BANTUAN SENYAP - 3
Maaf, jaga-jaga bisi lupa atau kena gangguan. Padahal belu siap artikelnya. Pis! Manteman.
Menunggu boleh jadi memang sesuatu hal membosankan, orang yang sabar pasti kesel. Hampir sejam belum juga dapat panggilan. Maklum, jumlah pengantri cukup banyak, lebih dari sepuluh. Belum lagi yang datang kebanyakan aparat desa yang membawa daftar kolektif pajak warga yang diurusnya. Sebenarnya kalau aku jadi orang Indo** bisa saja menggunakan jalur KKN. Lha wong Pak Kaban adalah misoa dari teman guru di sekolah. Lagian yang jaga loket di antaranya ada alumni SMA tempatku ngajar. Boleh jadi dia pangling karena saya memakai masker sesuai prokes yang berlaku bagi pengunjung/tamu di kantor badan ini sehingga tidak mengenaliku. Benar juga dugaanku, dua orang pegawai (alumni SMA dan tenaga honorer di sekolah sebelum dia menjadi ASN) yang lewat pas di sebelah tempatku duduk, lurus saja, tidak mengenaliku.
Penantian lama menunggu panggilan belum seberapa dibanding menunggu bedug magrib selepas makan sahur pada bulan puasa yang baru sepekan berlalu. Beberapa waktu kemudian ada lagi lewat seorang pegawai (alumni sekolahku) tepat di depan tempatku duduk. Dia masuk ke ruang Kaban tanpa menyapaku. Mungkin saking serius dan fokus mikirin tugas yang akan dibicarakan dengan Pak Kaban sehingga tidak ngeh kalau ada gurunya. Yakin dia nggak lupa atau pangling, karena sekira tiga bulan lalu kami bertemu di kantor kabupaten saat aku berada di ruang tunggu wakil bupati. Dan dia langsung menghampiri dan menyalami ketika mengetahui keberadaanku di tempat itu.
Tak berapa lama dia keluar dari ruang Pak Kaban. Sengaja kusebut namanya tanpa bangkit dari tempat dduduk. “Der!” seruku. Namanya Deri. Iapun lantas membalikkan badan mendengar seruanku dan mencari sumber suara. Mengetahui aku yang memanggilnya diapun menyalami sambil menundukkan badannya. Dialog singkat terjadi seputar keperluanku berada di ruangan ini. Dia menjadi kabag perencanaan di kantor Bapenda ini. Wajar, lulusan IPDN, Meski masih muda tetapi sudah punya ruang kerja tersendiri. Aku diajak menunggu di ruangannya sambil ngopi. Ajakan ini kutolak secara halus. Lha wis, kalau kuturuti ajakannya pasti tidak akan mendengar jika dipanggil namaku ketika tiba giliran sesuai antrian. Ia pun maklum dan berjalan menuju ruang kerjanya.
Saya perhatikan langkahnya berbelok ke ruang loket pelayanan. Sejurus kemudian Deri terlihat keluar dari ruang tersebut. Entah apa yang dibicarakan di dalam ruang tersebut. Anehnya terbersit rasa ge-er, jangan-jangan, jangan-jangan… Mungkin kegeeranku beralasan. Sebab tidak begitu lama, namaku dipanggil oleh petugas loket. Kuserahkan uang sesuai angka yang disebutkan untuk pembayaran PBB. Tanda penerimaan pembayaran aku terima lalu pulang.
Sepanjang perjalanan ke rumah aku berpikir, kok bisa secepat itu giliranku tiba. Padahal kalau melihat jumlah orang yang masih menunggu dan datang lebih dahulu sebelum diriku masih banya. Tidak akan secepat itu aku mendapat panggilan pelayanan keperluanku.dan selesai lebih cepat. Mungkinkah bantuan senyap diberikan oleh Deri untukku? Timbul dugaan ge-erku benar, bahwa Deri ketika belok, masuk ke ruang pelayanan telah meminta kepada petugas loket agar berkasku diperhatikan dan dipercepat pelayanannya. Semoga dugaanku benar. Mungkin ini bentuk balasan “kebaikan” yang pernah dia terima dari para gurunya ketika sekolah di SMA. Budak bageur dan pinter insyaAllah sukses dalam rida Illahi.
Graha Pasir Ona, 13 Mei 2022
Konten pada website ini merupakan konten yang di tulis oleh user. Tanggung jawab isi adalah sepenuhnya oleh user/penulis. Pihak pengelola web tidak memiliki tanggung jawab apapun atas hal hal yang dapat ditimbulkan dari penerbitan artikel di website ini, namun setiap orang bisa mengirimkan surat aduan yang akan ditindak lanjuti oleh pengelola sebaik mungkin. Pengelola website berhak untuk membatalkan penayangan artikel, penghapusan artikel hingga penonaktifan akun penulis bila terdapat konten yang tidak seharusnya ditayangkan di web ini.
Laporkan Penyalahgunaan