Ilma Wiryanti

Belum menuliskan informasi profilenya.

Selengkapnya
Navigasi Web
Catatan Seorang Guru (2) Melanjutkan Pendidikan Selepas Pergolakan PRRI
catatan hati guru sumber wattpad.com

Catatan Seorang Guru (2) Melanjutkan Pendidikan Selepas Pergolakan PRRI

Perang saudara berlangsung cukup lama. Selama masa itu kami hidup dalam rasa was-was sepanjang hari. Khawatir akan dijemput oleh tentara pusat kemudian hilang tak berbekas hanya tinggal namanya saja. Di masa itu juga banyak terjadi fitnah, kita tidak tahu mana yang kawan dan mana yang lawan. Bisa saja tetangga kita melaporkan diri kita ke tentara pusat sebagai seorang simpatisan PRRI.

Karena perang makin berkecamuk, sekolahpun diliburkan total. Serangan dengan sandi “17 Agustus” ini merupakan gabungan TNI dengan personil dan peralatan yang sangat besar. Tidak kurang 6.500 personil militer dimobilisasi dengan 6 kapal perang dan 10 kapal pengangkut.

Serangan dimulai oleh KRI Gajah Mada dengan Salvo mariamnya pada subuh tanggal 17 April 1958. Hujan peluru dan bom meluluh lantakkan kota Padang. Angkatan daratpun menyumbangkan 4 batalyon pasukan infantri. Sementara angkatan udara mengirim 25 pesawat C-47 Dakota dan 6 pesawat pemburu P-51 Mustang yang dilengkapi dengan pengebom B-25 Mitchell dan 6 pesawat AT-16 Harvard. Setelah itu pasukan menyebar di seluruh daratan negeri Minang.

. Selanjutnya terjadi perang gerilya antara tentara pusat dan tentara PRRI hingga bulan Juli 1960.

Perang saudara telah memakan korban sesame anak bangsa. Sampai akhir tahun 1958 saja di pihak pemerintah pusat telah gugur 983 orang dan luka-luka 1.965 orang serta 154 orang hilang. Sedang di pihak PRRI lebih banyak lagi, sebanyak 6. 373 tentara gugur dan 1.201 luka-luka serta 6.057 0rang menyerah. Akhirnya kita menyadari, bahwa perang tidak memberikan apa-apa, kecuali kehancuran bagi pihak-pihak yang terlibat di dalamnya.

Setelah perang berakhir, masyarakat berusaha memulihkan kembali kehidupan normalnya. Begitu juga dengan sekolah. Anak-anak mulai masuk sekolah seperti biasanya. Aku kembalu mengajar murid-muridku seperti sedia kala.

Setahun setelah pergoalakan PRRI berakhir, aku mengajukan pindah mengajar ke SD Pagarung di Batusangkar. Tujuan aku pindah mengajar di ibu kota Kabupaten adalah untuk dapat melanjutkan pendidikan ke tingkat SMA.

Saat belajar di SMA ada dua pilihan seni rupa dan bahasa Jerman. Aku mengambil pelajaran Bahasa Jerman. Setelah itu pulang kembali ke kampung untuk mengajar kembali di SD 3 Padang Ganting.

Tahun 1962, aku mempersunting gadis cantik di kampungku. Setahun kemudian lahir lah putri pertama kami, yang kami beri nama Efda Yuliarti.

Selama 2 tahun beljar di SMA aku belajar materi ilmu kependidikan, didaktik metodik, pedagogik dan ilmu jiwa. Berbekal ilmu ini aku mengikuti ujian SGA di Padang Panjang. Berhasil lulus dengan hasil yang baik. Kala itu hanya aku yang lulus belajar di SGA se kabupaten Tanah Datar.

Setelah lulus SGA, aku kembali ke kampungku, dan ditunjuk menjadi kepala sekolah SD. Tahun berikutnya aku mendapat kesempatan untuk tugas belajar di kota Padang. Di kampus ini aku belajar bimbingan dan konseling.

Bagaimana aku ditugaskan untuk mengembangkan kurikulum Global yang kita kenal penerapannya pada pelajaran membaca, “Ini Budi”. Ikuti kisahku selanjutnya ya.

DISCLAIMER
Konten pada website ini merupakan konten yang di tulis oleh user. Tanggung jawab isi adalah sepenuhnya oleh user/penulis. Pihak pengelola web tidak memiliki tanggung jawab apapun atas hal hal yang dapat ditimbulkan dari penerbitan artikel di website ini, namun setiap orang bisa mengirimkan surat aduan yang akan ditindak lanjuti oleh pengelola sebaik mungkin. Pengelola website berhak untuk membatalkan penayangan artikel, penghapusan artikel hingga penonaktifan akun penulis bila terdapat konten yang tidak seharusnya ditayangkan di web ini.

Laporkan Penyalahgunaan
search

New Post