Isak Isnain

Belum menuliskan informasi profilenya.

Selengkapnya
Navigasi Web
MEMULIAKAN TAMU

MEMULIAKAN TAMU

Semangat pagi!

Hari kedua di kota Semarang Nack Wedok nagih janji sebelum berangkat mudik. Bukan nagih minta baju lebaran atau melancong di klinong-klinong kota Semarang, melainkan nagih untuk periksa ke dokter mata. Memang seminggu sebelumnya sudah periksa ke dokter mata karena ada yang dirasa tidak beres di matanya, seperti ada benda asing yang menempel di kelopak mata (klilipan?). Berdasarkan hasil pemeriksaan, oleh dokter diberi salep mata dan obat tetes mata cendo di RS Rangkasbitung.

Alhamdulillah, ada perubahan membaik yang dirasakan setelah diberi obat secara teratur sesuai anjuran resep dokternya. Untuk selanjutnya disarankan kontrol lagi sepekan kemudian. Kebetulan harinya pas dengan rencana mudik lebaran. Oleh karenanya kartu peserta BPJS tidak boleh tertinggal, harus dibawa untuk dipergunakan periksa/kontrol ke dokter mata di Semarang atau Oslo (biar keren dikit, maksudnya Solo).

Konon kabarnya peserta BPJS di kota pelayanannya lebih baik ketimbang di kampung (kota kecil). Hal ini ada benarnya, berdasarkan pengalaman sekira tahun 1999 ketika Nack Lanang operasi appendix (dari RSUD Rangkasbitung dirujuk ke RSUD Kota Serang). Setiba di ruang IGD RSUD Serang, pasien langsung ditangani oleh petugas medis yang jaga (hari Minggu). Pada saat bersamaan petugas administrasi langsung menanyakan apakah memiliki kartu Askes. Jika punya disarankan untuk digunakan fasilitas Askesnya, tak perlu pakai jalur pasien umum. Sementara kalau berobat di daerah sendiri (Rangkasbitung) pasien Askes sering dinomorduakan setelah pasien umum (non Askes). Tetapi itu zaman dahulu, alhamdulillah sekarang pelayanan terhadap pasien pengguna kartu Askes/BPJS semakin membaik.

Rumah sakit khusus mata di Semarang yang terkenal adalah RS William Booth, ini yang menjadi tempat tujuan periksa mata. Ternyata sekarang sudah berubah menjadi rumah sakit umum yang melayani pasien berbagai macam penyakit, seperti layaknya rumah sakit umum lainnya. Sesampai di RSU Wiliam Booth, nampak tulisan “tempat pendaftaran BPJS” (mungkin maksudnya khusus peserta Askes/BPJS). Ketika hendak menekan “tombol antrian” seorang petugas mendekati dan menanyakan “ada yanhg bisa dibantu?” Setelah saya menyatakan keperluannya, petugas itu memberikan penjelasan prosedurnya dan menyarankan agar mengurus surat rujukan ke kantor BPJS di seberang AKPOL Semarang. Mengingat waktu, segera kami meluncur ke kantor BPJS yang ditunjukkan (meski belum pernah, tergambar lokasi gedungnya, maklum lebih dari tiga puluh tahun meninggalkan kota Semarang).

Prokes cuci tangan, periksa suhu, dan jaga jarak masih diberlakukan dikantor BPJS. Petugas jaga memberi petunjuk ruang pelayanan yang kami inginkan. Petugas cantik di loket pelayanan memberikan keterangan prosedur yang seharusnya kami tempuh. Surat rujukan ke rumah sakit bisa didapatkan di faskes terdekat (klinik/puskesmas). Bahkan ditegaskan olehnya bahwa klinik/puskesmas harus memberikan pelayanan kepada peserta BPJS dengan status “tamu.” Tanpa menunda lagi kami segera menuju Puskesmas Kagok Semarang (lokasi terdekat di kampung tempat tinggal orang tua).

Benarlah, kami diterima dan dilayani dengan baik dan ramah oleh semua petugas, dari mulai loket pendaftaran, hingga pemeriksaan/pelayanan dokter yang memeriksa. Baik pelayanan di Puskesmas maupun di Rumah Sakit William Booth Semarang. Hitung punya hitung waktu yang kami habiskan kurang dari dua jam sejak datang pertama ke RSU William Booth, ke kantor BPJS, ke Puskesmas Kagok, dan kembali lagi ke RSU William Booth untuk mendapatkan pelayan pemeriksaan kesehatan mata Nack wedok hingga kelar. Alhamdulillah, dokter menyatakan mata sudah “bersih” dari penyakit hasil diagnosa dan ketepatan obat yang diberikan.

Terima kasih Allah, terima kasih semua petugas (petugas medis dan non medis) di Puskesmas, RSU William Booth, dan kantor BPJS. Meski yang dilakukan sudah menjadi tugas/kewajiban selaku pegawai, tetapi memuliakan tamu merupakan perbuatan yang sangat baik. Peserta BPJS bukan pasien miskin seperti persepsi yang keliru dari sebagian orang. Bahkan ketika dia tidak pernah sakit (menggunakan hak sebagai peserta) justru mereka telah menyubsidi pasien lain yang kurang mampu.

Kampung Kagok Semarang, 27 April 2022

DISCLAIMER
Konten pada website ini merupakan konten yang di tulis oleh user. Tanggung jawab isi adalah sepenuhnya oleh user/penulis. Pihak pengelola web tidak memiliki tanggung jawab apapun atas hal hal yang dapat ditimbulkan dari penerbitan artikel di website ini, namun setiap orang bisa mengirimkan surat aduan yang akan ditindak lanjuti oleh pengelola sebaik mungkin. Pengelola website berhak untuk membatalkan penayangan artikel, penghapusan artikel hingga penonaktifan akun penulis bila terdapat konten yang tidak seharusnya ditayangkan di web ini.

Laporkan Penyalahgunaan
search

New Post