Jumari Tito, S.Pd, M. Pd

Belum menuliskan informasi profilenya.

Selengkapnya
Navigasi Web
Proyek Ambisius Kota Mandiri Cikasur Tahun 1800-an (Tentang) di Gunung Argopuro (T.344a)

Proyek Ambisius Kota Mandiri Cikasur Tahun 1800-an (Tentang) di Gunung Argopuro (T.344a)

Bayangkan saja, di puncak gunung yang tidak asing lagi di Provinsi Jawa Timur yaitu Pegunungan Argopuro yang mempunyai ketinggian 3088 mdpl tepatnya di dataran tinggi Hyang perbatasan Kabupaten Probolinggo, Situbondo, dan Bondowowso. Pegunungan Hyang membentang dari kabupaten Probolinggo, Lumajang Jember, Situbondo dan Bondowoso. Luar biasa pegunungan ini, sehingga patutlah kolonial Belanda sangat berambisi untuk membangun kota mandiri di dataran tinggi ini.

Seperti yang dilansir oleh **(censored)** bahwasanya Menurut catatan yang ditulis Junghuhn pada tahun 1854, dataran tinggi Hyang di kawasan Argopuro, yang terletak di wilayah Probolinggo dan Situbondo, memiliki karakteristik lingkungan yang menyerupai Eropa. Suhu udara, kelembapan, dan kondisi cuaca di sana dinilai sangat ideal bagi pemukiman. Catatan ini menginspirasi NB Van Der Stok dan JJ Van Gennep untuk merancang sebuah kota mandiri modern berwawasan lingkungan di Cikasur pada tahun 1895. Van Gennep, seorang pengusaha perkebunan terkenal di Jember, bekerja sama dengan Van Der Stok, seorang ahli kependudukan dari Hindia Belanda. Bersama-sama, mereka bercita-cita membangun sebuah kota yang menggabungkan teknologi modern dengan kelestarian alam di kawasan Cikasur antara tahun 1895 hingga 1900.

Kota mandiri ini direncanakan mencakup berbagai fasilitas modern seperti pembangkit listrik, rumah sakit, penginapan, serta area peternakan dan perkebunan. Bahkan, proyek tersebut melibatkan pembangunan jalur kereta api yang menghubungkan Stasiun Kraksaan dengan Rambipuji melalui Cikasur. Jalur ini dirancang untuk memudahkan transportasi dan memperkuat konektivitas kawasan tersebut. Salah satu inovasi penting yang direncanakan adalah pembangunan pembangkit listrik yang memanfaatkan aliran Sungai Daluwang. Lokasi ini menjadi bagian penting dari proyek tersebut karena menyediakan sumber daya energi untuk mendukung kebutuhan kota mandiri Cikasur.

Salah satu jejak sejarah proyek ambisius ini masih dapat ditemukan di Cikasur, berupa prototipe pembangkit listrik tenaga hidrolik di kawasan utara, dekat jalur menuju Baderan. Dalam rencana yang lebih besar, jalur kereta api ini dirancang untuk melintasi sejumlah daerah strategis seperti Pesanggrahan, Watukursi, dan area yang kini dikenal sebagai Cikasur. Kota mandiri ini juga digagas sebagai pusat pemulihan kesehatan yang menyaingi tempat-tempat serupa di Lawang, Tosari, dan Bandung. Cikasur diharapkan menjadi kawasan yang mendukung kesehatan masyarakat Eropa yang tinggal di Hindia Belanda.

Namun, medan pegunungan Hyang yang terdiri dari lembah curam dan bukit terjal membuat pembangunan jalur kereta konvensional menjadi sulit. Untuk mengatasinya, para insinyur merancang kereta gantung, yang terinspirasi dari teknologi Wuppertaler Schwebebahn di Jerman. Kereta gantung ini menjadi terobosan modern yang rencananya akan membentang dari Kraksaan ke Rambipuji melalui Cikasur. Proyek ambisius ini memerlukan investasi besar, diperkirakan mencapai 1 juta Gulden, yang akan dikerjakan oleh perusahaan Jerman, Continentale Lebensversicherung.

Sayangnya, proyek besar ini tidak pernah terealisasi sepenuhnya. Setelah beberapa tahap pembangunan selesai, termasuk jalur rel awal dan beberapa bangunan seperti rumah sakit, penginapan, dan pembangkit listrik, proyek ini akhirnya terhenti. Konsesi kawasan Cikasur kemudian dijual kepada Ladeboer, yang mengubah area tersebut menjadi lapangan terbang untuk mendukung aktivitas peternakan dan pariwisata. Jika proyek tersebut berhasil diselesaikan, mungkin kita bisa menikmati keindahan Gunung Argopuro tanpa harus menempuh perjalanan panjang sejauh 51 kilometer dengan berjalan kaki.

Walaupun hari ini proyek ambisius ini terbengkalai bahkan menurut pemikiran penulis tidak akan bisa diteruskan bahkan selamanya tidak akan terjadi. Namun, secara akal tidak akan menjangkau pola pikir anak cucu kita ke depannya yang lebih maju dalam peradapannya, siapa tahu proyek kota mandiri di Cikasur gunung Argopuro akan terealisasi di masa yang akan datang. Wallahu a'lam bissowab.

Keterangan:

Gambar 1: JJ Van Gennep

Gambar 2: Herman Neubronner Van der Tuuk

Gambar 3: Pemandangan Cikasur pada tahun 1911

Gambar 4: Para pemandu di gunung Argopuro tahun 1911

Gambar 5: Berteduh di Hyang, Argopuro.

Sumber:

**(censored)**

**(censored)**

**(censored)**

**(censored)**

===================================================

Garahan, 09 Januari 2025/Kamis Legi, 09 Rajab 1446 H, 21.54 WIB

DISCLAIMER
Konten pada website ini merupakan konten yang di tulis oleh user. Tanggung jawab isi adalah sepenuhnya oleh user/penulis. Pihak pengelola web tidak memiliki tanggung jawab apapun atas hal hal yang dapat ditimbulkan dari penerbitan artikel di website ini, namun setiap orang bisa mengirimkan surat aduan yang akan ditindak lanjuti oleh pengelola sebaik mungkin. Pengelola website berhak untuk membatalkan penayangan artikel, penghapusan artikel hingga penonaktifan akun penulis bila terdapat konten yang tidak seharusnya ditayangkan di web ini.

Laporkan Penyalahgunaan
search

New Post