Catatan Seorang Guru (4) Ujian Ekstranai
Persiapan ujian ekstranai aku ikuti dengan serius. Aku bekerja keras untuk dapat lulus. Pagi hari aku mengajar di sekolah, siang hari mengayuh sepeda selama satu jam menuju Batusangkar. Setelah itu melanjutkan perjalanan dengan bus ke Padang Panjang juga lebih kurang satu jam. Selesai belajar aku pulang kembali ke Batusangkar dan melanjutkan perjalanan ke Padang Ganting. Sampai di rumah hari sudah malam. Kegiatan ini aku lakukan dua kali dalam seminggu, pada hari Sabtu dan Minggu.
Pernah suatu hari saat mengayuh sepeda saat magrib menuju kampungku, aku bertemu dengan orang yang bertelanjang di jalan sepi kelokan Guguak Singgalan. Terbersit rasa takut karena hari sudah mulai gelap dan sangat sepi. Aku mengayuh sepedaku dengan cepat. Aku sampai di rumah biasanya sudah pukul depalan atau Sembilan malam. Begitu aku lakukkan selamat mengikuti materi untuk ujian ekstranai.
Saat ujian ekstranai, untuk materi berhitung dan pengetahuan alam dapat aku lalui dengan mudah. Begitu juga dengan materi pedagogic dan metodik didaktik. Namun untuk kesenian dan prakarya aku sangat mengalami kesulitan.
Saat ujian untuk kesenian kami satu persatu disuruh menyanyikan lagu Indonesia Raya. Saat aku yang tampil ke depan, penguji mempersilakan aku mulai menyanyi dengan menghitung 1, 2, dan 3. Aku mulai menyanyi. Tak lama setelah aku menyanyi terdengar Bapak penguji menyuruhku berhenti.
“Kamu ini menyanyi atau meraung? Coba di nyanyikan dengan jelas dan nada yang pas,” tegurnya.
“Ya…?” jawabku meski bingung apa yang dimaksudnya meraung.
Aku kembali bernyanyi. Namun kembali dia menyuruhku berhenti.
“Kenapa, Pak?” tanyaku heran.
“Kamu bernyanyi bagus, Tapi lebih bagus lagi kalau kamu tidak bernyanyi,” ucapnya sambil menyuruh aku duduk kembali.
Aku patuh mengikutinya dan kemabli ke tempat dudukku dengan masgul.
Ketika pelajaran keterampilan, aku kembali bingung. Ujiannya menuntut kreatifitas dan kemampuan keterampilan tangan kami. Kami diberi kertas beberapa lembar kemudian disuruh untuk membentuk benda-benda sesuai kreatifitas kami.
Sampai jam sudah hampir berakhir aku masih belum bisa membuat satu benda pun dari kertasku. Saat itu pengawas kami keluar sebentar karena ada teman yang memanggilnya dari luar. Gadis yang duduk di depanku menoleh ke belang, melihat hasil pekerjaan keterampilanku. Betepa terkejutnya dia, karena belum ada satu benda pun yang aku buat.
“Kenapa belum membuatnya?” tanyanya penasaran.
“Aku tidak puny aide dan tidak punya keterampilan melipat kertas,” jawabku pasrah.
Dia mengambil salah satu benda yang sudah dia buat dan menunjukkan kepadaku.
“Seperti ini misalnya, membuat burung merak dari kertas,” katanya sambil menunjukkan burung merak buatanku yang diletakkannya dia atas mejanya.
Tiba-tiba pengawas masuk, dia menyampaikan waktu untuk ujian sudah berakhir. Dia langsung mengumpulkan hasil prakarya dan memberi nomor untuk menandainya sesuai kursi kami. Dia pun mengambil burung merak yang terletak di atas mejaku dan menandai dengan nomor mejaku. Pekerjaan gadis di depan yang dibuatnya lebih dari satu juga ditandai denagn nomer mejanya. Kami berdua terpaksa diam supaya tidak ditegur sudah berbicara ketika ujian.
Akhirnya aku lulus ujian karena prakarya yang ditinggalkan gadis itu di mejaku. Aku merasa dia penyelamatku. Setelah itu kami tidak pernah bertemu. Aku juga tidak sempat menanyakan namanya.
Bertahun-tahun setelah itu, tanpa sengaja aku bertemu kembali dengan gadis itu. Saat itu dia sudah menjadi istri Sekda di Kota Madya Payakumbuh. Dia sedang membangun sebuah yayasan yang akan menaungi Panti asuhan yatim piatu. Dia memintaku untuk membantu dalam Yayasan tersebut, karena saat itu aku menjadi kepala dinas pendidikan.
Dalam sambutanku, aku menceritakan pengalaman konyol saat ujian ekstranai tersebut. Saat aku duduk kembali ke kursiku, ada seseorang menpuk punggungku dengan sangat kuat.
“Ternyata, Bapak yang waktu ujian ekstranai duduk di belakangku. Ternyata dunia ini sangat sempit ya? Tidak disangka kita bertemu lagi di Payakumbuh,” ujarnya sambil tertawa.
Aku juga kaget mendengarnya. Tak pernah terpikirkan jika istri Pak Sekda adalah gadis yang telah menolongku ketika ujian ekstranai dulu.
Mungkin ini yang dikatakan kalau Tuhan ingin menutupi kekurangan kita maka akan ada saja jalan yang akan menutupinya. Karena itu kita jangan membuka kekurangan orang lain.
Konten pada website ini merupakan konten yang di tulis oleh user. Tanggung jawab isi adalah sepenuhnya oleh user/penulis. Pihak pengelola web tidak memiliki tanggung jawab apapun atas hal hal yang dapat ditimbulkan dari penerbitan artikel di website ini, namun setiap orang bisa mengirimkan surat aduan yang akan ditindak lanjuti oleh pengelola sebaik mungkin. Pengelola website berhak untuk membatalkan penayangan artikel, penghapusan artikel hingga penonaktifan akun penulis bila terdapat konten yang tidak seharusnya ditayangkan di web ini.
Laporkan Penyalahgunaan
