Ida Kholidah, S. Ag.

Belum menuliskan informasi profilenya.

Selengkapnya
Navigasi Web
Halal Bihalal MGMP PAI Merajut Maaf Menguatkan Langkah Menuju Istiqamah
Sering kali kita memaknai Halal Bihalal sebagai tradisi tahunan: berjabat tangan, saling memaafkan, lalu kembali pada rutinitas. Namun, benarkah sesederhana itu? Atau justru di sanalah titik awal perubahan itu seharusnya dimulai?

Halal Bihalal MGMP PAI Merajut Maaf Menguatkan Langkah Menuju Istiqamah

Saya merasakan pertanyaan itu mengemuka saat menghadiri kegiatan MGMP PAI jenjang SMP Kabupaten Purwakarta, Rabu (8/4/2026), di Masjid MI Dar El Ilmi yang penuh berkah Pasawahan Purwakarta pimpinan Lulu Makiyah dengan disuguhi pemandangan hamparan sawah dibalut segarnya udara pagi pedesaan yang jauh dari asap kendaraan bermotor. Di tengah sekitar 70 Guru PAI yang hadir, suasana terasa hangat, penuh keakraban, sekaligus menyimpan ruang refleksi yang dalam.

Halal bihalal kali ini yang dipandu oleh Ketua MGMP PAI jenjang SMP Kabupaten Purwakarta Eep Saipul Hayat bagi saya, bukan sekadar seremoni. Ia seperti cermin yang diam-diam memantulkan kembali siapa diri kita setelah Ramadan berlalu.

Pengawas PAI, Nana Rusyana, mengingatkan bahwa silaturahmi dan saling memaafkan adalah ciri orang bertakwa. Kalimat ini sederhana, tetapi sesungguhnya berat. Sebab memaafkan tidak selalu mudah, dan menjaga hati tetap bersih jauh lebih sulit daripada sekadar mengucapkannya.

Di titik ini, saya merasa bahwa menjadi guru PAI bukan hanya tentang mengajarkan nilai, tetapi juga berjuang menghidupkannya dalam diri sendiri.

Lebih jauh, renungan tentang resensi buku “All You Need is Less” yang disampaikan dengan literat Kasi PAI Kementrian Agama Kabupaten Purwakarta Dudi Saepul Rahman justru terasa seperti kritik halus terhadap gaya hidup kita. Selama ini, kita sering berpikir bahwa untuk menjadi lebih baik, kita harus menambah menambah ilmu, menambah aktivitas, menambah capaian. Padahal, bisa jadi yang kita butuhkan adalah mengurangi: mengurangi konsumsi makanan Yanng tidak sehat, mengurangi pembelian yang tidak perlu, bahkan mengurangi berpikir dengan rumit. Begitu pula dengan konsep “Atomic Habits”. Perubahan besar, katanya, dimulai dari kebiasaan kecil. Ini mengingatkan saya bahwa menjadi guru yang baik tidak lahir dari momen spektakuler, tetapi dari kebiasaan sederhana yang dilakukan terus-menerus menyapa siswa dengan ramah, bersabar saat mengajar, atau konsisten memberikan teladan. Beliau menarik benang merah dengan konsep kurikulum berbasis cinta. Pendidikan yang humanis bukan sekadar wacana, tetapi kebutuhan. Siswa hari ini tidak hanya membutuhkan guru yang pintar, tetapi juga guru yang hadir secara utuh, secara emosional, dan secara spiritual.

Namun, tantangan terbesar justru datang dari perubahan zaman. Sebagaimana disampaikan Kasi GTK Dinas Pendidikan Kabupaten Purwakarta, Asep Rahmatudin, guru PAI tidak boleh kalah siasat. Ini bukan sekadar peringatan, tetapi panggilan. Sebab realitas hari ini menunjukkan bahwa otoritas guru sering dipertanyakan, bahkan terkadang dilemahkan. Dalam situasi seperti ini, satu-satunya kekuatan yang tidak bisa digantikan adalah keteladanan. Guru mungkin bisa kalah dalam perdebatan, tetapi tidak akan pernah kalah jika ia mampu memberi contoh.

Di tengah berbagai tuntutan pedagogik, profesional, sosial, kepribadian, kepemimpinan, dan spiritual guru PAI sesungguhnya sedang menapaki “jalan sunyi”. Jalan yang tidak selalu terlihat hasilnya secara instan, tetapi menentukan arah masa depan generasi.

Terlebih kegiatan ditutup dengan dialog ringan komunikatif yang banyak melibatkan seksi PAIS Kemenag Deden yang selalu sabar melayani GPAI dalam keseharian tugasnya secara online menjadi sebuah sinergi positif dan transparansi antara Disdik dan Kemenag.

Bagi saya, halal bihalal MGMP ini meninggalkan satu kesadaran penting: bahwa perubahan tidak dimulai dari forum besar, tetapi dari kesediaan untuk jujur pada diri sendiri.

Apakah kita benar-benar sudah menjadi guru yang kita ajarkan?

Syawal seharusnya tidak menjadi akhir dari Ramadan, tetapi awal dari perjuangan baru. Perjuangan untuk menjaga hati tetap bersih, niat tetap lurus, dan langkah tetap istiqamah. Karena pada akhirnya, menjadi guru PAI bukan hanya profesi. Ia adalah amanah. Dan amanah itu tidak hanya akan ditanya di ruang kelas tetapi juga di hadapan Allah.

Wallahu a'lam

Baarakallah lanaa wa lakum

#Salam Literasi: Indonesia_Berkarya!!!

DISCLAIMER
Konten pada website ini merupakan konten yang di tulis oleh user. Tanggung jawab isi adalah sepenuhnya oleh user/penulis. Pihak pengelola web tidak memiliki tanggung jawab apapun atas hal hal yang dapat ditimbulkan dari penerbitan artikel di website ini, namun setiap orang bisa mengirimkan surat aduan yang akan ditindak lanjuti oleh pengelola sebaik mungkin. Pengelola website berhak untuk membatalkan penayangan artikel, penghapusan artikel hingga penonaktifan akun penulis bila terdapat konten yang tidak seharusnya ditayangkan di web ini.

Laporkan Penyalahgunaan
search

New Post