Isak Isnain

Belum menuliskan informasi profilenya.

Selengkapnya
Navigasi Web

TERUS BERKARYA HINGGA PURNATUGAS

Sebagai seorang guru, pasti pernah mengatakan kepada anak didiknya agar mereka terus giat belajar sepanjang hayat. Belajar merupakan kewajiban setiap individu, tidak memandang gender. Seorang guru harus bisa menjadi teladan bagi anak didiknya, bukan hanya “menyuruh.” Adanya contoh nyata dari guru dapat menambah semangat dan meningkatkan motivasi dalam diri anak didik. Guru zaman sekarang (PAUD, SD, SMP, dan SMA) banyak yang melanjutkan pendidikan ke pasca sarjana sehingga memperoleh gelar magister (S2). Meskipun ijazah sarjana (S1) sudah cukup, ada juga yang terus belajar hingga meraih gelar Doktor (S3).

            Untuk meningkatkan jenjang karir guru (ASN) lebih banyak dinilai pada pengembangan diri (pengembangan profesi) dibandingkan peningkatan pendidikan formal (akademik). Banyak guru ASN yang pangkatnya “mentok, macet” di golongan/pangkat tertentu karena “tidak mau berkarya” dalam bidang menulis (publikasi ilmiah dan karya ilmiah). Bukan karena tidak bisa menulis, mereka lebih memilih berada di zona nyaman. Dengan ilmu yang dimilikinya sudah cukup untuk mengajar anak-anak didiknya. Juara lomba Guru Berprestasi (dahulu disebut Guru Teladan) didominasi (dimenangkan) oleh guru-guru yang memiliki banyak karya inovatif dalam pembelajaran dan karya solo hasil pengembangan bakat pribadi.

            Media Guru Indonesia sudah terbukti membantu banyak guru (ASN) di Indonesia mendapatkan poin angka kredit untuk kenaikan pangkat dari “karya tulis” hasil belajar bersama di blog Gurusiana. Saya merasa sedih ketika ada (rekan) guru yang diajak “menulis” beralasan “sudah tua” atau “sebentar lagi pensiun.” Barangkali mereka ini termasuk yang senang berada di zona nyaman. Sedangkan mereka sebenarnya  mengetahui firman Allah dalam Al Quran: "Janganlah kamu bersikap lemah, dan jangan pula kamu bersedih hati, padahal kamu adalah orang-orang yang paling tinggi derajatnya jika kamu adalah orang-orang yang beriman". ( QS. Al-Imran:139).

Mereka juga lupa bahwa pernah mengajarkan kepada anak didiknya “tak ada kata tua untuk belajar.” Sangat disayangkan kalau ada guru tidak mau meningkatkan kompetensi diri dengan terus belajar dan berkarya. Merasa tua dan tidak bisa menulis (berkarya) sangat bertentangan dengan sifat Allah yang tidak pernah menguji hamba-Nya dengan beban yang melebihi batas kemampuan. Sebagaimana disebutkan dalam Al Quran: "Allah tidak akan membebani hamba-Nya, melainkan sesuai dengan kesanggupan hamba-Nya". (QS. Al-Baqarah :286)

Saya (pribadi) salut dan angkat topi setinggi-tingginya kepada seorang rekan guru (perempuan) yang akhir tahun ini purna tugas (pensiun). Beliau sangat antusias jika diajak belajar (diklat daring, nulis bareng) oleh teman-teman di sekolah. Menggunakan komputer/laptop untuk pembelajaran semakin lancar karena mau bertanya jika belum bisa akan hal-hal yang baru. Mengetik naskah soal ulangan harian, penilaian akhir semester, dan ujian sekolah dikerjakan sendiri tanpa “mengupah” orang lain. Meskipun kesibukan sebagai ibu rumah tangga dan mengurus beberapa orang cucunya tetap dijalani. Bahkan, beliau masih bisa membantu mengerjakan sebagian tugas suaminya (ketika masih aktif sebagai guru ASN), input e-rapor , membuat soal di google form dan bee smart untuk ujian berbasis sekolah komputer. Sangat berbanding terbalik dengan rekan guru lainnya (laki-laki) yang usianya jauh lebih muda tetapi “malas belajar dan berkarya.”

Pengalaman saya pribadi menjadi Gurusianer (anggota Media Guru Indonesia) karena ajakan seorang rekan guru pada “waktu yang tepat.” Situasi kerja di sekolah (pada waktu itu) mengingatkan saya pada satu kalimat bijak “ketika peluh dan kerja tak dihargai, maka ingatlah bahwa saat itu kita sedang belajar tentang ketulusan.” Berawal menulis di blog Gurusiana dan bergabung program nulis bareng (No Baper dan Komunitas Menulis Bersama) hingga berkenalan dan bertemu dengan guru-guru penulis se-Indonesia dalam kegiatan Temu Nasional Guru Penulis (TNGP) daring (2020, 2021) dan luring (2022) di Jakarta.

Dampak berkecimpung di Gurusiana dan Media Guru adalah membangkitkan kembali hobi menulis yang luruh setelah mendapat tugas negara sebagai guru ASN di Rangkasbitung. Banyak buku antologi hasil memenangi lomba menulis Gurusiana-Media Guru, ikut nulis bareng No Baper dan KMB. Satu buku berjudul “Rasa yang Membuncah di Ujung Pena” merupakan karya perdana yang berisi kumpulan puisi sebagai ungkapan pengalaman di dunia kerja dan di masyarakat. Perkataan Pramoedya Ananta Toer “orang boleh pandai setinggi langit, tapi selama ia tidak menulis, ia akan hilang di dalam masyarakat dan dari sejarah. Menulis adalah bekerja untuk keabadian” menjadi pemicu semangat saya untuk berkarya. Meskipun menjelang purna tugas, saya akan terus berkarya tak pandang usia hingga Allah memanggil “waktunya pulang.”

 

Rangkasbitung, 10 Juni 2023

DISCLAIMER
Konten pada website ini merupakan konten yang di tulis oleh user. Tanggung jawab isi adalah sepenuhnya oleh user/penulis. Pihak pengelola web tidak memiliki tanggung jawab apapun atas hal hal yang dapat ditimbulkan dari penerbitan artikel di website ini, namun setiap orang bisa mengirimkan surat aduan yang akan ditindak lanjuti oleh pengelola sebaik mungkin. Pengelola website berhak untuk membatalkan penayangan artikel, penghapusan artikel hingga penonaktifan akun penulis bila terdapat konten yang tidak seharusnya ditayangkan di web ini.

Laporkan Penyalahgunaan
search

New Post