muka.
Menggabungkan teknologi pembelajaran dengan perintah tugas kerja aktual untuk menciptakan pengaruh yang baik pada pembelajaran dan tugas.
3. Model Pembelajaran Flipped Classroom
Hampir sama sebelumnya, Flipped Classroom merupakan salah satu bentuk pembelajaran lain dari model pembelajaran blended (melalui interaksi tatap muka dan virtual/online) yang mengkombinasikan antara pembelajaran sinkron (synchronous) dengan pembelajaran mandiri yang askinkron (asynchronous). Pembelajaran sinkron biasanya terjadi secara real time di kelas. Sedangkan, pembelajaran asinkron adalah pembelajaran yang sifatnya lebih mandiri.
Dalam menerapakan Metode flipped classroom ini, ada 3 kegiatan pembelajaran yang harus dilakukan yaitu sebelum kelas dimulai (pre-class), saat kelas dimulai (in-class) dan setelah kelas berakhir (out of class).
Sebelum pembelajaran di kelas akan dimulai, siswa sudah mempelajari materi yang akan dibahas sebelumnya secara mandiri. Pada tahap ini, kemampuan yang diharapkan dimilki oleh peserta didik adalah mengingat (remembering) dan mengerti (understanding) materi.
Dengan demikian pada saat pembelajaran di kelas sedang berlangsung, siswa sudah siap untuk mengaplikasikan (applying) dan menganalisis (analyzing) materi melalui berbagai kegiatan interaktif di dalam kelas. Tentunya, dengan bimbingan yang dilakukan oleh guru seperti mengobservasi atau mengawasi kegiatan belajar siswa dan juga memberikan feedback atas pekerjaan yang telah dikerjakan siswa sebagai bahan perbaikan dan kemajuan belajar siswa.
Kemudian dilanjutkan dengan mengevaluasi (evaluating) dan mengerjakan tugas berbasis project tertentu sebagai kegiatan setelah kelas berakhir (creating). Untuk mengecek pemahaman siswa terhadap materi yang telah dipelajari oleh siswa selama pelajaran yang diberikan oleh guru.
Dengan model ini, dapat membekali kemampuan siswa untuk berpikir kritis (critical thinking), bekerjasama (collaborative), kemampuan berkomunikasi (comunication skills), dan berpikir kreatif dan inovatif (creative/innovative) dapat kita laksanakan dengan baik. Guru tidak mendominasi waktu di kelas. Interaksi guru dan siswa semakin baik dan semakin menyenangkan.
Model pembelajaran Flipped Classroom sangat cocok diterapkan dalam Kurikulum Merdeka ini, karena konsep model pembelajaran ini dapat mengembangkan kemandirian siswa dan sangat fleksibel diterapkan dalam pembelajaran.
Referensi
Abdullah, Walib. (2018). Model blended learning dalam meningkatkan efektifitas pembelajaran. FIKROTUNA: Jurnal Pendidikan & Manajemen Islam, 7(1), 855-866.
**(censored)**
Wulandari, Mega. (2020). Konsep Metode Flipped Classroom. **(censored)**
Konten pada website ini merupakan konten yang di tulis oleh user. Tanggung jawab isi adalah sepenuhnya oleh user/penulis. Pihak pengelola web tidak memiliki tanggung jawab apapun atas hal hal yang dapat ditimbulkan dari penerbitan artikel di website ini, namun setiap orang bisa mengirimkan surat aduan yang akan ditindak lanjuti oleh pengelola sebaik mungkin. Pengelola website berhak untuk membatalkan penayangan artikel, penghapusan artikel hingga penonaktifan akun penulis bila terdapat konten yang tidak seharusnya ditayangkan di web ini.
Laporkan Penyalahgunaan
