Perjalanan Bandung-Singaraja Melebihi Perjalanan Surabaya-Jeddah
Terurai sudah kerinduanku terhadap kedua orang tua, anak cucu dan menantu di Paris Van Jawa. Dua pekan tak terasa sudah berakhir masa libur Galungan dan Kuningan di Pulau bali. Saatnya kau harus segera kembali untuk beraktifitas di tempat kerja sebagaimana biasanya.
Perjalanan pulang kali ini, akan aku tempuh dengan moda transportasi udara. Aturan pernerbangan dalam negeri telah dipermudah dengan hanya menunjukkan hasil test antigen untuk penumpang yang sudah mendapatkan vasinasi 1 dan 2.
Dari Bandung menuju Bandara Sukarno Hatta biasanya ditempuh selama 3-4 jam perjalanan dengan mobil. Karena itu aku memesan travel bandara yang berangkat pukul 07.00 wib. Aku memperkirakan waktu yang tersisa cukup untuk berjaga-jaga bila ada kendala di perjalanan, sehingga tidak akan terlambat sampai di bandara untuk penerbangan yang akan take off pukul 14.45 Wib.
Tapi rencana ditangan manusia tidak demikian takdir yang berlaku. Saat mobil travel menjemputku di perumahan Summarecon Bandung terhalang oleh macet yang ada di jalur Baypass Sukarno Hatta karena ada banjir.
Waktu sudah menunjukkan pukul 08.30 wita, tapi mobil travel masih belum juga sampai di rumah. Aku sudah memeras baju yang ku pakai, sejak pukul tujuh lewat karena belum juga ada kabar keberadaan travel yang akan menjemputku. Akhirnya aku mengotak kantor travel untuk mengkonfirmasi penjemputanku. Disampaikan bahwa mobil yang menjemputku terjebak macet.
Aku minta solusi agar aku tidak terlambat sampai di bandara. Akhirnya dari kantor meminta pengertianku untuk berangkat sendiri ke pintu tol buah batu dengan taksi. Biaya taksi akan mereka ganti. Aku menyanggupinya. Akhirnya, menantuku memesankan taksi yang akan mengantarku menuju pintu gerbang tol tempat mobil travel menungguku.
Lama aku tunggu taksi yang dipesan belum juga datang, aku makin gelisah. Syukurnya saat jam menunjukkan pukul 09.00 Wib, taksi blue Bird itu sampai di depan rumah. Kami segera berangkat. Meski jalan cukup padat, tapi perjalanan menuju tol termasuk lancar.
Pukul 09.30 Wib, akhirnya aku sampai di gerbang tol yang telah ditunggu oleh mobil travel dan beberapa penumpang lainnya. Setelah aku naik, mobil segera melaju kencang di jalan tol menuju Jakarta.
Tapi tak berapa lama mobil berjalan menuju pintu keluar tol Pasteur. Aku kaget kenapa keluar lagi tidak meneruskan perjalanan ke bandara.
“Kita akan menjemput penumpang dua orang di Hotel Sukajadi. Tadi sudah dijemput tapi hasil tes antigennya belum selesai,” jawab sopir travel ketika aku menanyakan kenapa mobil keluar tol lagi.
Mendengar penjelasannya aku merasa kenapa ada orang yang tidak memperhatikan keperluan penumpang lain. Seharusnya mereka bisa tes antigen sore kemaren seperti yang aku lakukan. Sehingga tidak menganggu perjalanan seperti ini.
Melihat kecemasanku, Bapak sopir menghiburku. Dia mengatakan tidak akan terlambat bila pukul 10.00 wib nanti kita sudah masuk tol kembali. Sepanjang perjalanan ke hotel dan masuk tol kemabali aku berdoa semoga jalan di dalam kota tidak mengalami kemacetan.
Setelah menjemput dua penumpang cantik di hotel mobil kembali bergerak menuju tol. Tepat pukul 10.00 wib, kami sudah kembali melaju di jalan tol.
Sang sopir memacu mobil dengan kencang dan fokus. Aku lihat di kiri kanan mobil kami, mobil-mobil yang lainpun melaju dengan kencang. Setelah 2 jam perjalanan mobil berhenti dan beristirat sebentar di rest area dan kembali melaju menuju bandara setelah 20 menit kemudian. Akhirnya pukul 13.30 Wib mobil travel sudah memasuki gerbang bandara.
Di terminal 2 D aku turun. Di terminal ini nanti aku akan ceck in dan terbang dengan pesawat Super Air Jet pada pukul 14.45 Wib. Sampai di gedung terminal bandara ini hatiku sudah plong. Masih cukup waktu bagiku untuk proses cek in dan boarding pass, apalagi semua dokumen penerbanganku sudah lengkap.
Tanpa kendala semua berjalan dengan lancar, pukul 13. 45 wib aku sudah berada di ruang tunggu keberangkatan di gerbang D-7. Aku segera menuju musalah untuk menjamak salat Zuhur dan Asyar. Setelah itu baru aku makan siang sambil menunggu dipanggil untuk boarding.
Waktu boarding on time, aku segera masuk kebarisan penumpang ayang akan masuk ke dalam pesawat. Di gerbang pesawat aku agak tercengang dengan penampilan pramugari yang menyambut kami. Biasanya para pramugari terbut mengenakan busana tradisional seperti kebaya dengan rambut yang digulung rapi, tapi pramugari di pesawat Super Air Jet tampil dengan busana sportif dengan sepatu kets dan rambut yang dicat pirang terurai.
Rupanya memang ini ciri dari mereka. Dengan mengangkat thema sportif dan simpel mereka tampil layaknya anak muda yang hang out, santai dan sportif. Generasi milenial memang menjadi target pasar dari maskapai yang baru didirikan ini.
Seru juga terbang dengan maskapai ini. Selain penampilan awak kabinnya yang unik di dalam pesawat juga disuguhkan hiburan music dan film yang bisa di akses oleh penumpang dari aplikasi yang telah disediakan.
Aku kebetulan dapat kursi di dekat jendela tepat di atas sayap. Kursi di sebelahku kosong, dari 3 kursi bagian tengahnya tidak ada penumpangnya, sehingga aku agak leluasa bergerak selama penerbangan. Tak sampai 2 jam penerbangan kami sudah mendarat di Bandara Ngurah Rai, Denpasar, Bali.
Setelah mengambil bagasi, aku segera menuju pintu kedatangan dan mendorong troliku menuju restoran Solaria, tempat suamiku yang sudah menunggu kedatanganku. Baru saja aku sampai di sana, aku sudah melihat mobil suami melaju ke arahku.
Tanpa membuang waktu lagi kami segera keluar bandara dan langsung pulang menuju kota kami, Singaraja. Saat meninggalkan Denpasar, hari sudah gelap, Magrib telah hilang dengan menganti warna jingga di langit dengan warna hitam pekat. Sepertinya akan turun hujan.
Benar saja, tak berapa lama kami meninggalkan Denpasar, rinai hujan mulai menitik. Makin lama makin lebat, akhirnya seperti semua air dilangit dicurahkan ke muka bumi. Perjalanan kami masih jauh, untungnya tadi saat keluar bandara kami sudah mengisi perut dengan rawon yang hangat, sehingga tidak akan masuk angin dengan kondisi hujan yang deras ini.
Pukul 23. 30 Wita, kami baru sampai di rumah. Sungguh perjalanan yang melelahkan. Jika dihitung dari mulai keberangkatan pukul 8.30 wib dari Bandung dan baru sampai pukul 23.30 wita di Singaraja, perjalanan antara dua kota ini aku tempuh selama 14 jam. Waktu tempuh ini lebih lama dari perjalanan dari Surabaya menuju Jeddah saat umrah atau Haji, yang ditempuh hanya selama 10 jam penerbangan.
“Semoga perjalanan silaturahmi kepada kedua orang tua serta anak menantu dan cucuku ini juga mendapat pahala di sisi Allah sebagaimana perjalanan ibadah ke tanah suci. Aamiin YRA,” doaku di dalam hati.
Kini tumbuh harapan baru di hatiku. Di kota Singaraja akan dibangunnya bandara baru. Aku berharap perjalananku untuk bersilaturahmi kepada keluarga besarku tidak akan lama dan melelahkan lagi.
Konten pada website ini merupakan konten yang di tulis oleh user. Tanggung jawab isi adalah sepenuhnya oleh user/penulis. Pihak pengelola web tidak memiliki tanggung jawab apapun atas hal hal yang dapat ditimbulkan dari penerbitan artikel di website ini, namun setiap orang bisa mengirimkan surat aduan yang akan ditindak lanjuti oleh pengelola sebaik mungkin. Pengelola website berhak untuk membatalkan penayangan artikel, penghapusan artikel hingga penonaktifan akun penulis bila terdapat konten yang tidak seharusnya ditayangkan di web ini.
Laporkan Penyalahgunaan
