KETEMU BINTANG DI RUMAH BAMBU
Seandainya kondisi lalu-lintas lancar, perjalanan ke Rumah Bambu bisa kurang dari setengah jam. Namun, jalanan kota Semarang meski hari libur tetap padat lalu-lintasnya. Ditambah banyak persimpangan jalan yang terpasang traffick light lumayan memperlambat waktu tempuh menuju lokasinya di sebelah Barat Alun-alun Ungaran. Duduk di samping bestie yang mengemudi terasa adem meski AC mobil tidak dinyalakan. Sebagai satu-satunya penumpang laki-laki dalam mobil (satu teman laki-laki batal ikut bareng lantaran membawa kendaraan sendiri) bagaikan Arjuna di tempat mandi bidadari. Hust, jangan halu! Ngarep, ya?
Sampai di Rumah Bambu terlambat seperempat jam dari waktu yang dijadwalkan. Tempat pertemuan di lantai dua sudah banyak teman-teman yang datang. Sebagaimana yang pernah saya tulis di edisi sebelumnya, banyak wajah-wajah yang manglingi (nggak kenal). Terutama yang perempuan sebagian besar berhijab Sampai-sampai seorang teman yang mbedeki (nyuruh nebak) saya nggak inget namanya. Padahal kami berdua sering ngobrol japrian via WA. Maklum, penampakannya tidak secantik di foto kontak (akun WA). Apalagi kalau dibanding wajahnya waktu SMP dan SMA, …wis jian adoh banget. Sorry, Mis, aku nggak ngenyek lho! Piss! Meski beda sekolah (SMA), kami sering ketemu dalam kegiatan pramuka.
Setelah dirasa cukup, jumlah yang hadir sekira sembilan puluh persen (dari yang terdaftar) acara pun dimulai. Cukup wajar waktunya mundur setengah jam. Ada yang konfirmasi bahwa masih berada di perjalanan dari Jogja dan Klaten. Untuk bahan dokumentasi kegiatan, semua yang hadir mengisi “buku tamu” dan mendapatkan cinderamata dari seorang donatur yang punya kolega percetakan.
Oh ya, dari awal datang saya pangling dengan sosok laki-laki yang menunggu buku tamu dan membagikan cinderamata. Samar-samar ingat wajahnya tetapi lupa namanya. Jaga gengsi, malu hendak menanyakan namanya, makanya pura-pura akrab dan ngobrol sekedarnya. Setelah menjauh darinya, barulah saya nanya ke seorang teman yang aktif di grup. Ternyata dia salah satu dari tiga bintang sekolah yang berseteru sehat dalam prestasi akademik sejak kelas 1 hingga lulus SMP. Hobinya nonton akting Shahrukh Khan, Kareena Kapoor, Kajol, dan Aishwarya Rai (sampai belajar dan bisa bahasa India).
Ketiga bintang sekolah angkatan 1981 yaitu Dwi Joko Pitono (melanjutkan ke SMEA dan kuliah di STAN Jakarta, jadi PNS di Jogja), Sri Wiji Lestari dan Isak Isnain (sama melanjutkan ke SMA 4 Semarang). Sri Wiji Lestari kuliah di AKUBANK Semarang (sekarang jadi bankir di Kendal). Sedangkan Isak Isnain kuliahnya di FPMIPA IKIP Semarang, sekarang jadi guru kimia di Rangkasbitung, Banten. Ini bukan pengakuan saya pribadi, Guys. Justru yang menyatakan Sri Wiji Lestari ketika mengenalkan kepada suaminya yang ikut hadir, lalu mengajak foto bareng. Kepada Sri Wiji Lestari (biasa dipanggil Lies) saya nggak pangling. Selain karena tiga tahun satu sekolah di SMA (beda kelas), sering bareng satu bis kota jika berangkat ke sekolah, kalau malam minggu main ke rumahnya di Asrama Pusdik Polri (sekarang AKPOL), dan pernah sekali mampir ke rumahnya di Kendal saat mudik lebaran tahun dua ribu.
Foto di bawah dari kiri: Isak Isnain, Suami Mbak Lies, Sri Wiji Lestari, Dwi Joko Pitono.
Graha Pasir Ona, 21 Mei 2022



Konten pada website ini merupakan konten yang di tulis oleh user. Tanggung jawab isi adalah sepenuhnya oleh user/penulis. Pihak pengelola web tidak memiliki tanggung jawab apapun atas hal hal yang dapat ditimbulkan dari penerbitan artikel di website ini, namun setiap orang bisa mengirimkan surat aduan yang akan ditindak lanjuti oleh pengelola sebaik mungkin. Pengelola website berhak untuk membatalkan penayangan artikel, penghapusan artikel hingga penonaktifan akun penulis bila terdapat konten yang tidak seharusnya ditayangkan di web ini.
Laporkan Penyalahgunaan
