Ilma Wiryanti

Belum menuliskan informasi profilenya.

Selengkapnya
Navigasi Web
Catatan Seorang Guru (1)  Mengajar di Masa Perang Saudara
catatan hati guru sumber wattpad.com

Catatan Seorang Guru (1) Mengajar di Masa Perang Saudara

Tentara pusat berjalan menyusuri perkampungan untuk menangkap para pemberontak. Saat itu sedang terjadi pergolakkan PRRI. Bila keadaan aman sekolah tetap berlangsung.

Suatu hari saat sedang mengajar di kelas 5 SD, aku melihat dari jendela, tentara pusat menghijau keluar dari rimbun padi di dekat sekolahku. Aku sedang mengajarkan siswa tentang Perang Padri. Aku dan siswa di kelasku mendengar derap langkah tentara pusat di halaman sekolah. Segera aku ganti topic menjadi sejarah Perang Diponegoro.

Pemimpin pasukan muncul di depan pintu, mendengar aku menjelaskan tentang Diponegoro, dia menganggukkan kepala sambil tersenyum.

“Bagus…bagus, kita Indonesia. Jangan ikut mendukung pemberontak ya,” katanya.

Aku menganggukkan kepala, saat itu umurku masih sangat muda, 18 tahun. Aku lihat wajah-wajah murid menjadi pucat karena disambangi oleh tentara pusat. Aku mengajak mereka menyanyikan lagu-lagi perjuangan, seperti lagu hari merdeka, halo-halo Bandung dan lainnya. Upayaku itu dapat membuat mereka lupa sejenak dengan ketakutan mereka melihat orang-orang berseragam dan bersenjata di sekitar lingkungan sekolah mereka.

Masa itu adalah masa yang sangat menyedihkan di negaraku. Terutama di wilayah sumatera barat. Terjadi perang saudara. Tersebutlah PRRI (Pemerintah Revolusione Republik Indonesia) yang didirikan oleh Letkol Ahmad Husaein pada tanggal 10 Februari 1958 di Padang. Pemerintahan ini timbul sebagai bentuk koreksi polotik terhadapa pemerintahan pusat yang berat sebelah dan tidak memeprhatikan kesejahteraan di daerah. Salah satu tuntutannya adalah membubarkan cabinet Juanda.

Alih-alih mendengarkan dan memperhatikan tuntutan dari PRRI, pemerintah pusat justru menyerang Sumatra Barat dengan kekuatan penuh dengan operasi 17 Agustus. Dibawah pimpinan Kolonel Ahmad Yani dengan membawa pasukkan angkatan darat, laut dan udara meluluh lantakkan sumatera Barat, sejak saat itu di ranah Minang terjadi perang saudara yang memilukan.

Saat itu aku baru saja lulus SGB dan di tempatkan untuk mengajar di sebuah SD yang ada di kampungku, Desa Padang ganting kecamatan Tanjung Emas, kabupaten Tanah Datar. Betapa mencekamnya kondisi waktu itu. Banyak pemuda yang dicurigai sebagai simpatisan PRRI dibantai. Tidak hanya para tentara PRRI yang mereka tangkapi tapi juga masyarakat yang tidak tahu apa-apa tapi dicurigai sebagai simpatisan PRRI juga di tangkapi.

Betapa menyedihkan dan menakutkan masa itu. Sebuah kisah memilukan di Tlatang Kamang, tentang kisah keluarga Kari makundung seorang Ulama dari Kamang. Seluruh keluargannya dibantai habis oleh tentara pusat dengan hanya menyisakan bayi berusia 3 bulan. Kemudia bayi itu dibawa oleh tentara pusat dan sampai sekarang tidak terdengar kabarnya.

Masa-masa kelam perang saudara itu semoga tidak akan pernah terjadi lagi dinegeri tercnta ini. Betapa pentingnya bagi para pendidik untuk menumbuhkan jiwa nasionalisme dan memelihara kerukunan hidup berbangsa dan bernegara. Dengan berbagai upaya seperti menghadirkan kembali sejarah kelam masa lalu dan mengambil pelajaran dari peristiwa tersebut, semoga kita semua dapat menghindari perang saudara dan menjada negeri ini tetap damai dan aman selamanya.

DISCLAIMER
Konten pada website ini merupakan konten yang di tulis oleh user. Tanggung jawab isi adalah sepenuhnya oleh user/penulis. Pihak pengelola web tidak memiliki tanggung jawab apapun atas hal hal yang dapat ditimbulkan dari penerbitan artikel di website ini, namun setiap orang bisa mengirimkan surat aduan yang akan ditindak lanjuti oleh pengelola sebaik mungkin. Pengelola website berhak untuk membatalkan penayangan artikel, penghapusan artikel hingga penonaktifan akun penulis bila terdapat konten yang tidak seharusnya ditayangkan di web ini.

Laporkan Penyalahgunaan
search

New Post