Cahaya Sultanite (30) Kumpulan Cerpen Rembulan di Atas Hagia Sophia
Cahaya Sultanite (30)
Cahaya senja Istanbul memantulkan warna-warni hangat pada Bosphorus. Aslan dan Mira duduk berdampingan di dek kapal pesiar, menikmati angin sepoi-sepoi yang membawa aroma laut. Perjalanan mereka ke Turki hampir berakhir, namun kenangan indah yang mereka ciptakan akan abadi.
"Aku akan selalu mengingat momen-momen ini, Mira," ucap Aslan, matanya tak lepas dari wajah istrinya.
Mira tersenyum lembut. "Aku juga, Aslan. Terima kasih sudah mengajakku ke sini."
Saat pulangpun tiba. Cahaya pagi Istanbul memantul lembut di kaca jendela pesawat. Aslan memejamkan mata, membayangkan senyum Mira saat melihat kejutannya. Kota yang penuh pesona itu telah memberinya inspirasi untuk memperbaiki kesalahannya.
Sejak pertengkaran hebat beberapa bulan lalu, hubungannya dengan Mira terasa renggang. Kata-kata kasar yang terlontar begitu saja masih menghantui pikirannya. Aslan tahu, ia harus berbuat lebih untuk memperbaiki semuanya.
Sejenak suasana menjadi hening. Aslan meraih tangan Mira dan menggenggamnya erat. "Ada satu kejutan untukmu," ujarnya.
Lalu mengeluarkan sebuah kotak kecil dari sakunya. Kotak kecil berwarna biru tua telihat rapi.
Dengan hati berdebar, Mira membuka kotak itu. Di dalamnya tersimpan cincin bertahtakan batu suktanit, permata khas Turki yang warnanya dapat berubah-ubah tergantung cahaya yang menyinarinya. Batu itu baginya adalah simbol perubahan dan harapan baru.
Batu utamanya berwarna hijau zamrud, berganti-ganti warna tergantung sudut pandang, khas batu suktanik Turki. Cincin itu begitu berkilau di bawah sinar mentari pagi, memancarkan keindahan yang memukau.
"Ini... untukmu," ucap Aslan, suaranya bergetar. "Sebagai tanda maafku atas semua kesalahan yang pernah kulakukan. Dan sebagai bukti bahwa aku mencintaimu."
Air mata mengalir deras di pipi Mira. Ia tidak menyangka Aslan akan memberikan hadiah sebesar ini. Cincin suktanik bukan hanya sekadar perhiasan, tetapi juga simbol cinta yang abadi dan kesetiaan.
"Aslan..." gumam Mira, suaranya terisak. "Terima kasih."
Aslan meluncurkan cincin itu ke jari manis Mira. Cincin itu pas sempurna, seolah-olah sudah ditakdirkan untuk berada di sana.
“Aslan... ini sangat indah,” ucap Mira, suaranya bergetar.
Aslan meraih tangan Mira. “Aku tahu aku pernah menyakitimu. Tapi aku benar-benar menyesal. Aku berharap cincin ini bisa menjadi simbol dimulainya lembaran baru dalam hubungan kita.”
"Aku janji akan selalu menjagamu, Mira," ucap Aslan lagi. "Sama seperti batu suktanik yang selalu bersinar, cintaku padamu akan selalu abadi."
Mira mengangguk, matanya berkaca-kaca. Ia merasa begitu bahagia dan bersyukur memiliki suami seperti Aslan.
Mira memeluk Aslan erat. “Aku juga mencintaimu, Aslan. Aku memaafkanmu.”
Sepanjang penerbangan, mereka saling bercerita tentang perjalanan mereka di Turki. Aslan menceritakan betapa ia merindukan Mira setiap saat. Mira pun demikian. Mereka menyadari bahwa cinta mereka lebih kuat dari segala rintangan.
Beberapa bulan kemudian, Mira hamil. Kehamilannya membuat hubungan mereka semakin erat. Suatu malam, saat sedang mengelus perutnya yang mulai membuncit, Mira melihat kilauan aneh pada cincin suktanit. Cahayanya berubah menjadi warna merah tua yang menyala.
Khawatir, Mira segera membawa cincin itu ke seorang ahli permata. Setelah diperiksa, ahli itu memberikan kabar yang mengejutkan. Ternyata, batu suktanit yang dimiliki Mira adalah batu langka yang mengandung energi mistis. Konon, batu itu dapat meramalkan masa depan. Warna merah tua yang muncul menandakan adanya bahaya yang akan menimpa mereka.
Mereka mencari informasi tentang batu sultanate tersebut. Akhirnya menemukan sebuah buku kuno yang menyebutkan tentang batu suktanit sebagai penanda kebangkitan kekuatan jahat. Ternyata, batu suktanit yang mereka miliki adalah salah satu dari sepasang batu yang terpecah ribuan tahun lalu. Batu pasangannya berada di tangan seorang kolektor benda antik. Mereka harus mencari batu pasangannya untuk menetralisir kekuatan negatif yang ada pada batu suktanit Mira.
"Aslan, aku takut" seru Mira, terbangun dari tidur. Keringat dingin membasahi dahinya. "Aku bermimpi ada bayangan hitam besar yang mengejar kita."
Aslan memeluk erat istrinya. "Tenanglah, Sayang. Itu hanya mimpi buruk." Namun, dalam hatinya, Aslan merasa gelisah. Mimpi buruk Mira semakin sering terjadi, dan semakin nyata.
"Aku tidak tahu harus bagaimana lagi, Aslan," ucap Mira dengan suara lirih. "Aku takut akan membahayakan bayi kita."
Aslan menggenggam tangan Mira. "Kita akan mencari jalan keluarnya bersama, Sayang. Kita tidak akan menyerah. Aku sudah meminta temanku di Turki untuk mencari kolektor yang menyimpan kembaran cincinmu.."
Setelah melakukan penyelidikan mendalam, Aslan dan Mira menemukan bahwa kolektor batu langka yang memiliki kembaran cincin suktanit berada di Istanbul. Dengan harapan dapat mengakhiri penderitaan Mira, mereka memutuskan untuk pergi ke Turki sekali lagi.
Pertemuan dengan kolektor tersebut berjalan menegangkan. Sang kolektor, seorang pria tua licik bernama Kemal, awalnya enggan menyerahkan batu itu. Namun, setelah mendengar kisah Aslan dan Mira, Kemal luluh. Ia menceritakan bahwa batu suktanit yang dimilikinya adalah warisan keluarga yang telah dijaga selama berabad-abad. Ia percaya bahwa kedua batu itu harus disatukan kembali untuk menjaga keseimbangan alam semesta.
Dengan bantuan seorang ahli spiritual Turki, mereka melakukan ritual penyatuan kedua batu suktanit. Ritual ini dilakukan di sebuah gua kuno yang dipercaya memiliki energi mistis. Saat kedua batu itu disatukan, cahaya terang menyinari gua. Seketika, Mira merasa tubuhnya menjadi lebih ringan dan energinya kembali pulih.
Setelah ritual, batu suktanit yang sudah menyatu memancarkan cahaya lembut berwarna putih. Mira merasakan perubahan yang sangat signifikan dalam dirinya. Tidak hanya penyakitnya sembuh, tetapi ia juga merasa lebih tenang dan bahagia. Batu itu seperti sumber energi positif yang terus mengalir dalam tubuhnya.
Aslan dan Mira kembali ke Indonesia dengan hati yang penuh sukacita. Mereka memutuskan untuk memanfaatkan energi positif dari batu suktanit untuk membantu orang lain. Mereka mendirikan sebuah yayasan yang fokus pada penyembuhan alami dan pengembangan spiritual.
Beberapa bulan kemudian, Mira melahirkan seorang bayi perempuan yang cantik. Bayi itu memiliki kemampuan khusus untuk berkomunikasi dengan alam. Ketika bayi itu menyentuh batu suktanit, batu itu memancarkan cahaya yang lebih terang dari sebelumnya. Terungkap bahwa bayi mereka adalah reinkarnasi dari seorang penjaga batu suktanit yang hidup ribuan tahun lalu.
Konten pada website ini merupakan konten yang di tulis oleh user. Tanggung jawab isi adalah sepenuhnya oleh user/penulis. Pihak pengelola web tidak memiliki tanggung jawab apapun atas hal hal yang dapat ditimbulkan dari penerbitan artikel di website ini, namun setiap orang bisa mengirimkan surat aduan yang akan ditindak lanjuti oleh pengelola sebaik mungkin. Pengelola website berhak untuk membatalkan penayangan artikel, penghapusan artikel hingga penonaktifan akun penulis bila terdapat konten yang tidak seharusnya ditayangkan di web ini.
Laporkan Penyalahgunaan
