SUKARIA DAN KECEWA MENJADI KARYA
Mens sana in corpore sano telah menjadi ujaran yang sangat populer dalam bidang olah raga dan pola hidup sehat. Semboyan ini dicetuskan oleh seorang pujangga Romawi kuno bernama Decimus Lunius Juvenalis dalam karya sastranya yang berjudul Satire X, pada abad kedua Masehi. Sejak dipopulerkan oleh Jhon Hulley, ujaran ini menjadi salah satu motto pendidikan bagi para pelajar dan masyarakat Inggris. Pada akhirnya, semboyan mens sana in corpore sano menyebar luas ke seluruh penjuru dunia, termasuk Indonesia.
Tak bisa disangkal lagi, bahwa untuk mendapatkan tubuh yang sehat dan kuat diperoleh dengan berolah raga. Bagi orang-orang yang menyandang status sebagai pekerja atau pegawai (swasta, pemerintah, sipil, militer) olah raga dapat menjadi salah satu sarana refreshing dari rutinitas setiap hari yang melelahkan dan terkadang membosankan. Kejenuhan dalam bekerja bisa dikurangi atau dihilangkan dengan berolah raga. Waktu yang tepat adalah pada hari libur, sedangkan olah raga yang dipilh harus sesuai dengan minat, bakat, dan kemampuan setiap individu.
Sejak membantu mengajar di Pondok Pesantren Daarussa’adah Cimarga, Kabupaten Lebak, praktis saya tidak mempunyai hari libur. Dari Senin sampai dengan Jum’at mengajar di sekolah induk (SMAN 1 Rangkasbitung), Sabtu dan Minggu mengajar di pondok pesantren. Merasakan hari libur jika bertemu tanggal berwarna merah pada hari Senin hingga Jum’at karena libur nasional (cuti bersama, libur hari besar/raya keagamaan). Waktu libur yang demikian saya menyempatkan untuk berolah raga yang ringan, santai, dan menyenangkan.
Gowes sepeda santai paling sering saya lakukan, sendiri atau bersama tetangga yang mau berolah raga. Bermain bola voli “askes” (asal kesangan, yang penting keringat keluar) pada sore hari terkadang juga saya lakukan bersama-sama tetangga di lapangan voli komplek perumahan, pesertanya gado-gado. Bapak-bapak, ibu-ibu, pemuda, dan anak-anak berbaur dalam kebersamaan untuk meluluhkan kejenuhan dalam pekerjaan.
Tiga tahun masa pandemi memberikan peluang berolah raga sangat besar karena pembelajaran tatap muka di sekolah ditiadakan dan diberlakukan pembelajaran jarak jauh (PJJ). Namun, adanya pembatasan aktivitas warga masyarakat di luar rumah (PPKM) menjadikan waktu berolah raga di luar berkurang. Pergerakan dan kebebasan warga dibatasi demi pencegahan penyebaran virus yang mewabah di seluruh dunia.
Sehat yang dimaksudkan dalam pengertian Mens Sana In Corpore Sano tak hanya sehat secara fisik, namun juga psikis mental spiritual. Untuk memperoleh tubuh yang sehat (sehat secara fisik) dapat dilakukan dengan berolah raga yang cukup, makan makanan yang bergizi seimbang, menjaga kebersihan tubuh dan lingkungan. Melaksanakan Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS), terlebih lagi menjaga protokol kesehatan di masa pandemi sangat dianjurkan agar imunitas kita dapat terjaga dengan baik. Di sisi lain, derajat kesehatan mental spiritual memiliki peran yang cukup strategis sebagai penggerak agar pola hidup sehat kita dapat di kelola dengan baik.
Kesehatan mental merupakan keadaan sejahtera yang dihubungkan pada kebahagiaan, kepuasaan, pencapaian, optimize dan harapan. Kesehatan spiritual merupakan kemampuan manusia dalam berinteraksi Tuhan, dirinya sendiri, orang lain dan alam sekitar yang diceminkan melalui agama. Kesehatan spiritual meliputi rasa keharmonisan, kedekatan diri dengan orang lain, dan alam.
Faktor pembentuk mental spiritual sangatlah komplek, meliputi aspek individu, keluarga maupun sosial, dan kemampuan berpikir. Tak banyak pilihan yang dapat dilakukan ketika kita harus melakukan interaksi sosial setiap saat. Keterbatasan ego, pengetahuan dan perbedaan sifat seringkali menjadi penghambat. Pada masa pandemi dan beberapa tahun terakhir menjelang purna tugas sebagai ASN, saya merasakan peningkatan pengetahuan, ketrampilan, dan kebebasan berpikir. Kondisi lingkungan dan beban kerja memengaruhi perasaan dan kenyamanan saat bekerja. Perkenalan dengan MediaGuru dan Gurusiana membangkitkan gairah menulis yang sempat sirna. Beban pikiran yang mungkin bisa menjadi penyakit, segala rasa yang ada, saya tumpahkan dalam bentuk tulisan. Buah karya berupa puisi, cerpen, artikel merupakan ekspresi berpikir yang berdampak pada kesehatan jiwa. Buku Rasa yang Membuncah di Ujung Pena merupakan karya perdana yang sedang dalam proses penerbitan.
Rangkasbitung, 15 September 2023


Konten pada website ini merupakan konten yang di tulis oleh user. Tanggung jawab isi adalah sepenuhnya oleh user/penulis. Pihak pengelola web tidak memiliki tanggung jawab apapun atas hal hal yang dapat ditimbulkan dari penerbitan artikel di website ini, namun setiap orang bisa mengirimkan surat aduan yang akan ditindak lanjuti oleh pengelola sebaik mungkin. Pengelola website berhak untuk membatalkan penayangan artikel, penghapusan artikel hingga penonaktifan akun penulis bila terdapat konten yang tidak seharusnya ditayangkan di web ini.
Laporkan Penyalahgunaan
