Yuliati Mulyana

Belum menuliskan informasi profilenya.

Selengkapnya
Navigasi Web
HUJAN DI LEMBAYUNG SENJA

HUJAN DI LEMBAYUNG SENJA

HUJAN DI LEMBAYUNG SENJA

Kuliahku dah hampir selesai, skripsi tinggal dua kali bimbingan lagi. Dosen pembimbingku sudah suruh aku untuk daftar sidang Seperti biasa aku lajukan motorku selesai bimbingan skripsi dari rumah dosen pembimbingku. Hari hampir magrib, hujan pun mulai turun rintik-rintik, padahal lembanyung senja terang memerah di langit.

Aku butuh camilan pendamping malam hari, saat ketik skripsi. Parkirlah aku di sebuah minimarket.

Saat milih camilan pavoritku datang pria bertubuh tinggi cungkring menghampiriku.

" Hay Kamu Ana Kah?", sapanya ramah.

" iya siapa yaa ? Maaf apakah saya kenal kamu?" , jawabku.

" Aku Dirham masa Ana Lupa sama aku Dirham si jangkung ???" jawabnya.

Aku tatap lama pria jangkung itu dan sekilas dari sorot matanya baru aku pahami bahwa dia adalah teman masa SMA aku dulu.

" oh iya Dirham wah pangling banget kamu jadi kurus begini Dirhaaam ! ", kataku hampir teriak.

Sambil bertepuk salam kami tertawa bersama dan saling sapa.

Kami ngobrol sambil belanja. Akhirnya Dirham yang bayarin semua belanjaanku sambil dia bilang mau antar aku pulang ke rumah.

" Aku bawa motor sendiri nih, ga usah Dirham antar aku", aku menolak tawaran pulang.

" gpp biar Dirham setir yaa motor kamu sampai rumah" , jawabnya.

"Dengan senang hati! " , jawabku.

Sepanjang jalan menuju rumahku aku memegang erat pinggang Dirham, diatas motorku itu. Dirham sengaja jalankan motorku itu agak lambat jalannya sambil bercerita banyak tentang kami selama kami tak bersama selepas Lulus SMA.

Tanpa sungkan kupererat pelukan tangan ini seolah tak mau berpisah.

Motor akhirnya sampai di depan rumahku dan Dirham menggenggam balas tanganku yang masih dalam pelukannya.

" Kita sudah sampai Ana, ini masih rumah kamu kan ?" , kata Dirham sambil meremas tanganku.

" Iya ini masih rumahku, kamu ternyata masih ingat jalan menuju rumahku ini", jawabku.

"Tentu aku ingat dong, Kamu kan teman baikku . Sukses skripsimu yaaa sampai jumpa lagi" ,kata Dirham sambil turun dari motor dan melepas gengaman tangan.

Lalu Dirham pergi berlalu jalan di gelap malam.

Hal yang aku lupakan adalah kenapa Dirham ga kasih nomor kontaknya?, kenapa Dirham sepertinya hanya ingin kita sebatas teman? Padahal aku menantikan Dirham datang ke rumah dan setelahku wisuda Dirham datang melamar.

Ternyata Dirham hanyalah hujan di langit merah. Dirham hanya pelepas dahaga dari siang yang kekeringan. Datang disaat senja saat langit penuh lembayung. Hujan ini berhenti dan akhirnya datanglah gelap yang sepi.

Tak ada lagi kabar Dirham oh Dirham. Saat Wisuda pun hanyalah Ibuku dan dua adikku yang mendampingi wisuda ini. Hujan di lembayung senja.

DISCLAIMER
Konten pada website ini merupakan konten yang di tulis oleh user. Tanggung jawab isi adalah sepenuhnya oleh user/penulis. Pihak pengelola web tidak memiliki tanggung jawab apapun atas hal hal yang dapat ditimbulkan dari penerbitan artikel di website ini, namun setiap orang bisa mengirimkan surat aduan yang akan ditindak lanjuti oleh pengelola sebaik mungkin. Pengelola website berhak untuk membatalkan penayangan artikel, penghapusan artikel hingga penonaktifan akun penulis bila terdapat konten yang tidak seharusnya ditayangkan di web ini.

Laporkan Penyalahgunaan
search

New Post