Yuliati Mulyana

Belum menuliskan informasi profilenya.

Selengkapnya
Navigasi Web
Hindari cerai jelang Ramadhon

Hindari cerai jelang Ramadhon

Bercerai tidak dilarang tapi sesuatu yang sangat dibenci Tuhan.

Perceraian di bulan Ramadan itu berat secara emosional dan spiritual. Di satu sisi sedang puasa, di sisi lain hati lagi luka. Yang penting sekarang: menenangkan keadaan dulu, bukan memaksa keputusan besar.

Ini langkah yang bisa kamu lakukan khusus di bulan Ramadan:

1. Tunda keputusan besar, fokus redakan konflik

Ramadan bukan waktu yang ideal untuk memutuskan cerai karena:

Emosi lebih sensitif (lapar, lelah)

Ibadah seharusnya jadi penenang, bukan tekanan

👉 Kalau bisa, sepakati: “Kita tunda dulu keputusan sampai Ramadan selesai.”

2. Jaga lisan & emosi (ini pahala besar)

Hindari debat saat puasa

Kalau mulai panas, diam itu ibadah

Ingat: menahan emosi nilainya lebih tinggi dari menang argumen

3. Gunakan momen spiritual untuk melembutkan hati

Coba lakukan (sendiri dulu juga boleh):

Doa khusus setelah sholat: minta ketenangan, bukan langsung minta pasangan berubah

Istighfar saat hati panas

Sholat sunnah (Dhuha / Tahajud) → ini sering bikin hati lebih jernih

4. Bicara setelah berbuka atau setelah tarawih

Pilih waktu:

Perut sudah tenang

Suasana lebih adem

Gunakan kalimat:

“Aku capek secara batin. Aku ingin Ramadan ini jadi waktu kita menenangkan diri, bukan saling melukai.”

5. Libatkan orang bijak (bukan provokator)

Orang tua yang adil

Ustadz/ustadzah yang tidak langsung menyalahkan

Konselor pernikahan

👉 Jangan curhat ke orang yang hobinya memperkeruh.

6. Evaluasi dengan jujur (tanpa menyalahkan)

Tanya ke diri sendiri:

Apakah ini konflik yang masih bisa diperbaiki?

Atau sudah masuk kategori menyakiti secara terus-menerus?

Menghindari perceraian itu mungkin, tapi butuh dua orang yang sama-sama mau berjuang. Ini langkah-langkah yang paling sering benar-benar membantu di dunia nyata:

Perbaiki komunikasi (ini kunci utama)

Bicara tanpa menyerang: pakai “aku merasa…” bukan “kamu selalu…”

Dengarkan untuk memahami, bukan untuk membalas

Jangan bahas masalah saat emosi sedang panas

Hentikan kebiasaan yang merusak

Diam berhari-hari, sarkas, membandingkan pasangan, mengungkit masa lalu

Ancaman cerai saat bertengkar → ini bikin hubungan makin rapuh

Bangun kembali rasa aman & hormat

Tepati janji kecil

Jujur (soal uang, perasaan, komunikasi dengan lawan jenis)

Jangan mempermalukan pasangan di depan orang lain

Urus masalah inti, bukan gejalanya

Masalah cerai biasanya bukan soal sepele, tapi:

Keuangan

Campur tangan keluarga

Perselingkuhan

Kurang perhatian / keintiman

👉 Tentukan masalah paling utama, fokus di situ dulu.

Ingat kembali “kenapa dulu menikah”

Apa yang dulu membuat kalian memilih satu sama lain?

Apa yang sekarang sudah hilang dan bisa dibangun lagi?

Cari bantuan pihak ketiga (ini tanda dewasa, bukan gagal)

Konselor pernikahan

Tokoh agama yang bijak

Terapis keluarga

Datang sebelum semuanya terlambat, bukan setelah rasa sudah mati.

Jaga diri sendiri juga

Jangan mengorbankan kesehatan mental demi “bertahan”

Hubungan sehat butuh dua orang yang sama-sama sehat

Jika ada kekerasan fisik, verbal berat, atau manipulasi ekstrem, keselamatan kamu lebih penting daripada mempertahankan pernikahan.

Jika ada kekerasan, ancaman, atau pelecehan, agama tidak pernah mewajibkan bertahan. Keselamatan tetap nomor satu, bahkan di Ramadan.

DISCLAIMER
Konten pada website ini merupakan konten yang di tulis oleh user. Tanggung jawab isi adalah sepenuhnya oleh user/penulis. Pihak pengelola web tidak memiliki tanggung jawab apapun atas hal hal yang dapat ditimbulkan dari penerbitan artikel di website ini, namun setiap orang bisa mengirimkan surat aduan yang akan ditindak lanjuti oleh pengelola sebaik mungkin. Pengelola website berhak untuk membatalkan penayangan artikel, penghapusan artikel hingga penonaktifan akun penulis bila terdapat konten yang tidak seharusnya ditayangkan di web ini.

Laporkan Penyalahgunaan
search

New Post