Humas Masemba

Belum menuliskan informasi profilenya.

Selengkapnya
Navigasi Web
Guru MTs se-Bantul Ikuti Pelatihan Menulis Puisi Ekoteologi

Guru MTs se-Bantul Ikuti Pelatihan Menulis Puisi Ekoteologi

Guru MTs se-Bantul Ikuti Pelatihan Menulis Puisi Ekoteologi

Bantul (MTsN 9 Bantul)—Lima dosen Program Studi Sastra Indonesia Departemen Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia FBSB UNY, Dr. Else Liliani, S.S., M.Hum., Prof. Dr. Suminto A. Sayuti, Kusmarwanti, S.S., M.Pd., M.A., Hadi Prasetyo, S.S., M.A., dan Valentina Edellweiz Edwar, S.Pd., M.A., menggelar Pelatihan Menulis Puisi Bertema Ekoteologi bagi guru MTs se-Kabupaten Bantul, Selasa (28/4), di Rumah Makan Waroeng Omah Sawah. Kegiatan tersebut merupakan bagian dari program Pengabdian kepada Masyarakat (PkM) yang bertujuan meningkatkan kompetensi literasi guru sekaligus menanamkan kesadaran ekologis melalui karya sastra.

Ketua Tim PkM Dr. Else Liliani, S.S., M.Hum. menjelaskan, penulisan puisi ekoteologi menjadi salah satu upaya mendukung program prioritas Kementerian Agama RI. Menurutnya, guru memiliki peran penting dalam menanamkan kepedulian terhadap lingkungan kepada peserta didik melalui pembelajaran sastra.

“Setelah pelatihan ini akan ada pendampingan penulisan puisi melalui grup WhatsApp agar peserta dapat terus mengembangkan karya mereka,” ujarnya.

Hasil karya peserta nantinya akan dihimpun dan diterbitkan dalam bentuk buku elektronik (e-book) sebagai dokumentasi sekaligus sumber inspirasi pembelajaran.

Sementara itu, Kasi Dikmad Kankemenag Kabupaten Bantul Ahmad Musyadad, S.Pd.I., M.S.I. menegaskan bahwa ekoteologi merupakan langkah nyata untuk menyelamatkan bumi dan seluruh isinya. Menurutnya, manusia memiliki peran sebagai khalifah di bumi yang bertugas menjaga, merawat, dan melestarikan alam.

Ia mencontohkan bahwa dalam kehidupan sehari-hari, ajaran agama tidak bisa dilepaskan dari alam. Salah satunya saat berwudu yang menggunakan air sebagai sarana bersuci.

“Kalau air tidak dijaga, menjadi kotor, atau bahkan habis, tentu tidak bisa digunakan untuk membersihkan diri dan menjalankan ibadah dengan baik,” jelasnya.

Menurut Ahmad, nilai-nilai ekoteologi juga telah masuk dalam kurikulum pendidikan. Bahkan, Kantor Urusan Agama (KUA) juga memiliki program ekoteologi seperti pelepasan ikan, pelepasan burung, dan penanaman pohon sebagai bentuk nyata kepedulian terhadap lingkungan.

Ia menambahkan, tulisan juga dapat menjadi warisan yang memanjangkan usia seseorang melalui gagasan dan manfaat yang terus hidup.

Sesi utama kegiatan dipandu Andrian Eka Saputra, S.S., guru Bahasa Indonesia MTsN 9 Bantul. Sementara itu, narasumber utama Prof. Dr. Suminto A. Sayuti menjelaskan bahwa ekoteologi merupakan ejawantah hubungan manusia, alam, dan Tuhan.

Selama ini, kata dia, alam sering diposisikan hanya sebagai objek sehingga dieksploitasi. Padahal, manusia seharusnya hidup berdampingan dengan alam secara harmonis.

Menurutnya, puisi dapat menjadi salah satu media untuk menjaga alam karena mampu menyampaikan pesan moral, kritik sosial, dan refleksi mendalam tentang lingkungan.

“Siapa saja bisa menulis puisi asalkan mengerti bahasa,” ungkapnya.

Kegiatan berlangsung interaktif dengan diskusi dan praktik menulis puisi. Para peserta tampak antusias mengikuti setiap sesi dan berharap hasil pelatihan ini dapat diterapkan dalam pembelajaran Bahasa Indonesia di madrasah masing-masing. (and)

DISCLAIMER
Konten pada website ini merupakan konten yang di tulis oleh user. Tanggung jawab isi adalah sepenuhnya oleh user/penulis. Pihak pengelola web tidak memiliki tanggung jawab apapun atas hal hal yang dapat ditimbulkan dari penerbitan artikel di website ini, namun setiap orang bisa mengirimkan surat aduan yang akan ditindak lanjuti oleh pengelola sebaik mungkin. Pengelola website berhak untuk membatalkan penayangan artikel, penghapusan artikel hingga penonaktifan akun penulis bila terdapat konten yang tidak seharusnya ditayangkan di web ini.

Laporkan Penyalahgunaan
search

New Post