BAHASA IBUKU ADALAH BAHASAKU
BAHASA IBUKU ADALAH BAHASAKU
OLEH. THANIL. ABU
Tabe...... ! Aku metande mompaka oge
( permisi... aku memohon hormat dan membesarkan )
Menurut KBBI, Yang dimaksud dengan bahasa ibu adalah bahasa yang dari lahir dituturkan penggunanya dalam lingkungan pergaulan bahasa yang sama dalam kehidupannya. Oleh sebab itu, bahasa ibu disebabkan dari kebiasaan penggunaan bahasa seseorang. Jadi jika seseorang sejak lahir menggunakan bahasa Indonesia sebagai bahasa komunikasinya sehari-hari, maka yang termasuk bahasa ibunya adalah bahasa Indonesia.
Bahasa ibu juga disebut sebagai bahasa asli, merupakan bahasa yang pertama di kenal manusia untuk berinteraksi sejak lahir sesama anggota keluarga. Bahasa ibu di Indonesia mencakup dua kategori besar yaitu bahasa Indonesia itu sendiri dan bahasa daerah. Bahasa Indonesia juga tercakup dalam kategori bahasa nasional yang digunakan sebagai bahasa utama bangsa kita. Dari hasil riset Badan Bahasa dan Pembukuan, Kementrian Pendidikan dan Kebudayaan Indonesia,terdapat sebanyak 718 bahasa daerah Indonesia. Jumlah bahasa Ibu dalam kategori bahasa daerah dirincikan sebanyak 11 bahasa daerah telah punah, 4 dalam keadaan kritis dan 16 dalam keadaan rentan. Angka tersebut sewaktu waktu biosa saja bertambah atau berkurangseiring dengan penelitian yang terus dilakukan oleh pemerintah. Bahasa ibu bukan hanya menjadi alat komunikasi sehari-hari. Implementasi bahasa ibu dalam percakapan dealam penuturan sehari-hari juga sebagai langkah melestarikan bahasa itu sendiri.
Oleh sebab itu, disini penulis menguraikan tentang bahasa ibu yang sebagaimana digunakan sehari-hari oleh penulis beserta keluarga yaitu bahasa kaili. Bahasa kaili adalah bahasa yang kami gunakan dietnik kaili di Provinsi Sulawesi Tengah, yang tersebar dibeberapa Kabupaten antara lain Kabupaten Parigi Moutong sebagai mana penulis berdomisili, Kabupaten Donggala, Kabupaten Poso, Kabupaten Banggai, Kabupaten Banggai kepulauan, Kabupaten Tojo una una, Kota Palu, Kabupaten Toli-Toli dan Kabupaten Morowali.
Bahasa kaili terdiri dari beberapa bahasa atau dialek, dan yang paling terkenal adalah bahasa ledo. Masing-masing dialek atau bahasa mempunyai kata tersendiri untuk “ tidak “dan kata ini sering kali menjadi nama dialek misalnya, ledo, rai, doi, tara, ija, taa, inde, edo, ado unde, da,a semua dialek yang diucapkan menandakan “ Tidak “ sering juga, nama daerah dipakai sebagai nama suatu dialek, misalnya bahasa ledo sering juga disebut bahasa palu, bahasa tara sering disebut bahasa Parigi atau bahasa rai bisasa disebut bahasa Tawaeli atau bahasa Ampibabo. Namun bahasa ledo adalah bahasa yang dominan atau pada umumnya orang yang mengucapkannya,dari sekian puluh ragam dan dialek bahasa kaili itu, yang dianggap sebagai sebagai bahasa kaili asli adalah kaili ledo yang di pakai oleh masyarakat Raranggonau. Karena rumpun bahasa ledo tersebar diseluruh bagian Kabupaten yang ada di Sulawesi Tengah.
Menurut Sandra Safitri Hanan kepala Balai Bahasa Sulawesi Tengah, bahasa kaili merupakan salah satu bahasa daerah di wilayah tutur Provinsi Sulawesi Tengah, ia mengungkapkan jumlah penutur bahasa kaili saat ini sudah mulai menurun “ hal ini disebabkan penutur-penutur muda suku kaili perlahan mulai meninggalkan bahasa tersebur. “
Jika hal itu dibiarkan bisa saja beberapa puluh tahun ke depan bahasa kaili dapat mengalami kepunahan, oleh karena itu kita harus mulai memperkenalkan bahasa kaili atau bahasa daerah lainnya sejak dini agar anak-anak terbiasa menuturkannya. Pelestarian bahasa daerah bukan hal yang bisa begitu mudah di sepelehkan, mengingat, bahasa daerah adalah identitas kita sebagai bangsa “Bhineka Tunggal Ika”, yang kaya akan keberagaman dan warisan budayanya. Jadi, perlu adanya program pemerintah dan masyarakat untuk lebih giat dalam menggalakan pelestarian bahasa daerah di bumi pertiwi. Sesuai dengan konsep seharusnya bahasa daerah mulai diperkenalkan sejak kecil baik dalam lingkungan keluarga, sekolah maupun di masyarakat dalam kehidupan bersosial.
Semoga bermanfaat Tabe....
BIODATA PENULIS
.
Hustanil. Abu, Dengan Nama Pena Thanil Abu. lahir pada tanggal 5 September 1968. tepatnya di Desa Paranggi, Kec. Ampibabo, Kab. Parigi Moutong Prov. Sulteng.
Lulus dari SD Inpres Ampibabo tahun 1981, lanjut masuk ke SMPN 1 Ampibabo lulus tahun 1984, dan melanjutkan ke SPG. N Palu, tamat tahun1987, lulus Pendidikan SI tahun 2013. Alhamdulillah sekarang menjadi tenaga mengajar pada SDN Silanga kec. Siniu Kab. Parigi Moutong Povinsi Sulteng sampai sekarang. Penulis telah menghasilkan karya antologi story of love, Penantian panjang, Renjana dalam gores, Rinduku membahana, Pendar Ramadhan colorful Ramadan, Penantian Panjang,Pesona kilau Purnama,Bahagia hingga senja. serta buku tunggal Pionir cinta, Bismillah cinta dan Harapan dan do’a. Penulis dapat dihubungi melalui Email: **(censored)** atau HP/WA. **(censored)**
Konten pada website ini merupakan konten yang di tulis oleh user. Tanggung jawab isi adalah sepenuhnya oleh user/penulis. Pihak pengelola web tidak memiliki tanggung jawab apapun atas hal hal yang dapat ditimbulkan dari penerbitan artikel di website ini, namun setiap orang bisa mengirimkan surat aduan yang akan ditindak lanjuti oleh pengelola sebaik mungkin. Pengelola website berhak untuk membatalkan penayangan artikel, penghapusan artikel hingga penonaktifan akun penulis bila terdapat konten yang tidak seharusnya ditayangkan di web ini.
Laporkan Penyalahgunaan