GURU LITERAT PANUTAN SISWA DALAM BERLITERASI
Pemahaman umum tentang literasi biasanya dikaitkan dengan aktivitas membaca, terutama membaca buku. Mereduksi makna literasi menjadi keliru jika sekedar membaca buku. Muhadjir Effendi ketika menjabat Menteri Pendidikan dan Kebudayaan pernah menyampaikan kepada para peserta Diskusi Kelompok Terpumpun (DKT) Gerakan Literasi Nasional di Jakarta bahwa literasi tidak hanya membaca buku. Dengan membaca buku seseorang akan memiliki perspektif baru, lalu membuat karya. Proses tersebut berlangsung terus-menerus sepanjang hayat (kemendikbud.go.id/21/8/2019).
Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), arti kata literasi adalah kemampuan dan keterampilan individu dalam berbahasa yang meliputi membaca, menulis, berbicara, menghitung dan memecahkan masalah pada tingkat keahlian tertentu yang diperlukan dalam kehidupan sehari-hari.
Menurut Wikipedia, literasi berasal dari bahasa Latin yaitu literatus yang berarti orang yang belajar. Dalam Education Development Center, literasi dijabarkan sebagai kemampuan individu untuk menggunakan potensi yang ia miliki (kemampuan tidak sebatas baca tulis saja). Pengertian literasi menurut UNESCO, yakni seperangkat keterampilan yang nyata, khususnya keterampilan kognitif seseorang dalam membaca dan menulis yang dipengaruhi oleh kompetensi di bidang akademik, konteks nasional, institusi, nilai-nilai budaya, dan pengalaman.
Berkaitan dengan budaya literasi di sekolah, Kemendikbud telah membuat program Gerakan Literasi Sekolah (GLS). Gerakan ini merupakan sebuah upaya yang dilakukan secara menyeluruh untuk menjadikan sekolah sebagai organisasi pembelajaran yang warganya literat sepanjang hayat melalui pelibatan publik. Secara umum GLS bertujuan untuk menumbuhkembangkan budi pekerti peserta didik melalui pembudayaan ekosistem literasi sekolah yang diwujudkan dalam Gerakan Literasi Sekolah agar mereka menjadi pembelajar sepanjang hayat. Adapun tujuan khususnya yaitu menumbuhkembangkan budaya literasi di sekolah, meningkatkan kapasitas warga dan lingkungan sekolah agar literat, menjadikan sekolah sebagai taman belajar yang menyenangkan dan ramah anak agar warga sekolah mampu mengelola pengetahuan, serta menjaga keberlanjutan pembelajaran dengan menghadirkan beragam buku bacaan dan mewadahi berbagai strategi membaca.
Graha Pasir Ona, 18 April 2022
Konten pada website ini merupakan konten yang di tulis oleh user. Tanggung jawab isi adalah sepenuhnya oleh user/penulis. Pihak pengelola web tidak memiliki tanggung jawab apapun atas hal hal yang dapat ditimbulkan dari penerbitan artikel di website ini, namun setiap orang bisa mengirimkan surat aduan yang akan ditindak lanjuti oleh pengelola sebaik mungkin. Pengelola website berhak untuk membatalkan penayangan artikel, penghapusan artikel hingga penonaktifan akun penulis bila terdapat konten yang tidak seharusnya ditayangkan di web ini.
Laporkan Penyalahgunaan
