GURU LITERAT PANUTAN SISWA DALAM BERLITERASI 2
Dalam tahap pelaksanaan GLS di sekolah pada umumnya dilakukan upaya pembiasaan membaca di kalangan peserta didik. Setidaknya setiap hari mereka membaca selama lima belas (15) menit sebelum mulai kegiatan pembelajaran yang telah dijadwalkan. Dengan pengawasan guru mata pelajaran jam pertama, peserta didik disilakan membaca buku yang dibawanya (fiksi atau non fiksi). Apa yang telah dibaca dibuat laporan per individu berupa rangkuman singkat isi yang dibaca dari buku, baik fiksi maupun nonfiksi.
Guru sebagai bagian dari warga sekolah yang menjadi sasaran gerakan literasi sekolah harus bisa menjadi contoh bagi para peserta didiknya. Kegiatan literasi bukan monopoli tugas guru bahasa (Indonesia dan Inggris) di sekolah. Setiap warga sekolah ikut bertanggung jawab dan terlibat dalam gerakan literasi di sekolah. Sebagai realisasinya, SMAN 1 Rangkasbitung (Kabupaten Lebak, Banten) mengikuti program Banpelis yang bekerja sama dengan Gerakan Indonesia Membaca Buku (GIMB). Tahun 2021 para guru (termasuk kepala sekolah) telah menghasilkan karya bersama berupa buku antologi yang diterbitkan dan ber-ISBN, yaitu Meneroka Derap Suara (antologi puisi), Merangkai Kata Merajut Cerita (antologi pentigraf), dan Cerita Pendidikan Masa Pandemi (antologi esai).
Secara individu sebagian guru mengikuti program menulis bersama komunitas yang ada, yaitu Komunitas Menulis Bersama, Gurusiana, dan No Baper. Beberapa karya antologi yang telah terbit KMB (Selaksa Puisi untuk Ibu, Kumpulan Cerpen Kekuatan Rindu, Ingin Bersamamu), No Baper MediaGuru (Surat untuk Guru Kami Tercinta, Bolehkah Guru Menyambi Jualan?, Haruskah Guru Memanipulasi Nilai Siswa?, Ayo Nggedabrus Gawe Boso Makmu Dewe-dewe), dan Lomba Guru Menulis MediaGuru (Literasi Sekolah, Lestarikan Lingkungan Sejahterakan Masyarakat, Kami Rindu Tatap Muka, Tubuh Bugar Ide Segar Literasi Gencar, Colourful Ramadan, Satu Buku Sejuta Cerita).
Semakin berkembangnya zaman, tentu saja makin banyak hal yang berinovasi ke dunia digital, termasuk literasi. Oleh karenanya guru literat tidak boleh ketinggalan informasi dan selalu meningkatkan keterampilan penggunaan teknologi informasi, khususnya dalam pembelajaran. Terlebih selama dua tahun masa pandemi, dengan pembelajaran jarak jauh menuntut guru harus literat. Literasi digital merupakan pengetahuan dan kemampuan seseorang untuk menggunakan media digital, alat komunikasi dan kemudian menggunakannya secara sehat, bijak, dan cerdas. Guru literat harus bisa menjadi panutan siswa dalam berliterasi.
Rangkasbitung, 19 April 2022
Konten pada website ini merupakan konten yang di tulis oleh user. Tanggung jawab isi adalah sepenuhnya oleh user/penulis. Pihak pengelola web tidak memiliki tanggung jawab apapun atas hal hal yang dapat ditimbulkan dari penerbitan artikel di website ini, namun setiap orang bisa mengirimkan surat aduan yang akan ditindak lanjuti oleh pengelola sebaik mungkin. Pengelola website berhak untuk membatalkan penayangan artikel, penghapusan artikel hingga penonaktifan akun penulis bila terdapat konten yang tidak seharusnya ditayangkan di web ini.
Laporkan Penyalahgunaan