Ilma Wiryanti

Belum menuliskan informasi profilenya.

Selengkapnya
Navigasi Web
Ketika Ibu Tidak Ada

Ketika Ibu Tidak Ada

Aku masih menikmati nagka matang yang sudah di kupas rapi kulitnya dengan perasaan senang. Ini luar biasa bagiku, karena biasanya akulah yang mengupas kulitnya dengan tangan penuh berlumuran getah. Tapi kini aku hanya tinggal mengambil dari kulkas dan menikmatinya dengan nyaman.

Ini adalah hasil karya putra Ragilku yang biasanya sangat manja, jangankan mengupas nangka yang banyak getahnya mengupas mangga saja tidak mau. Aku tak bisa membayangkan bagaimana usaha keras saat mengupas nagka yang begitu besar.

Saat itu nangka yang datang masih mengkal. Diantar sore hari oleh penjaga kebun. Padahal esok paginya aku sudah harus berangkat ke Bandung. Dua minggu sesudahnya baru pulang ke rumah. Saat sudah tiga hari di Badung aku bertanya apakah namgkanya sudah mengeleuarkan aroma yang kuat yang menandakan tingkat kematangannya sudah bagus. Putraku mengatakan sudah tercium aroma nangka yang kuat. Aku menyuruhnya untuk memotong menjadi beberapa bagian dan menyimpannya di kulkas.

Ketika pulang, ternyata putraku tidak hanya memotongnya, tapi sudah membersihkan buahnya dari kulitnya dan memasukkankanya ke dalam beberapa plastic yang kedap udara. Hasil pekerjaannya sangat bersih, seperti kerja seorang professional.

Ternyata selama ini aku meremehkannya tidak bisa mengerjakan apapun. Karena selama ini saat aku ada di rumah dia selalu meminta tolong kepadaku untuk mengupas sesuatu. Bisa aku suruh nerusaha sendiri, dia selalu minta diberikan contoh. Tapi ujung-ujungnya tetap aku yang menuntaskan.

Setelah aku tidak ada dia bisa mengerjalanya dengan sangat baik, aku sampai terharu, Ternyata anak ini, selama ini sangat manja karena ada ibunya yang diandalkannya. Tapi ketika aku tidak ada dia tidak jijik bergelimang getah dan ukuran nangka itu tidak main-main. Diameternya saja sekitar 30 cm dan panjangnya setengah meter.

Keadaan ini memngingatkanku pada keluhan yang sering aku pikirkan di dalam hati tentang anak-anakku. Aku sering berpikir apakah mereka akan bisa hidup mandiri nanti jika aku sudah tidak ada lagi. Tapi kejadian kecil ini meyakinkanku, ketika ibunya tidak ada, anak-anak akan mengeluarkan potensi terbaiknya untuk hidup.

DISCLAIMER
Konten pada website ini merupakan konten yang di tulis oleh user. Tanggung jawab isi adalah sepenuhnya oleh user/penulis. Pihak pengelola web tidak memiliki tanggung jawab apapun atas hal hal yang dapat ditimbulkan dari penerbitan artikel di website ini, namun setiap orang bisa mengirimkan surat aduan yang akan ditindak lanjuti oleh pengelola sebaik mungkin. Pengelola website berhak untuk membatalkan penayangan artikel, penghapusan artikel hingga penonaktifan akun penulis bila terdapat konten yang tidak seharusnya ditayangkan di web ini.

Laporkan Penyalahgunaan
search

New Post