Isak Isnain

Belum menuliskan informasi profilenya.

Selengkapnya
Navigasi Web
JOJORONG, LEUMEUNG, DAN ES MUIN

JOJORONG, LEUMEUNG, DAN ES MUIN

#Bimtek Kepenulisan_Dinas Pusar_Kab.Lebak_April 2026

#Berbasis Konten Budaya Lokal

Wilayah Republik Indonesia dikenal terdiri dari ribuan pulau kecil dan besar, yang terbentang dari ujung Barat (Sabang) hingga ke ujung Timur (Merauke). Berdasarkan data BPS hasil Sensus Penduduk 2010, Indonesia tercatat memiliki 1.340 suku bangsa. Keberagaman suku bangsa ini memengaruhi keragaman budaya masyarakatnya, termasuk dalam hal kuliner.

Banyak makanan atau minuman lokal yang khas dan menjadi ikon daerah atau sebutan suatu nama kota. Misalnya Lumpia Semarang, Gudeg Jogja, Pempek Palembang, Soto Banjar, Rendang Padang, Dodol Garut, Peuyeum Bandung dan Tape Bondowoso.

Jika Anda bukan warga Kabupaten Lebak dan pernah berkunjung ke pemukiman adat Suku Baduy maka akan pernah melintasi kota Rangkasbitung saat menuju Ciboleger, Kecamatan Leuwidamar. Seperti pada umumnya di daerah-daerah lain, ketika sore hingga malam hari akan bermunculan pedagang kaki lima di sekitar alun-alun kota atau pusat keramaian lainnya.

Demikian pula dengan Rangkasbitung, di sekitar alun-alun Rangkasbitung, Balong Ranca Lentah, dan sepanjang jalan R.T. Hardiwinangun berubah menjadi kawasan kulineran setiap hari. Tanpa batas yang pasti, namun “disepakati” pinggiran jalan seakan berubah menjadi lapak-lapak pedagang menggunakan gerobak roda atau mobil/motor yang diubah fungsinya menjadi etalase dagangan. Aneka jajanan tradisional dan kekinian berupa makanan dan minuman tersaji, siap didatangi pembeli dari berbagai status sosial yang berjalan kaki atau menggunakan kendaraan pribadi.

Sebagai warga pendatang sejak Januari 1989, ada jajanan makanan dan minuman yang menarik perhatian saya. Jajanan makanan tersebut merupakan kue tradisional (lokal) karena baru saya jumpai setelah bekerja dan tinggal di Rangkasbitung. Sedangkan minumannya adalah Es Muin.

“Ini kue jojorong,” kata rekan kerja saya yang merupakan warga asli Rangkasbitung mengenalkan nama kue tersebut. “Kalau yang ini namanya leumeung,” lanjutnya sambil menyodorkannya ke arah saya saat bertandang ke rumahnya.

Kue jojorong tersaji dalam wadah kotak, semacam mangkuk terbuat dari daun pisang yang kedua sisinya ditusuk pakai biting (potongan lidi). Kalau di Semarang, Jawa Tengah, saya menyebutnya takir. Pertama kali melihat penampilannya, sepintas tidak akan menarik karena yang nampak adonan kental/beku berwarna putih, seperti bubur sumsum/bubur bayi. Sebagai pelengkap (alat bantu) untuk memakannya menggunakan sendok kecil. Saat sendok ditusukkan dan menembus permukaan, tetiba ada cairan kental berwarna merah kecoklatan meleleh keluar, semacam lava cair keluar dari puncak gunung berapi. Rasanya? Hemm…, yummy! Yang berwarna putih rasanya gurih sedangkan cairan kental yang meleleh dari dalamnya terasa manis.

Rekan saya sengaja menjadikan kue jojorong sebagai suguhan tamu. Tujuannya mengenalkan kue tradisional khas daerah kepada saya sebagai warga pendatang di Rangkasbitung, Banten. Kue jojorong terbuat dari adonan tepung beras dan santan kelapa. Sebagai pengental bisa ditambahkan tepung tapioka. Untuk menambah aroma digunakan daun suji atau daun pandan wangi. Irisan gula merah/aren diletakkan terlebih dahulu dalam takir, kemudian ditimpah dengan adonan putih kental (campuran tepung beras, tepung tapioka, santan, dan sedikit garam). Setelah itu dikukus beberapa waktu hingga matang. Itulah sebabnya penampakan kue jojorong putih santan, pucat, dan kurang menarik (menurut saya!). Namun dari dalamnya menyajikan rasa manis yang lezat.

Adakah arti khusus dan filosofi dari kue jojorong yang sering disajikan dalam acara hajatan dan perayaan adat? Berdasarkan info yang saya peroleh, nama jojorong berasal dari jorong (bahasa Sunda) yang berarti menyodorkan, memberikan, atau menyuguhkan dengan niat ikhlas. Kue jojorong yang disuguhkan kepada tamu bisa memberikan makna keikhlasan tuan rumah untuk memberikan sesuatu yang baik sebagai penghargaan dan rasa hormat. Wadah takir daun pisang menunjukkan budaya lokal yang menghargai sumber alam dengan memanfaatkan daun pisang sebagai wadah alami yang sehat, bebas dari bahan kimia buatan.

Penampilan kue jojorong yang putih pucat dan kurang menarik (maaf!) sebagai kue jajanan, menurut saya memberikan fiosofi warga Lebak Banten yang sederhana tetapi berkualitas sumber dayanya. Penampilan luar tidak menarik dan sangar tetapi tersembunyi di dalamnya sifat pribadi yang baik. Hal ini juga menjadi pengingat bagi kita semua: jangan menilai seseorang hanya dari penampilannya.

Satu lagi makanan khas Banten Selatan yang pernah saya jumpai di Kabupaten Lebak yaitu Leumeung. Makanan ringan, jajanan, atau kue leumeung pertama kali saya dapatkan di Pasar Malingping, Kabupaten Lebak, saat mengikuti suatu kegiatan di wilayah Kabupaten Lebak bagian Selatan. Karena penasaran dalam perjalanan pulang saya dan rombongan diajak berhenti membeli leumeung di Pasar Malingping.

Leumeung dibuat dari bahan dasar beras ketan dengan santan kelapa dan sedikit campuran kacang kedelai yang dimasak dalam satu ruas batang bambu utuh dengan daun pisang sebagai lapisan pembungkus di dalamnya. Memasaknya dengan cara membakar langsung ruas batang bambu tadi hingga matang. Nampak sekujur ruas batang bambunya hitam arang karena dibakar.

Jadi, apabila Anda lewat Pasar Malingping dan melihat banyak potongan ruas batang bambu hitam, gosong terbakar dijajakan di pinggiran luar pasar Malingping, itulah kue leumeung yang dijual. Ada juga yang dijual eceran sudah dipotong-potong setelah dikeluarkan dari batang bambunya. Namun, kalau boleh saya sarankan bila Anda menginginkannya sebagai oleh-oleh, belilah yang masih utuh dalam bakaran batang bambu, yang belum dibelah/dibuka.

Soal harga tergantung kepiawaian Anda menawar. Yang jelas setiap pedagang leumeung sudah punya standar harga pasaran. Panjang pendeknya ruas batang bambu juga memengaruhi isinya sehingga akan berpengaruh terhadap harga.

Dalam tulisan ini saya tidak akan mengutarakan bagaimana perihal rasa kue leumeung. Silakan Anda buktikan sendiri dengan membelinya di Pasar Malingping apabila berkesempatan ke daerah Lebak Selatan. Jangan sekali-kali mencicipi batang bambunya, dijamin pahit. Tapi kalau Anda penggemar kopi pahit bolehlah membayangkan sensasinya seperti menikmati sruputan terakhir dari secangkir kopi tubruk.

Penampilan kue leumueng sebelum dibelah batang bambunya bisa juga memberikan filosofi warga Banten. Di balik penampilannya yang hitam legam dan sangar, sesungguhnya warga Banten (dan Jawara Banten) menyimpan sifat pribadi yang welas asih dan budi pekerti yang baik.

Anda penggemar minuman dingin, es dan sejenisnya? Ada satu minuman yang sangat terkenal dan legendaris di Rangkasbitung: Es Muin. Sebenarnya Es Muin tidak jauh beda dengan minuman es campur pada umumnya. Namun, menurut saya ada beberapa hal yang membedakannya Es Muin dengan es campur lainnya.

Pertama, Es Muin tidak memiliki tempat cabang dagangan di tempat lain, baik di Rangkasbitung atau di luar kota Rangkasbitung. Hanya ada satu lapak dagangannya di pinggir luar, dekat bangunan musala/toilet Pasar Rangkasbitung. Tepatnya di area parkir motor jalan Tirtayasa. Di tenda warungnya tertulis: Tidak buka cabang di tempat lain.

Kedua, Es Muin dalam sajiannya memiliki campuran kacang hijau yang lebih dominan ketimbang butir mutiara dan buah alpukat. Rasa manisnya juga lebih dominan dari adonan (bubur) kacang hijau menggunakan sedikit gula merah dan coklat kental manis. Menurut saya, asli manisnya gula tanpa pemanis buatan. Penambahan es batu yang diserut menjadi pilihan selera pembeli, pakai sedikit, banyak, atau tanpa es. Harga segelas Es Muin relatif murah, sangat bersahabat, ramah bagi kantong pelajar dan rakyat jelata. Berani mencoba? Jangan salahkan saya jika Anda ketagihan.

Salam kuliner nusantara!

Rangkasbitung, 17 April 2026

DISCLAIMER
Konten pada website ini merupakan konten yang di tulis oleh user. Tanggung jawab isi adalah sepenuhnya oleh user/penulis. Pihak pengelola web tidak memiliki tanggung jawab apapun atas hal hal yang dapat ditimbulkan dari penerbitan artikel di website ini, namun setiap orang bisa mengirimkan surat aduan yang akan ditindak lanjuti oleh pengelola sebaik mungkin. Pengelola website berhak untuk membatalkan penayangan artikel, penghapusan artikel hingga penonaktifan akun penulis bila terdapat konten yang tidak seharusnya ditayangkan di web ini.

Laporkan Penyalahgunaan
search

New Post