Isak Isnain

Belum menuliskan informasi profilenya.

Selengkapnya
Navigasi Web
BUKAN BATIK YANG DIBAWA, MELAINKAN BATUK SEBAGAI OLEH-OLEH

BUKAN BATIK YANG DIBAWA, MELAINKAN BATUK SEBAGAI OLEH-OLEH

Seingat saya, stasiun kereta api di Jakarta yang pertama kali kutapaki adalah Stasiun Pasar Senen. Termasuk saat kali pertama hendak laporan ke sekolah pasca menerima SK penempatan sebagai CPNS di SMAN 1 Rangkasbitung (saat itu masih masuk wilayah Provinsi Jawa Barat). Dari Semarang naik kereta api Senja Utama, sampai di stasiun Pasar Senen dijemput oleh Om Salam (adik dari emak yang tinggal di Cimanggis, Depok). Keesokan harinya diantar ke Rangkasbitung naik bus dari Terminal Bogor.

Sekian lama tidak bebergian jauh menggunakan jasa kereta api dari stasiun Pasar Senen (lebih sering lewat Stasiun Gambir dan Stasiun Tanah Abang) nampak sekali perubahan yang terjadi. Wajah dan penampilannya sangat berubah, lebih tertata, ruang tunggu penumpang di dalam dan luar stasiun membuat nyaman pengguna jasa kereta api.

Saya akui, perubahan besar pelayanan jasa kereta api sejak dipimpin oleh Ignasius Jonan. Meskipun pada awalnya ada yang pro dan kontra terhadap kebijakan pengelolaan selama kepemimpinannya. Terutama pihak-pihak yang “merasa dirugikan dan terganggu kepentingannya.” Kini naik kereta api kelas ekonomi sangat nyaman dibandingkan sebelumnya. Berjejalan di dalam gerbong, berdiri atau duduk di antara kursi penumpang karena tidak kebagian nomor kursi, menjadi kenangan tersendiri. Bahkan tidur di kolong bangku penumpang, di lantai kereta, dan dilangkahi para pedagang asongan menjadi hal yang biasa di masa lalu.

Tepat pukul 15.50 WIB KA Gumarang mulai melaju meninggalkan Stasiun Pasar Senen menuju Stasiun Pasar Turi Surabaya. Singgah sebentar di beberapa stasiun yang dilewati untuk menaikkan atau menurunkan penumpang di antaranya Bekasi, Cirebon, Tegal, Pekalongan, dan Weleri. Untuk akhirnya tiba di Stasiun Tawang Semarang tepat sesuai jadwal, yaitu pukul 22.30 WIB. Keluar stasiun langsung order taksi online. Murah banget, dari Stasiun Tawang ke rumah di Kagok Candisari hanya dikenakan tarif enam belas ribu rupiah. Nyaman dan tidak keanginan meski di sela perjalanan rintik hujan menghiasi kaca depan dan membasahi sekujur body mobil.

Entah pengaruh apa, ketika berada di dalam kereta muncul batuk-batuk kecil yang makin menjadi setelah tiba di rumah Kagok Semarang. Bisa jadi terkena virus ketika perjalanan menuju Jakarta. Jikalau masuk angin akibat kebagian tempat duduk yang terlalu dekat dengan arah semburan angin yang keluar dari AC sepertinya tidak mungkin. Sebab aku mengenakan jaket sejak berangkat dari rumah dan selama di perjalanan hingga rumah Semarang. Lagipula tidak merasakan demam di badan. Bersyukur keponakan dan adik yang di rumah perhatian dan tanggap dengan memberikan obat sehingga bisa meredakan batuknya. Pulang ke Semarang bukannya membelikan baju Batik Baduy,malahan datang membawa batuk sebagai oleh-oleh. Alhamdulillah. Takdir.

Graha Pasir Ona, 18 Mei 2022

DISCLAIMER
Konten pada website ini merupakan konten yang di tulis oleh user. Tanggung jawab isi adalah sepenuhnya oleh user/penulis. Pihak pengelola web tidak memiliki tanggung jawab apapun atas hal hal yang dapat ditimbulkan dari penerbitan artikel di website ini, namun setiap orang bisa mengirimkan surat aduan yang akan ditindak lanjuti oleh pengelola sebaik mungkin. Pengelola website berhak untuk membatalkan penayangan artikel, penghapusan artikel hingga penonaktifan akun penulis bila terdapat konten yang tidak seharusnya ditayangkan di web ini.

Laporkan Penyalahgunaan
search

New Post