Taragak Pulang Kampung
Hari ini, ketika melihat postingan keluarga kakakku yang sedang menempuh perjalanan darat lintas sumatera untuk pulang kampung, aku teringat perjalanan kami beberapa tahun yang lalu saat mudik menempuh jalan yang sama. Meski kini kondisinya lebih nyaman karena sudah banyak jalan tol yang bisa ditempuh.
Dulu, keluarga besar kami yang dirantau termasuk rutin pulang basamo saat akan lebaran secara konvoi. Kami berangkat 4-5 keluarga dari Jakarta saat baru saja selesai sahur dan salat subuh. Mobil yang beriringan berjalan bisa 3-4 mobil.
Suasana saat itu sangat menyenangkan dan hangat dengan rasa kekeluargaan yang kental. Dalam kondisi berpuasa selama perjalanan, kami akan tiba di Palembang tepat saat berbuka puasa. Meski yang dewasa berpuasa, kami juga tidak melupakan anak-anak yang tidak kuat berpuasa dengan menyiapkan makanan untuk mereka selama perjalanan.
Perjalanan kami tempuh hanya siang hari. Saat malam hari kami akan beristirahat di Hotel atau wisma. Di Palembang tempat yang menjadi langganan kami untuk menginap adalah wisma hijau yang terletak di tepi sungai musi.
Pagi sebelum memulai perjalanan kembali menuju Sumatera Barat, aku dengan kakak-kakak ipar yang perempuan akan mampir sebentar ke pasar tradisional yang terletak tidak jauh dari wisma kami untuk membeli beberapa pempek untuk oleh-oleh.
Selanjutnya perjalan darat kembali kami tempuh dengan riang gembira. Apalagi anak-anak, mereka sangat menikmati konvoi ini. Bahkan ketika meminta mereka memilih apakah akan pulang kampung dengan pesawat atau mobil mereka akan serentak memilih naik mobil. Alasannya, bila naik pesawar tidak asyik karena tidak bayak yang bisa dilihat. Mereka merasa naik mobil lebih banyak pengalaman dan kesan yang mereka dapatkan.
Biasanya kami akan sampai di Payakumbuh saat azan Isya berkumandang. Meski sudah berbuka di perjalanan, tapi saat sampai dirumah kami akan makan malam kembali kerena tergiur oleh lauk tradisional yang telah disiapkan kakak sulung perempuan kami setiap kami pulang kampung.
Di bentangan karpet dan tikar di ruang tengah telah terhampar aneka masakan kesenangan kami masing-masing. Kadang-kadang inilah yang menjadi magnet kami untuk pulang kampung. Meski masakan itu bisa kami buat dirantau, tapi rasanya tidak seenak dan khas masakan kakak kami.
Kini beliau telah lama berpulang kehadirat-Nya. Tapi kasih sayang dan perhatiannya tak pernah lekang dari hati dan ingatan kami. Semoga Beliau berada ditempat yang lapang dan pernuh kebahagiaan di alam Barzah. Al Fatihah untukmu kakakku tersayang.
“Semoga Allah melapangkan kuburanmu. Aamiin YRA,”
Konten pada website ini merupakan konten yang di tulis oleh user. Tanggung jawab isi adalah sepenuhnya oleh user/penulis. Pihak pengelola web tidak memiliki tanggung jawab apapun atas hal hal yang dapat ditimbulkan dari penerbitan artikel di website ini, namun setiap orang bisa mengirimkan surat aduan yang akan ditindak lanjuti oleh pengelola sebaik mungkin. Pengelola website berhak untuk membatalkan penayangan artikel, penghapusan artikel hingga penonaktifan akun penulis bila terdapat konten yang tidak seharusnya ditayangkan di web ini.
Laporkan Penyalahgunaan
