Sahara (9) Berjibaku dengan Kitab-Kitab Tebal
Waktu perkuliahan sudah dimulai. Sahara sangat bersemangat mengikuti perkuliahan yang sudah lama ditunggunya. Sistem perkuliahan di AL-Azhar terbilang cukup unik. Sahara dan Ihsan yang terbiasa dengan mengisi absensi setiap mengikuti pembelajaran, kini di Al-Azhar tidak demikian. Tidak ada sistem absensi, mahasiswa dibebaskan untuk datang ke kelas atau tidak.
Hal tersebut dilakukan mungkin dengan alasan pihak Universaita Al-Azhar tidak ingin memaksa mahasiswa untuk belajar. Tapi, menekankan kesadaran untuk menuntut ilmu datang dari diri mahasiswa itu sendiri. Hal terpenting adalah mahasiswa tersebut hadir saat ujian semester.
Meski pun terdapat kelonggaran seperti itu, Ihsan dan Sahara tetap bertekad akan belajar dengan disiplin. Mereka telah berjanji akan belajar dengan sungguh-sungguh dan giat agar mendapatkan ilmu yang akan diabdikan untuk tanah air mereka.
Ihsan mengambil Fakultas Ushuludin jurusan Tafsir dan Ulumul Quran, karena ingin mendalami pokok-pokok dan dasar-dasar agama Islam. Tentunya ingin menjadi orang yang bermanfaat dengan menjadi Ahlu Qur'an ahlu Tafsir. Sahara pada awalnya memilih jurusan ini karena mengikuti pilihan Ihsan. Namun setelah dia bergelut dengan kitab-kitab dan para ulama yang mengajarkan ilmu tafsir, diapun makin jatuh cinta.
Kampus yang berlokasi di Kawasan Hussein tersebut memang bangunan tua. Sahara melihat fasilitasnya tidak semegah kampus-kampus di Tanah Air. Beberapa kursinya tampak rusak. Coretan bertebaran di dinding. Bila kebetulan perkuliahan yang diikuti penuh, terpaksa harus lesehan atau berdiri. Tanpa pendingin ruangan. Tetapi justru di sanalah Sahara merasakan letak keindahannya. Suasana belajar mengajar terwujud secara egaliter, tak ada sekat antara guru dan murid.
Di Universitas Al zhar Kairo Mesir, ilmu tidak hanya diambil di bangku kuliah, namun mereka juga mengikutinya di masjid Al-Azhar. Banyak sekali, setiap harinya ulama yang duduk membacakan sebuah kitab. Para murid dipersilahkan datang, siapapun, bebas dan gratis mengikuti halaqahnya.
“Benarlah statemen yang menyatakan bahwa, al-Azhar adalah kiblatnya ilmu,” ujar Sahara kepada Ihsan setelah mereka selesai mengikuti kajian seorang ulama di masjid Al Azhar.
“Iya, di sini ilmu bertebaran di mana-mana. Semuanya kembali kepada niat kita semula untuk apa ke sini. Apakah akan menuntut ilmu untuk di amalkan di tanah air kelak, ataukah kita ke sini untuk berbisnis, bermain game atau hanya traveling. Karena tidak ada yang mengharuskan kita untuk memilih sesuatu yang wajib kita lakukan. Karena itu kita harus benar-benar pintar memilih teman agar tidak ikut-ikutan aktifitas yang negatif,” tanggap Ihsan dengan sungguh-sungguh.
Diantara kesibukan belajar yang berjibaku dengan kitab-kitab tafsir yang tebal, mereka selalu menyediakan waktu untuk menghafal al-Quran, memperbaiki bacaan al-Quran/tahsin bersama syeikh, ikut majlis ilmu di masjid Al-Azhar yang ada setiap hari, dan menghadiri kajian ilmiah dalam komunitas yang mereka ikuti. Dengan mengikuti semua aktifitas ini, Sahara membiasakan dirinya membaca buku-buku, berdiskusi, menganalisa dan bertukar pikiran. Mereka berusaha untuk membagi waktu dengan sebaik mungkin.
Akankah mereka istiqomah menuntut ilmu sampai akhir masa kuliah? Ataukah akan tergoda melalaikan pendidikan mereka seiring berjalananya waktu? Kita temukan jawabannya di episode yang akan datang.
Konten pada website ini merupakan konten yang di tulis oleh user. Tanggung jawab isi adalah sepenuhnya oleh user/penulis. Pihak pengelola web tidak memiliki tanggung jawab apapun atas hal hal yang dapat ditimbulkan dari penerbitan artikel di website ini, namun setiap orang bisa mengirimkan surat aduan yang akan ditindak lanjuti oleh pengelola sebaik mungkin. Pengelola website berhak untuk membatalkan penayangan artikel, penghapusan artikel hingga penonaktifan akun penulis bila terdapat konten yang tidak seharusnya ditayangkan di web ini.
Laporkan Penyalahgunaan
