Sahara (16) Jangan Tepuk Punggungku
“Di sinilah, aku sekarang. Menatap birunya laut lepas di tepi pantai Mediterania, Alexandria Mesir. Tempat yang telah kita rencanakan untuk menghabiskan masa liburan kuliah kita. Namun, kini aku sendiri, di tengah keramaian sahabat-sahabat kita. Sementara hari ini, kamu sedang berbahagia menjadi marapulai di Ranah Minang,” ucap Sahara sambil menatap laut biru yang dalam dengan hati yang remuk.
Dia duduk sendiri, beralaskan lembutnya pasir putih di bawah pohon ketapang. Sejauh mata memandang hanya laut biru yang membentang. Taman Montazah yang indah, telah mengubah 155 hektar gurun menjadi taman bunga berwarna warni. Di balik rimbunnya pepohonan, tampak Montazah Palace berdiri dengan anggun. Hamparan bunga ditata apik sampai hampir ke garis pantai, langsung menyatu dengan bentangan pasir putih. Embusan angin laut membelai paras cantiknya, terasa sejuk di raganya, tapi tidak di hatinya.
Laut masih saja tenang, tak peduli betapa bergejolaknya hati Sahara menghadapi takdir ini. Masih terngiang ditelinganya ucapan Ihsan di hari kelulusannya.
“Kamu cantik seperti Cleopatra,” kata Ihsan.
“Aku menggeleng, kala itu. Aku bukan Cleopatra yang menghalalkan segala cara untuk mendapatkan cintanya yang diingikannya. Sebagaimana dia sanggup masuk ke dalam lipatan karpet untuk dapat sampai di kamar Kaisar Julius Caesar. Atau bagaimana dia menahan Mark Antony di Mesir dengan segala kemewahan agar tidak kembali kepada istrinya di Romawi,” tekad Sahara dalam diam.
Kini semua dibuktikannya. Sahara tidak akan menghalalkan semua cara untuk mendapatkan cinta yang inginkannya.
“Aku melepaskan dirimu untuknya. Kau yang mengajariku arti patah hati. Kau beri aku harap, lalu kau pergi. Garis waktu akan menghapus jejakmu di hatiku, meskipun kau meminta untuk kembali,” ucapnya dalam hati.
Di sujudnya, pada sepertiga malam, telah dia pasrahkan hatinya kepada Allah.
“Selama ini aku terlalu mengutamakan dirimu. Suaramu di telepon lebih indah dipendengaranku dari suara azan, yang melalaikanku untuk segera memenuhi panggilan-Nya. Mungkin inilah hikmah dari patahnya hatiku yang berdarah-darah yang telah aku tangisi bermalam-malam. Allah hendak mengembalikan cintaku kepada cinta-Nya. Tak ada cinta yang lebih indah dari cinta Sang Pemilik Nafasku ini,” Ucapnya dalam hati dengan senyum yang ihlas.
“Untuk masa laluku. Berhentilah menepuk punggungku. Aku tak ingin melihat lagi ke belakang. Aku ingin segera menyelesaikan studiku dan pulang ke negeriku.” Tekad Sahara dalam hati.
Di temani desir angin dari gurun. Sahara membiarkan lagu “Takdir Cinta” dari Rosa mengalun dari gawainya.
“…Andaikan 'ku bisa
Lebih adil pada cinta kau dan dia
Aku bukan nabi yang bisa sempurna
'Ku tak luput dari dosa
Biarlah kuhidup seperti ini
Takdir cinta harus begini
Ada kau dan dia bukan 'ku yang mau
Oh Tuhan, tuntunlah hatiku…”
“Aku tak akan menangis lagi!” janjinya sambil menghapus bersih jejak air matanya.
TAMAT
Konten pada website ini merupakan konten yang di tulis oleh user. Tanggung jawab isi adalah sepenuhnya oleh user/penulis. Pihak pengelola web tidak memiliki tanggung jawab apapun atas hal hal yang dapat ditimbulkan dari penerbitan artikel di website ini, namun setiap orang bisa mengirimkan surat aduan yang akan ditindak lanjuti oleh pengelola sebaik mungkin. Pengelola website berhak untuk membatalkan penayangan artikel, penghapusan artikel hingga penonaktifan akun penulis bila terdapat konten yang tidak seharusnya ditayangkan di web ini.
Laporkan Penyalahgunaan
