Jumari Tito, S.Pd, M. Pd

Belum menuliskan informasi profilenya.

Selengkapnya
Navigasi Web
Romansa sore di kampung Pinus (T.353)

Romansa sore di kampung Pinus (T.353)

Matahari sore perlahan tenggelam di balik deretan pohon pinus yang menjulang tinggi di sekitar rumah Ningsih dan Tito. Angin sejuk menerpa wajah Ningsih yang sedang duduk di teras rumah, sambil menatap Tito yang baru saja pulang dari kerja sebagai guru di Madrasah. Tito menyuguhkan kopi Robusta di meja ketika Tito duduk diteras rumah

"Mas Tito, kita perlu bicara," katanya lembut,

Namun dengan nada penuh harap. Tito menaruh tas kerjanya di meja kecil, mengangguk, dan mengambil tempat di samping istrinya. Mata mereka bertemu sejenak, seolah ada sesuatu yang istimewa akan terucap.

Ningsih mulai mengutarakan keinginannya dengan hati-hati,

"Mas, aku kepikiran soal mobil baru. Bukan hanya untuk aku, tapi untuk kita semua. Anak-anak juga pasti lebih nyaman kalau pergi jauh, mobil lama sering diperbaiki karena kondisinya sudah mulai rapuh" ucapnya sambil tersenyum kecil.

Tito mendengarkan dengan penuh perhatian, sesekali mengangguk tanda setuju. Namun, ia tahu, membeli mobil bukan perkara kecil, apalagi dengan pengeluaran keluarga yang cukup ketat. Meski begitu, ia tak ingin mengecewakan Ningsih.

Melihat Tito terdiam, Ningsih menambahkan sesuatu yang membuatnya semakin bersemangat.

"Mas, aku juga ingin kita pergi umroh bersama anak-anak. Rasanya indah sekali kalau kita sekeluarga bisa beribadah di Tanah Suci, tabungan yang kita punya masih ditambahkn sediki lagi, insyaallah cita-cita ini akan tercapai, kita berdoa kepada Allah semoga bisa terwujud dalam waktu dekat." Mata Ningsih berbinar, membayangkan mereka berempat berjalan di sekitar Ka’bah.

Tito menghela napas panjang, merasa ada beban besar di pundaknya, tapi ia tak ingin menyampaikan rasa berat itu pada istrinya,

"InsyaAllah ma, kita berdua berusaha dan berdoa." jawabnya dengan suara pelan.

Keheningan sejenak menyelimuti mereka. Dari dalam rumah, suara anak-anak terdengar sedang bermain dan bercanda. Ningsih memandang Tito dengan penuh kasih, lalu menggenggam tangannya.

"Mas, aku tahu ini tidak mudah. Tapi aku percaya, kita bisa melewatinya bersama. Rezeki akan selalu ada selama kita terus berusaha dan berdoa." Kata-kata Ningsih menyentuh hati Tito, menguatkan niatnya untuk mewujudkan keinginan istrinya.

Malam itu, di bawah langit yang penuh bintang, Tito duduk sendiri di teras setelah Ningsih dan anak-anak tidur. Ia memandangi pohon pinus yang bergoyang lembut diterpa angin. Dalam hati, ia berjanji akan bekerja lebih keras, bukan hanya untuk memenuhi keinginan istrinya, tapi juga demi kebahagiaan keluarga mereka. Di tempat yang sederhana ini, cinta dan tekad seorang suami dan istri berpadu, mengukir cerita yang tak akan pernah pudar.

=====================================================

Garahan, 18 Januari 2025/Sabtu, 18 Rajab 1446 H, 08.34 WIB

DISCLAIMER
Konten pada website ini merupakan konten yang di tulis oleh user. Tanggung jawab isi adalah sepenuhnya oleh user/penulis. Pihak pengelola web tidak memiliki tanggung jawab apapun atas hal hal yang dapat ditimbulkan dari penerbitan artikel di website ini, namun setiap orang bisa mengirimkan surat aduan yang akan ditindak lanjuti oleh pengelola sebaik mungkin. Pengelola website berhak untuk membatalkan penayangan artikel, penghapusan artikel hingga penonaktifan akun penulis bila terdapat konten yang tidak seharusnya ditayangkan di web ini.

Laporkan Penyalahgunaan
search

New Post