Asam di Gunung Garam di Laut Bersatu dalam Belanga Cinta.
Maukah kau beranjak tua bersamaku? Tiga dasawarsa lebih, bukan waktu yang sebentarbagi kita meniti jembatan kehidupan. Berjalan menitinya terasa indah bersamamu. Dalam kehati-hatian kita melewatinya bergenggaman tangan, saling menguatkan. Mungkin sesekali kita hampir terjatuh, tapi tanganmu kembali mengenggam erat tanganku. Begitu juga sebaliknya.
Masih terang dalam ingatanku, bagaimana Allah mempertemukan kita untuk pertama kalinya. Saat itu tidak pernah kita duga. Ibarat asam di gunung, dan garam di lautan dipertemukan-Nya dalam belanga cinta. Bagaimana mungkin aku menduga bahwa kaulah yang akan menjadi imamku, penunjuk jalanku menuju jannah-Nya. Menghabiskan lebih banyak waktuku bersamamu dibandingkan dengan orang tuaku.
Keberanianmu seorang diri menempuh jarak ribuan kilo meter dan menyeberangi lautan luas untuk memintaku kepada orang tuaku. Hanya berbekal surat dari orang tuamu. Kau menyampaikan maksud dan asamu untuk menghalalkan aku bagimu.
Ijab Kabul yang begitu sakral kau ucapkan dengan penuh keyakinan, membuat aku menyerahkan seluruh hidupku bersamamu. Tangis bahagia pecah di malam itu, saat ku sambut tanganmu menandai beralihnya tanggung jawab orang tuaku atas diriku kepadamu.
Hanya berbilang hari, kita tinggalkan kampung halamanku untuk mengarungi hidup dirantau denganmu. Nasehat orang tuaku untuk menjaga dan membahagiakanku, engkau sambut dengan ucapan Iya dan kemantapan hati serta anggukan kepalamu. Membuatku tiada meragukan sedikitpun nasib badan diriku bersamamu.
Sejak itu biduk rumah tangga kita kayuh bersama. Betapa bahagia setiap bangun pagi ku lihat dirimu di sampingku. Beribadah bersama dan engkau memimpin doa kita agar selalu tentram dan bahagia rumah tangga yang sedang kita bangun. Kemudian aku ke dapur menyiapkan sarapanmu. Sungguh indahnya hari-hari yang kulalui bersamamu.
Anak-anak kita lahir satu persatu dari rahimku, mengisi hari-hari bahagia kita. Kita berjuang bahu membahu membesarkan dan mendidik mereka. Sampai akhirnya mereka berangkat dari rumah dan meninggalkan kita kembali berdua.
Apakah kau merasa hampa? Tidak ada lagi kerepotan yang sangat kita nikmati selama ini. Apa yang akan kita lakukan untuk mengisi hari-hari kita yang sepi karena rumah sudah lengang? Apakah kita akan mencari keramaian di luar sana?
Tentu tidak, rumah kitalah tempat kita menemukan kebahagian yang sesungguhnya. Di sanalah kita saling berbagi kisah suka dan duka perjalanan yang telah kita lalui bersama. Tak ada tempat untuk cerita yang mengalihkan kita darinya.
Di sanalah engkau memimpin doa-doa, untuk kita meminta kepada Allah, sebuah rumah di jannah-nya untuk kita. Saling menerima kekurangan dan kelebihan masing-masing, seperti tiga puluh satu tahun yang telah kita jalani. Saling membuang ego dan gengsi diri.
Marilah kita menua bersama dalam belanga cinta.
Konten pada website ini merupakan konten yang di tulis oleh user. Tanggung jawab isi adalah sepenuhnya oleh user/penulis. Pihak pengelola web tidak memiliki tanggung jawab apapun atas hal hal yang dapat ditimbulkan dari penerbitan artikel di website ini, namun setiap orang bisa mengirimkan surat aduan yang akan ditindak lanjuti oleh pengelola sebaik mungkin. Pengelola website berhak untuk membatalkan penayangan artikel, penghapusan artikel hingga penonaktifan akun penulis bila terdapat konten yang tidak seharusnya ditayangkan di web ini.
Laporkan Penyalahgunaan
