Ilma Wiryanti

Belum menuliskan informasi profilenya.

Selengkapnya
Navigasi Web
Stevens-Johnson Syndrome (SJS) telah Membersamaiku Selama 26 Tahun
steven jhonson Syndrom.jpg sumber liputan6.com

Stevens-Johnson Syndrome (SJS) telah Membersamaiku Selama 26 Tahun

Hari itu, aku baru saja menyusui bayiku yang baru berusia 4 bulan. Tiba-tiba aku meihat bintik-bintik merah di lenganku. Semula aku mengira hanya benjolan karena digigit nyamuk. Tapi makin sore terlihat bentolan tersebut makin banyak.

Aku mulai panik. Ada apa gerangan? Apakah aku alergi makan? Aku mencoba mengingat kembali apa yang aku makan dari tadi pagi. Setelah aku mengingat semuanya, tak satupun yang aku makan yang bisa menimbulkan reaksi alergi.

Sore harinya, bentolan tersebut makin banyak, bahkan sudah sampai memenuhi punggungku. Akupun merasa tubuhku demam. Badan terasa tidak enak, dari dalam terasa panas. Untuk mengurangi rasa panasnya aku mencoba dengan banyak minum air putih.

Aku lihat bentolan di tanganku juga sudah mulai melepuh. Kepalaku pusing. Tenggorokanku juga mulai terasa radang. Saat minum aku sangat sulit menelan. Aku coba untuk tidur, tapi rasa panas di badanku membuat tidurku tidak nyaman.

Kepalaku terasa tambah pening. Dalam tidur aku seperti berhalusinasi. Mungkin karena demam yang tinggi, aku merasa seperti berada di medan pertempuran. Terdengar teriakan “merdeka!!!merdeka!!!” aku ikut berteriak merdeka. Kemudian seperti terjadi pertempuran bila pasukan Indonesia kalah kepalaku tambah pening.

Aku terbangun dengan banjir keringat di dahiku.Ternyata teriakan merdeka tersebut berasal dari lapangan volley yang ada disebelah rumahku. Warga perumahan sedang melakukan pertandingan volley untuk menyambut hari kemerdekaan RI.

Melihat kondisiku, suami segera membawa aku ke dokter spesialis kulit. Dokter memeriksa, bentol-bentol yang memenuhi kulitku. Kemudian dia bertanya apakah aku sedang minum obat?

“ Iya, Dok. Saya minum obat batuk dan pilek serta parasetamol,” jawabku sambil mengambil obat-obat tersebut dari dalam tasku dan memeperlihatkan kepada dokter.

Dokter mengambil dan mengamati obat-obat yang aku konsumsi. Kemudian dia mengeryitkan keningnya dan menjelaskan kepadaku hasil diagnosanya.

“ Ibu sepertinya terkena Stevens-Johnson Syndrome (SJS). Yang saya duga penyebabnya adalah paracetamol,” jelasnya.

Aku dan suami bingung syndrome seperti apa itu. Karena selama ini aku minum obat paracetamol aman-aman saja.

“Steven Johnson syndrome (SJS) adalah penyakit langka dan serius yang menyerang kulit dan membran mukus. Sindrom ini biasanya muncul akibat reaksi obat yang diawali dari gejala menyerupai flu, kemudian ruam menyakitkan seperti melepuh di sekujur tubuh. Selanjutnya, lapisan atas kulit akan mati, mengelupas, dan sembuh setelah beberapa hari,” jelas dokter saat melihat kami kebingungan.

“Untung saja segera dibawa ke sini. Karena bila terlambat bisa berakibat fatal. Sekarang Ibu harus dirawat di rumah sakit,. Agar segera mendapatkan penanganan,” katanya lagi.

Aku segera dibawa keruang perawatan dan dipasangkan infuse serta pemberian obat-obatan melalui infuse. Selama 7 hari aku dirawat di rumah sakit. Selama itu aku tidak bisa bertemu dengan bayiku dan menyusuinya. Terpaksa bayi yang masih sangat kecil itu meminum susu formula.

Saat aku boleh pulang, hal pertama yang ingin aku lakukan adalah menyusui kembali bayiku. Tapi dia menolakku, bahkan setiap aku menggendongnya dia menangis dengan keras. Saat aku akan menyusuinya dia meronta-ronta.

Hatiku sangat sedih. Untung suamiku mendampingiku dan memberi dukungan agar aku sabar dan pelan-pelan mengajarkan kembali cara menyusu ASI kepada bayi kami. Akhirnya dengan upaya keras dan kesabaran bayiku kembali mau menyusu kepadaku. Aku sangat bahagia.

Kini bayi kecil yang aku tinggalkan karena aku harus opname di rumah sakit itu telah berusia 26 tahun. Selama itu aku tidak pernah minum paracetamol. Bila aku demam aku mengkonsumsi obat-obat herbal. Selama 26 tahun itu Steven Johnson syndrome membersamaiku.

DISCLAIMER
Konten pada website ini merupakan konten yang di tulis oleh user. Tanggung jawab isi adalah sepenuhnya oleh user/penulis. Pihak pengelola web tidak memiliki tanggung jawab apapun atas hal hal yang dapat ditimbulkan dari penerbitan artikel di website ini, namun setiap orang bisa mengirimkan surat aduan yang akan ditindak lanjuti oleh pengelola sebaik mungkin. Pengelola website berhak untuk membatalkan penayangan artikel, penghapusan artikel hingga penonaktifan akun penulis bila terdapat konten yang tidak seharusnya ditayangkan di web ini.

Laporkan Penyalahgunaan
search

New Post