Sahara (6) Kesepakatan Cinta
Ihsan sangat berat meninggalkan Sahara kuliah di Indonesia. Dia sangat ingin untuk mengajak Sahara ikut kuliah bersamanya di Mesir. Namun dia juga tidak ingin menghalangi cita-cita Sahara untuk menjadi dokter. Dia berada dalam kebimbangan yang dalam, namun akhirnya dia mengambil keputusan untuk menyampaikan keinginannya tersebut kepada Sahara.
Dalam suatu kesempatan mereka dapat berbincang bersama, Ihsan memberanikan diri untuk menyampaikan keinginannya. Meski semula dia sangat khawatir akan tanggapan Sahra yang tidak sesuai dengan keinginannya. Tapi dia berpikir apa salahnya mencoba, hasil akhirnya dia serahkan kepada Sahara.
"Sahara, kamu adalah jawaban untuk setiap doa yang aku panjatkan. Kamu adalah hidupku, kebahagiaanku, gelora jiwaku, dan aku tidak tahu bagaimana aku bisa hidup tanpamu." Ungkap Ihsan sambil menatap manik mata Sahara dalam-dalam menunjukkan kesungguhan hatinya.
Sahara tidak tahu apa yang akan diucapkannya, diapun merasakan perasaan yang sama dengan Ihsan. Air matanya menggenangi kornea matanya. Hatinya terasa sangat sakit, memikirkan perpisahan yang akan terjadi, padahal ikatan kasih mereka baru saja dibuhul.
“Ikutlah denganku,” pinta Ihsan.
“Bagaimana aku akan ikut denganmu. Aku juga harus menyelesaikan studiku di sini?” tanya Sahara bimbang. Betapa dia sangat ingin ikut berjuang menuntut ilmu bersama kekasihnya. Tapi dia sudah memilih untuk kuliah di sini.
“Bisakah kamu juga berjuang untuk mendapatkan beasiswa ke Al Azhar? Masih ada kesempatan gelombang berikutnya dalam Program Beasiswa Santri Berprestasi (PBSB) luar negeri," jelas Ihsan.
“Benarkah?” tanya Sahara, matanya berbinar cerah melihat ada secercah harapan yang akan memberi jalan untuk mereka bisa bersama.
“Benar, ini program baru untuk para santri. Selama ini hanya ada melalui jalur kerja sama dengan Kemenag, namun tahun ini ada jalur santri berprestasi. Kamu insyaallah bisa lulus karena kemampuan yang kamu miliki,” ujar Ihsan meyakinkan Sahara.
“Baiklah demi masa depan kita aku akan melupakan impianku menjadi dokter dan mencoba peruntunganku melalui jalur PSPB ini. Semoga bisa lulus dan kita akan berangkat bersama-sama ke negeri Firaun itu,” Ucap Sahara mantap tanpa berpikir lagi.
Ihsan sangat bahagia, dia yang semula ragu-ragu untuk menyampaikan keinginannya, tidak menyangka Sahara akan menanggapi dengan sebaik ini.
Bagi Sahara kesepakatan cinta ini juga bukan merupakan pilihan yang sulit. Asal bisa bersama Ihsan tidak ada satupun yang sulit yang akan dia alami. Cintanya telah mengalahkan semua keinginan dirinya. Kini dia tahu tujuannya adalah menyonsong hidup bahagia bersama kekasih hatinya
Kairo juga merupakan kota yang selama ini sangat ingin dia kunjungi. Kini kesempatan itu hadir tidak hanya mengunjunginya tapi tinggal bertahun-tahun untuk menuntut ilmu bersama kekasihnya. Tentu dia akan menjalaninya dengan bahagia.
Mesir itu negeri kaya akan peradaban kunonya. Banyak tempat bersejarah mulai dari zaman mesir kuno dan para nabi-nabi yang singgah dan menetap di sini, sampai ke salah satu pusat keilmuan umat Islam dari zaman ke zaman. Semua itu sangat menarik baginya.
Sahara kini mengetahui ada dua jenis beasiswa untuk kuliah di Al Azhar, Kairo, Mesir. Jalur pertama adalah beasiswa yang disediakan oleh Al-Azhar. Beasiswa dari AL-Azhar ini pun masih terbagi menjadi beberapa jalur kerjasama, yaitu kerja sama dengan Kemenag, lalu pondok pesantren, dan jalur PBNU. Jalur kedua adalah beasiswa yang disediakan langsung oleh kepemeritahan Indonesia atau PBSB (Program Beasiswa Santri Berprestasi) luar negeri.
Untuk persyaratan masuknya Sahara sudah melebihi target menghafal Al-Qur’an minimal dua juz, karena di Al-Azhar untuk mahasiswa non-Arab hanya disyaratkan empat juz agar bisa lulus. Dia juga sudah mempelajari kitab-kitab matan, karena di Al-Azhar banyak menggunakan referensi kitab tingkat mutawassit sehingga kitab tingkat mubtadi harus sudah dipelajari.
Tahap pertama yang harus dilakukannya adalah seleksi berkas. Lalu disusul dengan seleksi tes berbasis computer. Tes berbasis computer menguji bidang TPA, pengetahuan umum, bahasa Arab, bahasa Inggris, dan kepesantrenan. Hanya ada 60 kandidat yang bisa lolos untuk lanjut ke tahap seleksi ketiga, yaitu tes kecakapan berbahasa Arab.
Menurut Ihsan yang sudah mengikuti seleksi ini, tes kecapan berbahasa Arab diawali dengan tes wawancara dan mengerjakan beberapa soal berbahasa Arab. Tes ini langsung dari native speaker bahasa Arab. Selanjutnya Kemenag bekerjasama dengan PUSIBA untuk melaksanakan tes lanjutan bagi kandidat yang lulus tahap sebelumnya.
PUSIBA adalah program yang harus diikuti calon kandidat beasiswa ke Al-Azhar. Melalui program ini kandidat akan belajar bahasa Arab dan dibagi menjadi level 1 hingga 7. Kandidat yang akan dinyatakan lolos adalah 30 kandidat dengan kemampuan berbahasa Arab minimal level 3.
Sahara akan mempersiapkan diri lebih baik lagi untuk dapat memenuhi semua kriteria yang diharapkan. Setelah itu hanya doa yang bisa dia panjatkan semoga cita-cita dan harapan mereka untuk menuntut ilmu bersama-sama di Mesir dapa tercapai. Ikhtiar ini adalah bentuk keseriusannya untuk menggapai masa depan bersama Ihsan.
Apakah ikhtiar Sahara akan berhasil? Bagaimanakan perjalan cinta dan cita-cita mereka selanjutnya? Mari kita ikuti kisah mereka di episode selanjutnya.
Konten pada website ini merupakan konten yang di tulis oleh user. Tanggung jawab isi adalah sepenuhnya oleh user/penulis. Pihak pengelola web tidak memiliki tanggung jawab apapun atas hal hal yang dapat ditimbulkan dari penerbitan artikel di website ini, namun setiap orang bisa mengirimkan surat aduan yang akan ditindak lanjuti oleh pengelola sebaik mungkin. Pengelola website berhak untuk membatalkan penayangan artikel, penghapusan artikel hingga penonaktifan akun penulis bila terdapat konten yang tidak seharusnya ditayangkan di web ini.
Laporkan Penyalahgunaan
