ADELWEIS DIKAKI BUKIT
Oleh. Thanil.Abu
#Tagur Siana ke - 74
Tumbuh indah sekuntum bunga adelweis, merekah merona momosona.
Memancarkan wajah penuh keagungan, tanda cinta kasih yang abadi.
***
Menatap dunia dikaki bukit yang terjal, tak seorangpun yang dapat menjamah.
Elok tak berkata. bungkam, terurai air mata perpisahan. Adelweis mengisah pilu, ditutur penuh misteri.
***
Tengadah netra tak berkedip, disela ilalang yang rimbun, dikolopakmu menari sejuta kisah asmara.
Terjerumbai ketanah, menanam sejuta misteri kisah luka disela bayangmu.
***
Dikaki bukit tersandar asa yang tak berharap, Raup jemari kaku mengulur waktu
Adelweis menguncup penuh pilu, mengharap amor terulang kembali disenja bukit asmara
***
Saat menyuntingmu dalam lara yang membisu. Bukit terjal saksi tak mengucap kata. cinta tertanam dilembah duka.
Adelweis menari dijiwa yang hampa, pasrah dalam untaian lara, menyapa rindu tak terbilang, walau hati terguras derita
***
Kembang warnamu bak tiara tersusun diistana, saat para selir memetik untuk disembahkan kepada permaisuri.
Kau tetap diam dan membisu, disaat kuncupmu berteriak luka seakan pasrah dalam derita, keabadianmu engkau serahkan kepada siapa pemujamu.
#parigimoutong#
#thanilabu#
#17032021#
Konten pada website ini merupakan konten yang di tulis oleh user. Tanggung jawab isi adalah sepenuhnya oleh user/penulis. Pihak pengelola web tidak memiliki tanggung jawab apapun atas hal hal yang dapat ditimbulkan dari penerbitan artikel di website ini, namun setiap orang bisa mengirimkan surat aduan yang akan ditindak lanjuti oleh pengelola sebaik mungkin. Pengelola website berhak untuk membatalkan penayangan artikel, penghapusan artikel hingga penonaktifan akun penulis bila terdapat konten yang tidak seharusnya ditayangkan di web ini.
Laporkan Penyalahgunaan