SURATKU DITERIMA PAK GURU
Bersyukur bisa ikut program No Baper Spesial Hari Guru Nasional 2021. Mungkin tulisan ini sudah tak menarik lagi, ibarat kerupuk sudah umes (melempem), nggak kriuk-kriuk kalau dikunyah. Lha wong surat dibuat November 2021, kok baru sekarang dirilis ulasannya, basi?
Antologi Surat untuk Guru Kami Tercinta berisi kumpulan surat yang sangat istimewa dari para penulis No Baper Spesial HGN untuk guru-guru tercinta yang paling berkesan semasa sekolah. Beragam pengalaman murid dengan gurunya dikemas apik sehingga benar-benar bikin baper pembacanya. Tentunya "S&K" tetap berlaku. Kalau cara membacanya seperti anak SD yang baru belajar membaca pasti hambar. Tak berasa, apalagi meleleh air mata, suatu hil yang mustahal.
Ada yang berubah makna dari isi surat yang kutulis untuk pak guruku karena sudah diedit oleh tim No Baper. Tak mengapa, itu menjadi kewenangan yang punya hajat (program). Sebagai kontributor nurut saja, kalau disuguhi singkong mana mungkin yang dimakan burger. Beda halnya jika lebaran nanti anda berkunjung ke rumah kami. Jangan heran kalau yang disuguhkan di atas meja kalengnya bertuliskan "Mon***" ternyata isinya rengginang atau rempeyek.
Foto yang ada di atas adalah guru saya semasa SMP, Pak Sutrisno guru mapel ekonomi. Satu dari tiga nama guru yang saya sebut dalam isi surat (naskah aslinya) tapi raib namanya setelah proses editing. Beliau menikmati senja bersama keluarga di kampung halamannya, kabupaten Banjarnegara, Jawa Tengah. Butuh waktu dan perjuangan dari teman-teman di grup SMP hingga buku sampai di tangan beliau.
Setelah paket buku kuterima dari Mas Pemred, foto bukunya (lihat gambar bawah) kuposting di WA grup SMP. Aku minta info keberadaan ketiga Pak guru (dalam isi surat). Satu eksemplar buku (plus Bubuk Jahe Merah dan Kopi Hitam Kupu-kupu khas Rangkasbitung) kukirim ke alamat salah seorang anggota grup untuk dibaca bergantian bagi peminatnya.
Dodel jempol aku berikan kepada teman-teman yang membantu melacak keberadaan para beliau. Alhasil, yang seorang sudah almarhum (Pak Sukardi), seorang lagi (Pak Suwahyo) sudah pindah domisili yang tak diketahui alamatnya yang baru. Nah yang ketemu alamatnya adalah Pak Sutrisno di Banjarnegara. Oh iya, satu lagi, Pak Kepala sekolah juga sudah almarhum (informasinya pernah menjadi bahan tulisan di Gurusiana tahun lalu).
Semoga semua pengabdian para guru (SMP Persit Diponegoro I Semarang) dan amal ibadahnya diterima Gusti Allah ingkang murbeng dumadi dan mendapat balasan pahala di dunia dan akhirat. Amin.
Graha Pasir Ona, 12 Februari 2022



Konten pada website ini merupakan konten yang di tulis oleh user. Tanggung jawab isi adalah sepenuhnya oleh user/penulis. Pihak pengelola web tidak memiliki tanggung jawab apapun atas hal hal yang dapat ditimbulkan dari penerbitan artikel di website ini, namun setiap orang bisa mengirimkan surat aduan yang akan ditindak lanjuti oleh pengelola sebaik mungkin. Pengelola website berhak untuk membatalkan penayangan artikel, penghapusan artikel hingga penonaktifan akun penulis bila terdapat konten yang tidak seharusnya ditayangkan di web ini.
Laporkan Penyalahgunaan
