Sahara (8) Kairo Kota Harapan
Sahara masih tidak percaya, kini dia telah berada di kota Kairo. Dulu dia tidak pernah membayangkan akan sampai di kota ini. Mungkin karena hidupnya yang sebatang kara di panti asuhan. Dia tidak berani bermimpi akan bisa belajar di negeri seribu menara ini. Itulah sebabnya dia hanya mengambil beasiswa di dalam negeri. Tapi kini dia belajar di sini, didampingi dan dijaga oleh sang kekasih. Rasa syukurnya begitu besar.
Air matanya berlinang ketika pertama kali melihat kompleks kampus universitas Al Azhar. Baru saja memasuki gerbang komplek Al Azhar, Sahara melihat gedung-gedung tinggi nan megah berdiri kokoh di depannya. Setelah memasuki gerbang utama, Sahara dan Ihsanberbelok sedikit ke arah kanan menuju masjid Al Azhar. Di seberang masjid terdapat gedung-gedung universitas. Dari masjid Sahara menuju tempat wudhu, dia berjalan lurus melewati bagian depan bangunan mesjid dan belok ke kiri.
Gerbang masuk kompleks lembaga pendidikan ini dihiasi ukiran pada era Dinasti Mamluk. Ukiran juga terlihat pada seluruh disain bangunan mesjid. Luas bangunan mesjid sekitar 6,4 hektar, berbentuk persegi panjang . Di dalam area Mesjid tedapat lapangan luas yang ditutupi marmer putih indah. Dindingnya terbuat dari batu bata berwarna terakota. Mesjid ini memiliki lima menara dan tujuh kubah. Serta jendela-jendela di seluruh dinding mesjid.
Pembangunan Mesjid Al Azhar sejak awal bertujuan sebagai sarana pendidikan. Pembangunannya di mulai tahun 970 M. Sejarah ini membuktikan bahwa peradaban islam lebih maju dari peradaban barat karena lebih dulu membangun lembaga pendidikan di bandingkan barat yang baru bangkit dua abad setelah itu. Sehingga universitas Al-Azhar Kairo adalah lembaga pendidikan tertua di dunia.
Mesjid ini didirikan di masa Dinasti Fatimiah berkuasa di Mesir. Dinasti ini didirikan berdasarkan Konsep Syiah, keturunan Ali bin Abi Thalib dan Fatimah Az-Zahra binti Rasullullah. Awalnya mesjid ini bernama Mesjid Jami' al-Kahhirah. Kemudian diganti nama Al Azhar merujuk kata “Az Zahra”.
Setelah Dinasti Fatimiah dijatuhkan oleh Salahuddin Al-Ayyubbi pada tahun 1171 Masehi, pendidikan di Al Azhar terhenti. Hal itu dilakukan untuk memutus penyebaran Aliran Syiah yang telah lama berkembang. Al Azhar kembali berfungsi sebagai lembaga pendidikan di zaman Dinasti Mamluk. Pada saat itu aliran keislaman yang dipelajari adalah Aliran Sunni. Sejak itu keilmuan yang di pelajaran disini tidak hanya fokus pada ilmu keislaman tapi juga bidang ilmu pengetahuan umum seperti hukum, ekonomi, kedokteran, teknik, matematika dan lainnya.
Sahara melihat padatnya pengunjung masjid, ternyata sedang ada acara sidang ujian doctor di dalamnya. Seketika hatinya bergetar.
“Suatu masa nanti, kami yang akan disidang di mesjid ini saat menyelesaikan studi kami,” batinnya dengan mata berkaca-kaca penuh harapan.
Dia dan Ihsan terus berjalan melakukkan orientasi ke seluruh masjid agung tersebut.
“Sungguh luar biasa penghargaan Dinasti Fatimiyah yang berkuasa saat itu di Mesir terhadap ilmu pengetahuan. Sang Kaisar yang berkuasa saat itu Al’ Muizz setelah menakhlukkan Mesir membangun Kairo secara fisik dan non fisik,” jelas Fahri, senior mereka di Al Azhar.
Fahri melanjutkan, “Beliau membawa buku-buku yang banyak ke Mesir. Saking banyaknya sehingga para sejarahwan selalu menjadikannya salah satu fokus perhatian. Dinasti ini memulai kekuasaannya dengan menghormati ilmu pengetahuan, membangun universita-universitas, perpustakaan umum dan lembaga ilmu pengetahuan lainnya. Memenuhi fasilitas pendidikan dengan buku-buku yang lengkap, peralatan matematika dan juga profesor-profesor serta asistennya yang siap untuk mengajar. Semua fasilitas itu dapat diakses masyarakat dengan cuma-cuma. Maka tak heran perkembangan peradabannya sangat maju,” tutur rekan mereka yang memandu Sahara dan Ihsan melihat-lihat kampus yang akan menjadi tempat mereka menimba ilmu.
Mata mereka berbinar mendengar semua penjelasan Fahri. Harapanpu timbul di hati mereka untuk belajar dengan sungguh-sungguh untuk mewujudkan cita-cita mereka di kota yang penuh harapan ini.
“Begitu juga harapan saya, semuga kami dapat belajar dari sejarah masa lalu mereka. Mengadopsi system pembelajaran yang mengantarkan mereka menjadi bangsa dengan peradaban tinggi,” ucap Ihsan mantap dan dibalas anggukan oleh Sarah dan Fahri.
Sanggupkan mereka menghadapi segala rintangan selama belajar di Al Azhar dengan kesabaran dan ketekunan? Kita tunggu kisah mereka belajar dan bejibaku dengan kitab-kitab yang tebal di episode selanjutnya.
Konten pada website ini merupakan konten yang di tulis oleh user. Tanggung jawab isi adalah sepenuhnya oleh user/penulis. Pihak pengelola web tidak memiliki tanggung jawab apapun atas hal hal yang dapat ditimbulkan dari penerbitan artikel di website ini, namun setiap orang bisa mengirimkan surat aduan yang akan ditindak lanjuti oleh pengelola sebaik mungkin. Pengelola website berhak untuk membatalkan penayangan artikel, penghapusan artikel hingga penonaktifan akun penulis bila terdapat konten yang tidak seharusnya ditayangkan di web ini.
Laporkan Penyalahgunaan
