HUSTANIL ABU, S.Pd.

Belum menuliskan informasi profilenya.

Selengkapnya
Navigasi Web

TEMARAM WAJAH IBUNDA

TEMARAM WAJAH IBUNDA

Lomba bulan Desember

Oleh. Thanil. Abu

#Tagur Siana ke - 338

Ibu adalah sosok yang sangat penting dan krusial di mata anak-anaknya. Peran ibu dalam merawat, membesarkan dan menjaga anaknya tak akan pernah bisa dibandingkan dengan apapun. Cinta seorang ibu kepada anak pun melebihi segala sesuatu yang ada di dunia. Seorang ibu tak akan pernah ragu membela anaknya dalam segala situasi. Ibu juga akan maju paling depan saat anaknya disakiti dan akan merangkul saat anaknya bersedih.

Namun, selalu ada cara untuk mengungkapkan seberapa besar arti ibu bagi kita. Salah satunya adalah dengan untaian kalimat yang menjadi kenangan bersamanya.

Aku lahir dari keluarga yang sederhana semenjak kecil aku sudah ditinggalkan oleh ibu dan bapak aku bertitel yatim piatu oleh ibu bapakku

Walau aku tak pernah melihat raut wajahmu,tapi kenangan yang terasa dalam batin ini menyikap tabir tangan emasmu. Tepatnya hari Selasa,05 September 1968 engkau melahirkan ku dari rahimmu yang penuh dengan mutiara kasih.Aku ditakdirkan lahir sebagai anak bungsu dari enam bersaudara. Mungkin itu sudah ketetapan sang pencipta,aku dilahirkan tanpa melihat dan mengenal raut wajahmu. Menurut mereka kakak kakakku,saat tangis pertamaku terdengar raut wajah ibuku begitu senang dan ceria,walaupun ia menahan perih dan sakit yang tak terbilang. Saat itu juga dengan perlahan setetes demi setetes air matanya jatuh disela sela pipinya yang sudah mulai pucat dan mengkerut karena termakan usia senja.Disaat itu pula aku menurut mereka sedang diazankan oleh bapak yang juga sudah menginjak usia yang rapuh. Dengan suara terbata bata bapak saya mengalunkan azan ditelinga saya dengan tatapan yang berbinar binar,seakan akan ia mengetahui firasat yang ada dirinya.Ibupun tersenyum melihat bapak dengan tatapan kosong.

Ibuku berusaha tegar walaupun pikirannya menerawang entah kemana.Seakan akan ia sudah melihat sang malaikat Izrail sesaat lagi menjemputnya.Dengan suara yang terbata bata ia membisikan kata ketelinga bapak.Menurut cerita mereka,bahwa ucapan itu adalah ucapan terakhir yang didengar oleh bapak."Jagalah anak anak kita,didiklah mereka dengan ilmu dan agama",usai itu ibu menggenggam tangan kanan bapak.Dengan firasat yang ada padanya bapak meletakan aku disamping ibu.Ibu menciumku seakan mengucapkan salam perpisahan pada anaknya untuk selama lamanya.

Tak memerlukan waktu yang lama ibu menghembuskan nafasnya,dengan antaran dua kalimat syahadat yang dibimbing bapak."Innalillahi wainnaillahi rojiun" itulah kalimat yang diucapkan bapak, sambil mengusap wajah dan mencium kening ibu terakhir kalinya.Kamarpun menjadi riuh dengan suara tangis bapak,kakak dan sanak saudara.Aku yang masih terbaring disisi ibu dipeluk sang kakak.Ibu kaulah wanita yang muliah,derajatmu tiga tingkat dibanding ayah,kau mengandung,melahirkan dan membesarkan.Slogan ini hanya kenangan buat anakmu.

Bapak dan keluarga tidak mau larut dalam kesedihan yang berkepanjangan.Merekapun menata masa depan baru.walau ibusudah tak ada lagi disisiku,tapi kasih sayang ayah dan kakak tak pernah luntur termakan waktu untuk mengasuhku.Alhamdulillah kakak yang mengasuhku sudah berkeluarga walaupun belum dikaruniai momongan,sehingga aku seakan akan menjadi anak kandung mereka.Disetiap detak jantung mereka,disitulah denyut nadi dan nafas adik yang disayanginya.Kemesraan yang terjadi dalam keluarga membuat aku tumbuh dengan kasih sayang.Saya tidak tahu sudah berapa banyak kaleng susu yang aku minum,dan sudah berapa banyak beras yang aku makan,itu tidak tercatat dalam buku akutansi keluarga .Mereka hanya berharap aku harus tumbuh dan besar walaupun tak disuguhkan ASI seorang ibu.Karena menurut mereka bahagiaku adalah bahagia mereka.

Disaat aku menginjak umur tiga bulan,bapak menyusul ibu kepangkuan sang khalik.Lengkaplah penderitaan keluargaku.Saat itu aku masih bayi tak mengetahui apa yang terjadi dalam keluarga ini.Sedih,pilu dan gunda gulana menyelimuti sang kakak,bagaikan kapal yang hilang kemudi yang tak tentu arah.Lengkaplah gelar yang aku sandang sebagai anak yatim piatu,yang tak mengenal wajah bapak dan ibu.Kata mereka wajahku mirip dengan bapakku.Berapa susah payahnya kakak pertama memelihara kelima adiknya,yang masih polos dan hijau,usia masi seumur Jangung,darah masih setapuk pinang.Tapi dengan penuh kasih dan sayang kami hidup tanpa terpisah.Bagaimanapun kakak berusaha sekuat tenaga dan kemampuan yang ia miliki agar kami bisa hidup dan makan seperti keluarga yang lain.Walaupun masa itu belum seperti sekarang.

Ibu......disetiap detak jantungku mengalir darahmu,maafkan anakmu walau tak mengenal raut wajahmu.

Ibu.....kaulah muara kasih dan sayang.

Terima kasih ibu atas setiap air susu yang mengalir dalam darahku. Tanpa ibu aku tak akan pernah mampu menghirup udara kehidupan, berteman dengan alam, mengarungi nafas dunia bersamamu. Terima kasih karena selalu menyayangiku ibu."Aku akan memberikan yang terbaik buat ibu, agar kelak ibu tersenyum bahagia melihat aku memenuhi harapanmu ibu.""Terima kasih tuhan telah menitipkanku terhadap malaikatmu yang kusebut ibu.Tidak ada manusia yang sangat mencintai kita hingga saat ini, kecuali ibu kita."

Semoga ibu tenang disisiNya,dan ditempatkan di Syurganya Allah.Aamiin.

#parigimoutong#

#thanilabu#

#061221#

DISCLAIMER
Konten pada website ini merupakan konten yang di tulis oleh user. Tanggung jawab isi adalah sepenuhnya oleh user/penulis. Pihak pengelola web tidak memiliki tanggung jawab apapun atas hal hal yang dapat ditimbulkan dari penerbitan artikel di website ini, namun setiap orang bisa mengirimkan surat aduan yang akan ditindak lanjuti oleh pengelola sebaik mungkin. Pengelola website berhak untuk membatalkan penayangan artikel, penghapusan artikel hingga penonaktifan akun penulis bila terdapat konten yang tidak seharusnya ditayangkan di web ini.

Laporkan Penyalahgunaan
search

New Post