Berawal dari kue Jemblem (T.352)
Pagi, siang dan malam di kampung penulis selalu hujan deras. Bukan menggerutu atau mengeluh ketika jutaan tetes air jatuh dari langit hitam akan tetapi penulis bersyukur Rahmat Allah diturunkan di kampung penulis. Bersyukur mata air mengalir deras, mata air di sumur melimpah tidak khawatir stok air di kamar mandi penuh dengan air yang jernih.
Di musim penghujan apalagi dikampung tentunya tidak sulit mencari camilan di cuaca yang dingin. Cukup menengok kebun disamping rumah tersedia singkong, ubi jalar, talas untuk dijadikan kudapan disaat menyantai menunggu hujan reda. Apalagi camilan ala desa yang satu ini yaitu Jemblem,. Apakah anda tahu tentang jajanan tradisional ini? Atau bahkan pernah merasakan gorengan ini? Beda daerah beda penyebutan kue ini. Gorengan satu ini berasal dari umbi singkong atau ketelah pohon, kalau bahasa Maduranya "Sabreng kajuh", sebelum menjadi kudapan yang nikmat ini, singkong direbus sampai matang, selanjutnya di tumbuk menggunakan lesung sampai lembut atau Kalis, kemudian proses selanjutnya singkong yang halus di kepal-kepal dan diberi gula merah atau gula Jawa dimasukan dalam adonan tersebut kemudian di gulung membentuk bulatan. Akhir dari proses itu adalah di goreng sampai terlihat adonan luar berubah warna kuning garing dan ditiriskan. Nah, itulah namanya kue Jemblem.
Kue satu ini merupakan kue legenda penuh sejarah bagi kehidupan penulis. Dari sinilah, penulis menerbitkan buku pertama kali dalam sejarah kehidupan penulis, bahwasanya kue Jemblem ini, di angkat menjadi sebuah judul buku tentang perjuangan, sepak terjang, rentetan kisah haru atau kisah yang selalu dikenang selamanya untuk dibaca oleh anak cucu. Semanjak duduk di bangku Sekolah Dasar kelas 4 sepulang sekolah, penulis menjajakan kue ini keliling kampung untuk bekal uang saku ke sekolah esok hari agar tidak merepotkan kedua orang tua pendek kata mandiri sejak dini. Jika laku semua, terasa girang dengan senyum gembira membawa nampan yang kosong dengan membawa cuan yang banyak untuk disetor ke pemilik kue jemblem. Artinya saya hanya menjual saja tidak membuat. Namun, alangkah menyedihkan bila musim hujan jarang sekali orang memanggil penulis untuk membeli kue jemblem. Dari 50 kue hanya separuh yang laku berarti upah yang penulis dapatkan lebih sedikit. Hasil upah yang penulis dapatkan sebagian di tabung di dalam lubang bambu sebagai penunjang pintu kamar yang ada di dalam rumah. Dulu rumah penulis masih berdinding anyaman bambu jauh dari kata mewah.
Bila ada kue Jemblem di masa sekarang, tentunya dalam pikiran penulis kembali ke masa lalu, masa kanak-kanak yang tidak pernah kembali selamanya, masa yang akan menjadi cambuk pada diri untuk menapak masa depan yang cerah. Bersyukur kepada Allah SWT yang telah memberi kesempatan untuk menjadi seorang guru sampai detik ini sehingga menjadi motivasi kepada diri, keluarga bahkan menjadi inspirasi kepada anak didik agar selalu sabar, mandiri, berjuang, rajin dan berdoa agar kelak apa yang dicita-citakan akan terwujud , the dreams come true.
======================================================
Garahan, 17 Januari 2025/Jum'at, 17 Rajab 1446 H, 00.55 WIB

Konten pada website ini merupakan konten yang di tulis oleh user. Tanggung jawab isi adalah sepenuhnya oleh user/penulis. Pihak pengelola web tidak memiliki tanggung jawab apapun atas hal hal yang dapat ditimbulkan dari penerbitan artikel di website ini, namun setiap orang bisa mengirimkan surat aduan yang akan ditindak lanjuti oleh pengelola sebaik mungkin. Pengelola website berhak untuk membatalkan penayangan artikel, penghapusan artikel hingga penonaktifan akun penulis bila terdapat konten yang tidak seharusnya ditayangkan di web ini.
Laporkan Penyalahgunaan
