Berpetualang di Sendang Tirto Peninggalan Damarwulan (T.361)
Pada pagi yang cerah, Balqiz, Fathir, Zahira, dan Zahrin berjalan bersama menyusuri jalan berbatu menuju sebuah sendang tua yang penuh misteri, Sendang Tirto Sidomulyo. Matahari pagi memancarkan sinarnya, menembus pepohonan rindang di sekitar mereka.
“Sendang ini benar-benar memikat, ya. Dari dulu aku dengar banyak cerita tentang tempat ini, tapi baru sekarang kita ke sini,” ujar Zahira, sembari menatap air jernih yang mengalir dari sendang tersebut.
“Aku penasaran, kenapa sendang ini begitu dihormati oleh warga desa?” tanya Balqiz dengan penuh rasa ingin tahu.
Fathir, yang membawa buku catatan kecilnya, segera menjawab,
“Dari yang aku baca, sendang ini diyakini sudah ada sejak zaman Kerajaan Majapahit. Tempat ini bukan hanya sumber air bagi kehidupan, tapi juga saksi bisu peristiwa penting di masa lalu.”
Zahrin menyela, “Kalian tahu, kan, kisah Layang Seto dan Layang Gumitir? Mereka bertemu di sini untuk merencanakan pembunuhan Damarwulan setelah dia berhasil menumbangkan Minak Jinggo dari Kerajaan Blambangan.”
“Tunggu,” Zahira mengernyitkan dahinya,
“Damarwulan itu kan pahlawan dalam cerita rakyat? Kenapa mereka ingin membunuhnya?”
Fathir membuka catatannya dan menjelaskan,
“Karena Layang Seto dan Layang Gumitir adalah anak asuh Kerajaan Majapahit yang iri pada keberhasilan Damarwulan. Mereka tidak mau ada yang lebih unggul dari mereka. Pertemuan mereka di sendang ini menjadi awal dari rencana mereka.”
Balqiz menatap ke dalam air sendang yang jernih hingga dasar batuannya terlihat,
“Jadi, pertempuran terjadi di sini?”
Zahrin mengangguk.
“Benar. Dalam kisah itu, setelah pertempuran, Damarwulan akhirnya dibuang ke dalam sendang ini. Makanya, masyarakat sekitar menyebutnya sebagai Sendang Tirto Gumitir.”
Zahira memandang takjub.
“Bayangkan, sumber air ini sudah ada sejak zaman Majapahit dan menjadi saksi sejarah yang luar biasa. Tapi, meskipun memiliki sejarah kelam, airnya tetap menghidupi desa ini.”
Fathir menambahkan, “Bahkan saat musim kemarau panjang, sumber air ini tidak pernah kering. Seolah-olah ada kekuatan yang melindunginya.”
“Dan itu yang membuat tempat ini seperti mutiara terpendam,” ujar Balqiz sambil tersenyum. “Desa Sidomulyo beruntung memiliki sendang ini. Tapi aku masih penasaran, kenapa warga percaya tempat ini memiliki kekuatan magis?”
Zahrin merenung sejenak sebelum menjawab,
“Mungkin karena kisah-kisah ini, atau mungkin karena mereka merasa terhubung dengan sejarah leluhur mereka. Yang jelas, kita harus menjaga tempat ini seperti warga desa menjaga keasriannya.”
Mereka berempat duduk di tepi sendang, mendengarkan gemericik air yang mengalir. Di tempat yang tenang itu, mereka merasa seolah kembali ke masa lalu, membayangkan kejayaan Majapahit dan perjuangan para tokohnya. Petualangan mereka di Sendang Tirto Sidomulyo bukan hanya sebuah perjalanan fisik, tapi juga perjalanan memahami warisan sejarah yang tak ternilai harganya.
====================================================
Garahan, 26 Januari 2025/Ahad Pon, 26 Rajab 1446 H, 09.56 WIB


Konten pada website ini merupakan konten yang di tulis oleh user. Tanggung jawab isi adalah sepenuhnya oleh user/penulis. Pihak pengelola web tidak memiliki tanggung jawab apapun atas hal hal yang dapat ditimbulkan dari penerbitan artikel di website ini, namun setiap orang bisa mengirimkan surat aduan yang akan ditindak lanjuti oleh pengelola sebaik mungkin. Pengelola website berhak untuk membatalkan penayangan artikel, penghapusan artikel hingga penonaktifan akun penulis bila terdapat konten yang tidak seharusnya ditayangkan di web ini.
Laporkan Penyalahgunaan
