Isak Isnain

Belum menuliskan informasi profilenya.

Selengkapnya
Navigasi Web
Cinta Menyapa di Ujung Senja (2)

Cinta Menyapa di Ujung Senja (2)

Pagi ini Deria merasa lega dan bersyukur melihat kondisi Reno. Ia baru saja ke dapur mengambilkan bubur untuk sarapan Reno. Suaminya yang sekira sepekan terbaring lemah di ranjang kamar, tetiba sudah berada di teras depan rumah. Padahal selama ini, untuk berjalan Reno harus dibimbing Deria atau sebatang tongkat yang membantunya. Penyakit stroke ringan yang menimpa telah membuatnya sulit berdiri. Berjalan pun susah. Namun, kewajiban salat lima waktu tetap ditunaikan sembari berbaring.

Satu hal yang tak biasa terjadi saat dimandikan, berulangkali Reno meminta Deria menyeka tubuhnya sebersih mungkin. Bukan berarti tak pernah bersih memandikannya semenjak sakit. Parfum yang biasa dipakai hanya jika berangkat kerja, minta disemprotkan ke pakaian yang dikenakan setelah mandi. Sifat penurut dan selalu melayani tanpa rewel yang membuat Deria tidak ngeh atas permintaan Reno yang tidak biasa.

Wajah tua Reno nampak segar berbinar, senyum lembutnya menyapa setiap tetangga yang melintas di depannya.

Damang, Pak Reno? sapa tetangganya.

“Alhamdulillah,” jawab Reno lirih sambil menganggukkan kepala.

.

Reno sudah menelan suapan bubur terakhir dari istrinya. Semangkuk bubur yang disediakan Deria telah ludes masuk ke perut Reno. Deria mengangkat cangkir berisi air hangat yang ada di meja, lalu mendekatkan ke mulut suaminya.

Yang…” Bibir Reno bergerak menyerukan panggilan kepada Deria.

“Apa, Yah?” sahut Deria.

Ada keheranan membersit dari suara Deria mendengar seruan Reno. Baru sekali ini suaminya memanggil dengan sapaan “yang” (sayang). Sejak menikah Reno biasa mengucapkan kata “Der” jika memanggil istrinya.

“Terima kasih, Yang”

“Untuk apa?”

“Buburnya enak banget.” Deria senang mendengar ucapan Reno. Senyum irit menyembul dari bibirnya.

“Masa, sih?” sahut Deria, “nggak ada yang baru, bumbu dan bahannya seperti biasa saja.”

“Ayah minta maaf, ya?”

“Kok minta maaf? Nggak ada yang salah.”

“Buburnya habis,” jawab Reno. Kedua lengannya bergerak meraih bahu isterinya. Deria merapatkan tubuhnya dan membalas pelukan Reno.

Ada kehangatan yang mengalir dari tubuh keduanya. Rasa nyaman dan damai menyeruak dari kalbu kedua insan tersebut. Tiada sepatah katapun yang terdengar di sela hembusan nafas. Dengan bahasa kalbu mereka berbicara dan mengerti maknanya.

Deria baru tersadar ketika merasakan tubuhnya menjadi limbung. Badan Reno memberati tubuh Deria sehingga pelukannya mengendur. Tubuh Reno tergeletak di bangku yang mereka duduki. Kulit lengannya merasakan dingin saat mengangkat kaki suaminya untuk diluruskan ke atas kursi.

“Innalillahi…” spontan Deria berucap. Ujung jarinya tidak menemukan denyut nadi pada tubuh suaminya. Tiada nafas terembus dari hidung Reno. Cairan hangat meleleh dari sudut mata Deria. Seketika rasa duka menyelimuti dirinya. Beribu peristiwa suka dan duka bersama Reno membayang dalam pikiran Deria.

Satu tanya tetiba menyelinap. Mungkinkah cinta menyapa di ujung senja? Apakah sebutan “Der” sejatinya sapaan “sayang” dari Reno? Bisa jadi. Lidah suaminya susah melafalkan “dear” (berarti sayang) karena Reno tak pandai berbahasa Inggris.

Graha Pasir Ona, Juli 2023

DISCLAIMER
Konten pada website ini merupakan konten yang di tulis oleh user. Tanggung jawab isi adalah sepenuhnya oleh user/penulis. Pihak pengelola web tidak memiliki tanggung jawab apapun atas hal hal yang dapat ditimbulkan dari penerbitan artikel di website ini, namun setiap orang bisa mengirimkan surat aduan yang akan ditindak lanjuti oleh pengelola sebaik mungkin. Pengelola website berhak untuk membatalkan penayangan artikel, penghapusan artikel hingga penonaktifan akun penulis bila terdapat konten yang tidak seharusnya ditayangkan di web ini.

Laporkan Penyalahgunaan
search

New Post